Pertamina Power Punya Direktur Baru Dannif Danusaputro, Apa Visinya?

INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: Sejumlah negara sudah menyatakan komitmennya untuk menurunkan emisi karbon dan beralih ke energi bersih. Termasuk Indonesia, yang telah berkomitmen untuk mencapai pengurangan emisi gas rumah kaca sebesar 29% dengan usaha sendiri dan 41% dengan bantuan dunia internasional pada 2030.

Hal ini tertuang dalam dokumen Nationally Determined Contribution yang merupakan tindak lanjut Paris Agreement yang disahkan melalui Undang-Undang RI Nomor 16 Tahun 2016.

Untuk mewujudkan transisi dari energi fosil ke energi baru dan terbarukan (EBT), diperlukan partisipasi tidak hanya dari pemerintah tetapi juga semua pihak, termasuk dunia usaha.

Sebagai bagian dari PT Pertamina (Persero), Subholding Power & New Renewable Energy (PNRE) —yang dioperasikan melalui PT Pertamina Power Indonesia— bertanggung jawab menjalankan kegiatan usaha yang terdiri dari eksplorasi dan produksi sumber EBT secara terintegrasi.

Kini di bawah kepemimpinan Dannif Danusaputro, PNRE siap mendukung percepatan bauran energi serta memenuhi kebutuhan energi bersih di dalam negeri.

Dannif yang diangkat menjadi Pemimpin Subholding PNRE dan notabene sebagai CEO Pertamina Power Indonesia pada Februari 2021 diharapkan dapat mendorong peningkatan kinerja PNRE sebagai subholding dan memperluas portofolio bisnis Pertamina di sektor EBT. Menurutnya, Pertamina harus bertransisi dari minyak dan gas sebagai bisnis utama ke arah energi baru dan terbarukan.

“Ke depan, bisnis Pertamina akan terdisrupsi,” kata Dannif seperti dikutip dari SWA. “Jadi, tugas PNRE adalah mempersiapkan diri bahwa business as usual akan berubah.”

Untuk mengoptimalkan potensi EBT di Indonesia, PNRE akan membangun proyek-proyek EBT sesuai dengan Rencana Umum Energi Nasional 2021-2030 yang diterbitkan oleh Kementerian ESDM. Di samping itu, juga akan mengerjakan proyek-proyek EBT untuk keperluan captive market Pertamina. Salah satunya, penyediaan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di lokasi-lokasi operasi Pertamina Group yang tersebar dari hulu ke hilir, seperti di fasilitas operasi dan SPBU.

Hingga saat ini PNRE telah memiliki portofolio proyek energi bersih, yakni PLTS Sei Mangkei (Sumatera Utara) dengan kapasitas 2 MW; PLTS Badak (Kalimantan Timur) 4 MW; PLTS Cilacap (Jawa Tengah) 1,4 MW; PLTS Dumai (Riau) 2 MW; dan beberapa PLTS SPBU.

Selain itu, melalui afiliasinya, juga memiliki proyek Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) Jawa-1 yang saat ini progress-nya sudah mencapai tahap akhir dan dikelola oleh afiliasi usahanya, PT Jawa Satu Power. Portofolio lainnya: Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) 2 MW di Sei Mangkei serta portofolio bisnis panas bumi yang dikelola oleh anak usahanya, PT Pertamina Geothermal Energy (PGE), dengan kapasitas terpasang 672 MW.

Tidak hanya itu, menurut Dannif, untuk mengantisipasi tren kendaraan listrik (electric vehicle/EV) yang akan berdampak pada penurunan permintaan bahan bakar minyak (BBM), Pertamina akan masuk ke bisnis baterai kendaraan listrik. Pertamina akan berperan dalam hal manufacturing produk hilir, meliputi pembuatan sel baterai, battery pack, dan Energy Storage System.

Dannif mengungkapkan, Kementerian BUMN sudah membentuk inisiatif, yaitu Indonesia Battery Corporation (IBC). Pertamina Group aktif di dalamnya sebagai salah satu shareholder, terutama di sisi hilir untuk mempersiapkan infrastruktur terkait standardisasi baterai hingga prosedur recharge.

“Kami sedang menyiapkan infrastrukturnya, karena ini akan mendisrupsi existing business Pertamina yang benar-benar terasa di masyarakat,” kata pria bergelar Master of Business Administrations dari New York University itu.

PNRE memiliki target bauran energi bersih hingga tahun 2026 sebesar 10 gigawatt. Menurut rincian Dannif, target angka tersebut akan berasal dari gas to powerrenewable energyEV ecosystem, dan inovasi energi bersih lainnya.

Dia mengakui, masuknya dirinya ke Subholding PNRE merupakan steep learning curve. Namun, mantan Dirut Mandiri Sekuritas ini mengaku telah memiliki sejumlah pengalaman mengover pembiayaan di sektor energi, migas, dan tambang.

“Hal itu sangat membantu, karena untuk bisa melakukan strukturisasi pembiayaan, diperlukan pemahaman dari industri tersebut,” katanya. “Meski begitu, energi baru dan terbarukan merupakan sektor yang baru, bahkan tidak banyak talent di bidang ini,” tambahnya.

Untuk itu, Dannif mengungkapkan, Pertamina melalui unit fungsional Research & Technology Innovation terus melakukan pengembangan di dalam perseroan, khususnya pada aspek people. Dia pun memprioritaskan pengembangan dari sisi talenta sebab, menurutnya, EBT merupakan masa depan kita semua.

“Kami akan menarik anak-anak muda yang memiliki passion dan ketertarikan yang besar pada bidang ini. Sebab, kami ingin tumbuh bersama orang-orang yang memiliki keyakinan bahwa renewable energy adalah masa depan,” katanya.

Satu hal yang juga tidak luput dari sorotan PNRE adalah potensi energi hidrogen. Dannif menyampaikan bahwa pengembangan energi hidrogen di dunia sedang tumbuh karena hidrogen tidak menghasilkan emisi karbon. Di Indonesia, energi hidrogen masih dalam tahap penelitian dan belum masuk tahap komersialisasi. Ia berharap bangsa ini tidak ketinggalan dan hanya menjadi penonton di negara sendiri.

PNRE pun akan berkolaborasi dengan berbagai pihak: regulator, PLN, penyedia teknologi, dan berbagai institusi yang berperan dalam sektor EBT, sehingga pihaknya menjadi bagian dari ekosistem yang terus berkembang ini. “Kami tidak akan melakukan semua pekerjaan sendirian, tetapi akan berkolaborasi dengan mitra-mitra strategis agar transisi energi bersih lebih cepat terwujud,” kata Dannif.

What is your reaction?

0
Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly

You may also like

Comments are closed.

More in EPC