Grup Djarum Mulai Merambah Bisnis Infrastruktur Telekomunikasi, Bagaimana Kiprahnya?

INDOWORK.ID, JAKARTA: Perusahaan multinasional asal Indonesia yang dikenal sebagai produsen rokok kreater Grup Djarum tengah mengembangkan portfolio baru di bidang infrastruktur telekomunikasi. Perusahaan itu bernama PT Sarana Menara Nusantara Tbk siap melakukan ekspansi.

Langkah korporasi paling anyar adalah menyiapkan sumber pendanaan untuk membiayak sejumlah proyek. Perusahaan asal Jepang MUFG Bank Ltd siap menggelontorkan dana sebesar Rp1,35 triliun. Rencana Sarana Menara Nusantara akan menyuntik modal untuk beberapa sub usaha yaitu OT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo), PT Iforte Solusi Infotek (Iforte), dan PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR).

Sekretaris perusahaan Sarana Menara Nusantara Monalisa Irawan mengatakan perusahaan akan terus melakukan ekspansi baik secara organik maupun anorganik. Namun, perusahaan tidak merinci langkah apa saja yang akan diambil.

Pemerintah Indonesia terus memberbesar anggaran belanja infrastruktur sektor telekomunikasi. Hal ini menjadi peluang tersendiri bagi perusahaan.

BISNIS TELEKOMUNIKASI

Grup Djarum telah merambah sektor teknologi dan telekomunikasi, meskipun kehadirannya dalam sektor ini tidak seprominen seperti dalam industri tembakau atau keuangan. Perusahaan ini biasanya terlibat melalui investasi modal ventura atau kemitraan strategis dengan perusahaan teknologi yang sudah ada.

Pertama, Investasi Modal Ventura: Grup Djarum, melalui lengan investasinya, seringkali menginvestasikan dana pada start-up teknologi yang menunjukkan potensi pertumbuhan yang signifikan. Hal ini tidak hanya menciptakan aliran pendapatan tambahan tetapi juga memungkinkan Grup Djarum untuk memanfaatkan inovasi dan teknologi terbaru.

Kedua, Kemitraan Strategis: Selain investasi modal, Grup Djarum juga mencari kemitraan strategis dengan perusahaan teknologi besar, baik domestik maupun internasional, untuk mengembangkan bisnisnya dalam sektor ini. Ini bisa berupa joint venture, lisensi, atau jenis kemitraan lain yang saling menguntungkan.

Ketiga, Digitalisasi Bisnis: Teknologi dan telekomunikasi juga berperan penting dalam operasional dan pelayanan Grup Djarum di sektor lain. Misalnya, Bank Central Asia (BCA), di mana Grup Djarum memiliki kepentingan, adalah salah satu pelopor dalam penggunaan teknologi perbankan digital di Indonesia.

Keempat, Infrastruktur Telekomunikasi: Meskipun informasi mungkin terbatas, ada indikasi bahwa Grup Djarum berkeinginan untuk terlibat dalam pengembangan infrastruktur telekomunikasi, yang akan menjadi aspek penting dalam ekonomi digital.

Kelima, Data dan Analitik: Seiring dengan kemajuan teknologi, big data dan analitik menjadi semakin penting dalam pengambilan keputusan bisnis. Dalam konteks ini, investasi atau kemitraan dalam solusi teknologi data mungkin menjadi fokus masa depan Grup Djarum.

Sektor teknologi dan telekomunikasi ini, meskipun relatif baru dalam portofolio Grup Djarum, menawarkan peluang untuk pertumbuhan dan inovasi. Mengingat kecenderungan global menuju digitalisasi, kehadiran dalam sektor ini akan semakin relevan bagi keberlanjutan dan pertumbuhan bisnis Grup Djarum secara keseluruhan.

Adapun tingkat keberhasilan dan dampak dari kegiatan ini akan sangat bergantung pada kemampuan Grup Djarum untuk mengidentifikasi peluang yang tepat dan mengeksekusi strategi secara efisien.

SEJARAH DJARUM

Grup Djarum berdiri sejak 1951. Oei Wie Gwan adalah sang pendiri yang mampu mentransformasikan Djarum  ke berbagai sektor industri lainnya, termasuk keuangan, properti, agribisnis, dan teknologi informasi.

Salah satu keunggulan dari Grup Djarum adalah kemampuannya untuk menyesuaikan diri dengan perubahan pasar dan regulasi. Meskipun rokok kretek tetap menjadi produk utamanya, diversifikasi bisnis yang telah dilakukan menunjukkan visi strategis dan adaptabilitas tinggi.

Pendiri Djarum Oei Wie Gwan

Pada tahun 1951, Oei Wie Gwan, seorang pengusaha Tionghoa-Indonesia, membeli perusahaan rokok NV Murup yang hampir gulung tikar di Kudus, Jawa Tengah. Perusahaan tersebut memiliki merek Djarum Gramofon. Dia menyingkat merek tersebut menjadi Djarum.

Perusahaan ini hampir punah ketika kebakaran besar menghancurkan pabrik perusahaan pada tahun 1963, diikuti oleh kematian Oei Wie Gwan. Anaknya, Budi dan Bambang Hartono, akhirnya mengambil kesempatan untuk membangun perusahaan kembali.

Awalnya, produk Djarum adalah rokok kretek lintingan tangan dan rokok kretek lintingan mesin. Kedua produk itu sangat populer dan diproduksi dalam jumlah besar. Rokok kretek lintingan tangan klasik terus dilakukan oleh Djarum menggunakan metode kuno yang dikerjakan secara manual oleh buruh terampil. Sementara rokok kretek lintingan mesin diperkenalkan pada awal tahun 1970, diproduksi secara otomatis menggunakan mesin berteknologi tinggi.

Pada pertengahan tahun 1970-an, Djarum secara resmi mendirikan Research and Development Center untuk mengembangkan produk rokoknya. Di tengah besarnya pasar domestik untuk rokok kretek, pada tahun 1972 Djarum mulai mengekspor kretek lintingan tangan dan lintingan mesin ke pengecer tembakau di seluruh dunia, yaitu ke Republik Rakyat Tiongkok, Korea, Jepang, Belanda, dan Amerika Serikat.

Produk yang sukses di pasar internasional adalah Djarum Super yang dipasarkan pada tahun 1981, dan diikuti dengan produk Djarum Special yang diperkenalkan pada tahun 1983 di Amerika Serikat.

Saat ini, Budi dan Michael Hartono adalah orang terkaya nomor satu di Indonesia menurut Forbes.

You may also like

Comments are closed.

More in Properti