Begini Lho, yang Trend dan Kuno di Pasar Baru

INFRASTRUKTUR.CO.IDM JAKARTA: Sabtu, 11 Juni 2022, saya ketemuan dengan dua kawan di Pasar Baru. Satu teman dosen yang sudah berteman sejak di kampus, satu lagi teman kami sealmamater yang baru pensiun jadi Pemred sebuah harian di Jakarta.
Itu pertama kali saya ke pusat Jakarta dalam dua tahun ini. Dua tahun saya menghabiskan waktu di rumah, bersembunyi dari kengerian pandemi Covid yang entah bagaimana bisa lenyap begitu saja. Saya merasa seperti orang asing di kota ini. Terlebih melihat tempat kami bertemu.
Kami ngopi dan makan pisang goreng di bekas Gedung Filateli di belakang Gedung Kesenian Jakarta, Jl. Pos, yang kini dirubah jadi landmark wisata bertema klasik-modern dan diberi nama Pos Bloc.

INSTRAGRAGMABLE DAN KEKINIAN

Bangunan tua milik PT Pos itu kini ditata dengan interior-eksterior serta tata lampu cantik, menjadi café-café dan stand-stand UMKM, dari dalam bangunan hingga ke halaman belakang. Sangat instragramable dan kekinian. Banyak anak muda nongkrong. Sebagian sambil kerja. Saya terpesona melihat metamorfosa yang kekinian itu.
Mau pulang, kami jalan kaki ke Pasar Baru. Dan saya terbengong. Tempat perbelanjaan yang tersohor sejak zaman Belanda itu tampak sepi, gelap, dan kumuh. Banyak toko yang sudah tutup. Tidak ada lagi mundar-mandir orang belanja. Astaganaga!
Dalam benak saya sepotong jalan Pasar Baru yang menembus Jl. Pos dan Jl. Samanhudi itu adalah tempat perbelanjaan vintage yang tak tergerus zaman. Boleh saja muncul banyak mal dan pusat perbelanjaan mewah di Jakarta. Tapi Pasar Baru tetap hidup dan didatangi orang untuk membeli tekstil, tas, sepatu, jam, atau alat-alat olahraga elit, seperti tenis dan golf. Oya, kami wartawan dan penggemar fotografi dulu suka mencari kamera dan perlengkapannya di situ.

MENYEDIHKAN

Sungguh, saya tidak mengira kondisi pandemi Covid melibas tempat perbelanjaan bersejarah ini. Tiba-tiba saya merasa sedih. Pusat ekonomi yang legendaris dan kuat kok bisa seperti ini? Tiba-tiba saya merasa, ternyata bukan hanya hidup saya yang menyedihkan…
Ditulis oleh Nestor Tambunan, Founder Jakarta Weltevreden

You may also like

Comments are closed.

More in Properti