Kinerja Emiten Nikel, Laba atau Rugi?

INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: Berdasarkan laporan hasil kinerja pada parauh pertama 2023, beberapa emiten mengalami kenaikan laba. Ada pula yang labanya menurun meski pendapatannya naik.

PT PAM Mineral Tbk membukukan kenaikan laba bersih paling banyak. Dibandingkan dengan laba bersih semester I-2022, laba bersih PAM Mineral naik 19,7 persen pada semester pertama 2023. Dalam rupiah, laba bersih PAM Mineral naik dari Rp 53,88 miliar menjadi Rp 64,5 miliar.

Kenaikan laba bersih itu terjadi ketika pendapatan PAM Mineral turun 13,82 persen dari Rp 552,45 miliar pada paruh pertama tahun 2022 menjadi Rp 476 miliar pada paruh pertama tahun ini. Walaupun pendapatan menurun, PAM Mineral berhasil menurunkan beban pokok penjualan.

Sementara itu, PT Vale Indonesia Tbk membukukan kenaikan bersih sebesar 12 persen dibandingkan dengan semester I-2022. Semester pertama tahun lalu, Vale membukukan laba 150,5 juta dollar AS, lalu naik menjadi 168,5 juta dollar AS pada semester I-2023. Kenaikan laba ini sejalan dengan kenaikan pendapatannya yang naik 17 persen dari 564,5 juta dollar AS menjadi 659 juta dollar AS.

Vale Indonesia menambang nikel laterit untuk menghasilkan nikel matte. Vale saat ini fokus membangun dua fasilitas pengolahan dan pemurnian nikel di Bahodopi di Sulawesi Tengah dan Pomalaa di Sulawesi Tenggara. Ditargetkan dua proyek tersebut bisa selesai pada September mendatang.

Sementara itu, emiten pengolah nikel lainnya, PT Harum Energy Tbk, membukukan laba bersih 150,6 juta dollar AS hingga enam bulan pertama 2023. Laba tersebut naik tipis 3 persen dari 146 juta dollar AS pada semester pertama 2022.

Walaupun banyak menjual batubara, Harum Energy berencana meningkatkan pendapatan dari lini bisnis nikel. Manajemen menargetkan, kontribusi pendapatan dari bisnis nikel dapat melebihi separuh dari total perolehan laba bersih konsolidasi dalam 2-3 tahun ke depan. Melalui entitas tidak langsung, Harum mulai menambang dan mengolah bijih nikel di Weda Bay, Halmahera Timur.

Di tengah emiten yang membukukan kenaikan laba, ada juga emiten yang membukukan penurunan laba. PT Trimegah Bangun Persada Tbk membukukan kenaikan pendapatan signifikan pada semester pertama 2023, sebesar 88,7 persen.

Pendapatan naik pesat dari Rp 5,43 triliun pada semester I-2022 menjadi Rp 20,24 triliun pada semester I-2023. Pendapatan ini ditopang oleh pengolahan nikel Rp 8,58 triliun dan penambangan nikel Rp 1,65 triliun.

Di sisi lain, beban pokok pendapatan melonjak 177,4 persen dari periode yang sama tahun 2022 dari Rp 2,43 triliun menjadi Rp 6,74 triliun di semester pertama 2023. Laba bruto masih meningkat 16,8 persen dari Rp 2,99 triliun menjadi Rp 3,49 triliun pada paruh pertama 2023. Adapun laba bersih turun 15 persen dari Rp 3,21 triliun pada enam bulan pertama 2022 menjadi Rp 2,74 triliun hingga akhir Juni 2023.

Trimegah mengoperasikan dua proyek pertambangan nikel laterit aktif seluas 4.247 hektar di Kawasi dan 1.276 hektar di Loji. Kedua tambang tersebut terletak di Pulau Obi, Maluku Utara.

Emiten nikel lain, PT Central Omega Resources Tbk, membukukan kinerja yang kurang memuaskan pada pertengahan tahun ini. Laba bersih turun 30,3 persen dari Rp 60,77 miliar menjadi Rp 42,31 miliar.

Penurunan ini seiring dengan penurunan pendapatan sebesar 20 persen dari Rp 335 miliar menjadi Rp 267 miliar. Melalui anak usahanya, Central Omega telah membangun fasilitas pemurnian bijih nikel dengan kadar tinggi di Morowali Utara.

You may also like

Comments are closed.

More in Properti