Saham GOTO, Saatnya Beli Meskipun Turun Tajam

INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: Harga saham GOTO Rabu, 20 Maret 2024,  jatuh 9,72% dari 72 tutup pasar sehari sebelumnya ke 65. Penurunan terjadi bersamaan dengan saat GOTO menyebar rilis earning calls.

Tanpa memahami transaksi yang melatarbelakangi, angka-angka dalam laporan keuangan GOTO 2023 memang mengerikan. Menggiriskan. Rugi tahun berjalan naik dari Rp40,4 triliun (2022) menjadi Rp90,52 triliun (2023). Pada saat bersamaan, nilai aset turun 59% dari Rp139 triliun menjadi tinggal Rp54 triliun. Ekuitas mengalami penurunan lebih tajam, dari Rp123 triliun menjadi tinggal Rp36 triliun. Turun 71%!

Saya sempat membeli saham GOTO di Rp68 dan Rp66. Saya juga pasang bid di Rp64. Nggak kebagian.

CERDAS DAN VISIONER

Dalam penerawangan saya, Keputusan GOTO untuk melepas pengendalian pada Tokopedia (TP) merupakan keputusan yang cerdas dan visioner.

Pertama, Kolaborasi dengan Bytedance membuka peluang sinergi lain dalam jangka panjang.

Kedua, GOTO melepaskan bebannya untuk mendukung pembiayaan e-commerce TP, sehingga lebih fokus pada bisnis inti, on demand services (ODS).
Ketiga, Fokus pada ODS memberi kesempatan pada GOTO untuk – meminjam terminolgi sektor keuangan – memperluas dan memperdalam pasar. Inovasi produk, jangkauan segmen yang lebih luas dan memacu peningkatan aktivitas di masing masing segmen.

Keempat, Fokus pada bisnis inti memberikan kesempatan kepada GOTO untuk melakukan efisiensi dan pengendalian beban. Berhenti membakar duit, biaya insentif dan pemasaran yang lebih terkendali.

Kelima, GOTO akan mendapat fee bersih dari TP-Tik Tok Shop setiap kuartal. Kalau nggak salah besarnya 0,4% dari GMV Tik-tok Shop TP. Fee bersih itu langsung masuk menambah laba bersih GOTO, tiap kuartal.

Keenam, Gabungan TP dan Tik-Tok punya peluang besar untuk memacu peningkatan peserta dan aktivitas bisnis yang memacu kenaikan GMV. Menyusul Shopee yang sudah membukukan keuntungan.

KONSEKUENSI AKUNTASI

Tapi pelepasan pengendalian itu, membawa beberapa konsekuensi akuntansi.

Pertama, Aset, liabilitas dan ekuitas TP harus keluar dari Neraca Konsolidasi GOTO. Itu yang mengakibatkan aset dan ekuitas akhir 2023 menurun tajam

Kedua, Nilai Goodwill net yang belum diamortisasikan, harus dibebankan lengsung ke dalam biaya. Dalam kerugian 90,52 triliun dalam LK 2023, termasuk 78,8 triliun berasal dari pembebanan goodwill. Kalau angka itu dikeluarkan, maka kerugian bersih GOTO 2023 menurun tajam dibandingkan 2022

Ketiga, Biaya depresiasi dan amortisasi tahun tahun mendatang akan menurun sangat tajam. Bersamaan dengan ekspansi dan efisiensi saya menerawang peluang GOTO mencatat laba bersih positif pada 2024!

Keempat, Catatan tambahan: pembebanan goodwill merupakan biaya non kas. Kalau beban itu tunai, dipastikan GOTO akan default. Sementara pada akhir 2023, kas dan setara kas GOTO sangat besar. Lebih dari Rp27 triliun. Jumlah yang tak mudah untuk dinvestasikan dalam capex yang layak. Sangat wajar muncul ide buy back saham.

Kita tunggu Laporan keuangan 1Q24 akhir bulan depan.

Reformasi bisnis adalah keputusan besar. Peluang besar. Risiko besar. No pain no gain. No risk no return. No guts no glory.

*) Ditulis oleh Hasan Zein Mahmud, Redaktur Khusus Infrastruktur.co.id

What is your reaction?

0
Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly

You may also like

Comments are closed.

More in Bisnis