Gonjang-ganjing Bank Panin dan Danamon Sumber Cuan yang Memikat

INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: MUFG luar biasa. Beberapa tahun lalu, bank terbesar Jepang itu, mengambil alih BDMN. Kalau nggak salah ingat, pada harga cukup tinggi, di atas Rp 9.000 per saham. Merosotnya harga saham BDMN di rata rata sekitar Rp 2.300, selama tahun ini, tak membuatnya kapok.

Bisa dipahami di dalam negeri mereka pertumbuhan ekonomi lamban dan tingkat bunga super rendah.

Kini santer berita, MUFG akan mengambil alih PNBN. Harga dua saham terberita – BDMN & PNBN -langsung bergerak naik.

PANIN MANGGUNG

Grup Panin memang sedang manggung. Mulai dari berita tentang akan ada dividen jumbo, setelah 17 tahun berpantang dividen, mengerek saham saham grup milik MAG tersebut.  Realisasinya, dividend yield PNBN sedikit di atas 1%. Lalu dilanjutkan dengan akuisisi internal grup. Diteruskan oleh berita rencana pengambil-alihan PNBN.

Padahal rumor sebaliknya – terkait pemegang saham besar lainnya, ANZ – beredar bertahun-tahun. ANZ, pemilih 38,8% sudah sangat lama menyatakan rencananya untuk keluar dari PNBN. (Perkiraan saya sebabnya karena pengendali sangat pelit dalam berbagi posisi di kepengurusan, haha). Tapi hingga saat ini masih tercantum dalam daftar pemegang saham atas nama VOTRAINT Pte, Ltd.

Pengambil alihan PNBN – kalau benar menginginkan mayoritas – mengharuskan MUFG tidak hanya mengambil porsi PNLF (46,04%) tapi tentu juga milik ANZ Grup.

BANK DANAMON STABIL

Konsekuensi selanjutnya, selain kewajiban tender offer atas saham PNBN, juga kewajiban merjer antara BDMN dan PNBN. Sebuah bank raksasa baru akan lahir.

Saham PNBN selama setahun terakhir sudah naik lebih dari dua kali lipat. Bahkan hampir tiga kali bila dihitung dari harga saham terendah setahun terakhir, Rp720. Sementara saham BDMN bergerak relatif stabil di rentang Rp2.000-3.000

Gonjang ganjing salah satu sumber cuan yang memikat!

 

Ditulis oleh Hasan Zein Mahmud,  investor ritel.

You may also like

Comments are closed.

More in Properti