Iwan Hendry Wardhana

Iwan Henry Wardhana: Buku Toponimi Jadi Narasi Pelengkap PBB Setu Babakan

INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: Buku Toponimi Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan  yang ditulis Ide Nada Imandiharja menjadi narasi pelengkap utama eksistensi PBB Setu Babakan.

Informasi yang dilesakkan di dalamnya, mengarahkan dan mengedukasi khalayak tentang identitas perkampungan tradisional masyarakat Betawi. Sebuah perkampungan yang dengan telaten merawat nilai, norma, identitas, dan kearifan yang hidup berabad-abad.

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta Iwan Hendry Wardana dalam buku tersebut menjelaskan bahwa pembangunan Perkampungan Budaya Betawi (PBB) Setu Babakan dimulai dengan peletakan batu pertama, 15 September 2000. Gubernur Provinsi DKI Jakarta Sutiyoso, Muspida, dan tokoh masyarakat Betawi mengambil peran penting pada saat itu.

Jika peletakan batu pertama pembangunan PBB dilakukan tahun 2000, maka tahun ini usianya masuk 23 tahun. Sungguh usia yang berada pada gerbang matang. Kematangannya dapat dilongok pada kampung-kampung (dulu disebut zona) sebagai sumber mata air bagi kecemerlangan kebudayaan Betawi.

Alhamdulillah, PBB Setu Babakan kini menjadi program unggulan (dedicated program) Gubernur DKI Jakarta. Aspek legalnya dituangkan dalam beberapa peraturan, antara lain: SK Gubernur No. 92 Tahun 2000 tentang Penataan PBB Srengseng Sawah, Perda No. 3 Tahun 2005 tentang Penetapan PBB di Srengseng Sawah, Pergub No. 129 Tahun 2007 tentang Lembaga Pengelola PBB, Pergub No. 151 Tahun 2007 tentang Pedoman Pembangunan PBB, Pergub No. 305 Tahun 2014 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja UPK PBB, dan Pergub No. 179 Tahun 2015 tentang Forum Pengkajian dan Pengembangan PBB.

EKSISTENSI KIAN KUAT

Imron, Abdul Syukur, Ide Nada Imandiharja

Eksistensi PBB Setu Babakan kian kuat dengan dikeluarkannya Peraturan Daerah No. 4 Tahun 2015 tentang Pelestarian Kebudayaan Betawi dan Pergub No. 229 Tahun 2016 tentang Implementasi Perda No. 4/2015. Landasan legal ini semakin kuat dengan Undang-Undang No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Dengan ketentuan perundangan dan peraturan di atas, jelaslah kedudukan, tugas, dan fungsi PBB Setu Babakan. Jelas pula bagi masyarakat Betawi sudah ada perkampungan yang merupakan tempat di Jakarta, di mana dapat ditemukan dan dinikmati kehidupan bernuansa Betawi berupa keasrian alam, komunitas, tradisi, kebudayaan, dan materi yang merupakan sumber informasi serta komunikasi kebetawian.

PBB Setu Babakan dengan cakupan luas 289 hektare, secara de jure dikelola oleh Unit Pengelola Kawasan (UPK) PBB Setu Babakan, Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta. Namun secara de facto, masyarakat pun menguasai kawasan. Oleh karena itu dikenal istilah kawasan statis dan kawasan dinamis.

KAWASAN STATIS DAN DINAMIS

Kawasan statis adalah kawasan milik pemerintah daerah yang padanya terdapat setu, fasilitas sosial dan umum, dan infrastruktur yang dibangun sebagai penunjang utama kawasan (kantor, rumah adat, museum, gedung serba guna, amphi teater, dan sebagainya). Sementara kawasan dinamis adalah kawasan yang dimiliki oleh masyarakat. Pada kawasan dinamis ini sudah eksis nama-nama tempat, bangunan, jalan, dan sebagainya jauh sebelum PBB Setu Babakan dibangun.

Buku Toponimi Kawasan Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan ini adalah kali pertama yang disusun oleh Pemprov DKI Jakarta, semenjak ditetapkannya Setu Babakan sebagai Kawasan Perkampungan Budaya Betawi.

Pemberian nama jalan, area, tempat atau kawasan, dan pulau di kawasan PBB Setu Babakan ini diperoleh dari hasil penelusuran sejarah, diskusi publik, permufakatan tokoh masyarakat bersama dari Unit Pengelola Kawasan, Forum Pengkajian dan Pengembangan (Forum Jibang) dan seluruh pemangku kepentingan hingga akhirnya disetujui oleh Gubernur DKI Jakarta.

Ia kemudian mengutip kata pepatah, “Tidak ada gading yg tak retak.” Begitu pun dengan buku ini. Tentu dimungkinkan adanya kesalahan dan ketidaksempurnaan. Untuk itu segala saran, kritik, koreksi yang sifatnya konstruktif tetap diperlukan demi kesempurnaan dan perbaikannya.

Iwan mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan kontribusi atas penerbitan buku ini.  Kami menyampaikan apreasiasi dan selamat kepada semua pemangku kepentingan hingga buku ini berada di tangan pembaca.

Ia berharap, buku ini bukanlah yang terakhir. Semoga akan lahir buku-buku selanjutnya yang bermanfaat bagi masyarakat, sehingga PBB Setu Babakan juga memiliki peran menyampaikan informasi, edukasi, kritik, dan hiburan melalui sebuah buku. “Selamat membaca,” ujar ayah dua anak itu.

 

You may also like

Comments are closed.

More in Headline