Inflasi Tinggi Mencekik Produsen, Mari Siap-siap!

INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: Penyebab terjadinya inflasi adalah karena beberapa faktor seperti tingginya permintaan, jumlah uang beredar, naiknya biaya produksi hingga faktor luar negeri.

Inflasi, yang moderat (walking inflation), sejatinya adalah sahabat ekonomi. Tanda bahwa ekonomi bergerak dan dinamis. Berita bagus juga. Karena sering terjadi bersamaan dengan pertumbuhan ekonomi.

Menurut ekonom Hasan Zein Mahmud, Konsumen berbelanja lebih banyak barang dan jasa. Produsen memesan lebih banyak bahan mentah dan bahan pembantu. Ekonomi terpacu!

Tapi inflasi yang tinggi – running inflation, hyperinflation, stagflation, – adalah hantu ekonomi. Seperti jin yang keluar dari lampu aladin. Perkasa, bisa menentukan banyak hal dan tak mudah menggiringnya masuk kembali ke dalam lampu.

Inflasi yang tinggi merampok bujet rumah tangga. Harga energi rumah tangga naik. Harga pangan, kebutuhan pokok dan kebutuhan lain juga naik. Biaya transportasi naik. Daya beli turun. Nilai tabungan merosot, ujar Direktur Utama PT Bursa Efek Jakarta 1992-2996 tersebut.

Para pensiun dan pegawai berpenghasilan tetap dan terbatas, terlempar ke garis marjinal. Rakyat yang marjinal terperosok menjadi miskin. Boleh jadi beberapa jesnis aset mengalami kenaikan harga, misalnya real estate. Sayangnya bagi sebagian besar orang, kenaikan itu tidak menambah daya beli. Bagi sebagian yang lain, membuat aset tersebut semakin tak terjangkau.

MENCEKIK PRODUSEN

Hasan Zein Mahmud

Inflasi yang tinggi juga mencekik produsen. Harga bahan baku dan bahan pembantu naik, sementara harga barang jadi belum tentu bisa dinaikkan. Tingkat bunga naik. Biaya dana naik. Beban keuangan dan ancaman gagal bayar. Perencanaan usaha menjadi semakin sulit bersamaan dengan ketidakpastian masa depan.

Runyamnya, kebijakan moneter- dan fiskal – berayun ke ekstrim pendulum. Saat pandemi, untuk menolong masyarakat lapisan bawah dan menjaga gerak ekonomi, kebijakan moneter dibuat superlonggar, kebijakan fiskal berlimpah stimulus

Superinflasi menggiring kebijakan fiskal dan moneter menjadi ketat. Likuiditas mengering. Pengeluaran menurun. Ekonomi ikut terkerek ke bawah.

DERETAN RENDAH

Inflasi di Indonesia – bersyukur – masih masuk deretan rendah. Inflasi 4,4% (YoY) pada Juni memang sudah melampaui target APBN.  Namun masih jauh di bawah negara-negara maju di Uni Eropa, Amerika Serikat, Kanada dan Meksiko. Ekonomi komoditas kali ini menunjukkan berkahnya.

Seperti virus covid, inflasi tinggi itu menular. Begitu juga resesi ekonomi yang membuntut di belakangnya. Mari kita bersiap siap!

You may also like

Comments are closed.

More in Properti