Pekerja Hutama Karya Hadapi Risiko Garap Tol Terbanggi Besar-Pematang Panggang

INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: Bentang alam Sumatra merupakan tantangan tersendiri bagi para pekerja yang terlibat dalam pembangunan JTTS. Bukit-bukit batu kerap kali dijumpai pada titik perlintasan tol yang harus diatasi dengan berbagai cara. Belum lagi area rawa yang tersebar di banyak wilayah, terutama terselip antara daerah pesisir pantai dan pegunungan.

Pembangunan tol yang merambah Sumatra kerapkali menghadapkan pekerja dengan tantangan rimba raya, sebab perlintasan seringkali di kelilingi hutan serta wilayah konservasi.“Bahkan tantangan itu hadir sejak awal pelaksanaan, jalur jalan belum ada dan lokasi merupakan rawa serta perkebunan sawit. Seringkali mobil yang digunakan tim terjebak lumpur, hingga membutuhkan waktu berjam-jam untuk mengeluarkannya,” kenang Suyanto, salah seorang Anggota Tim Lapangan pada Ruas Tol Terpeka.

Suyanto merupakan salah satu Insan Hutama yang ikut proses “babad alas”. Berminggu-minggu dirinya bersama rekan lainnya berbagi tempat tidur di dalam mobil. Tidak jarang tim PT Hutama Karya (Persero) (Hutama Karya) bermalam di tengah-tengah perkebunan sawit yang lebat karena harus memastikan proses lapangan berjalan sesuai rencana.

Selama meretas Ruas Tol Terpeka, para pekerja mengalami kesulitan yang cukup berat dalam mengatasi area rawa, lahan gambut, dan perkebunan sawit. Tim perintis pembangunan sama sekali tidak dimanjakan akses jalan proyek, melainkan harus memulai sesuatunya dari nol. “Trase jalan tol yang jauh dari jalan nasional lebih dari 25 kilometer, dengan jalan masuk yang masih berupa jalan tanah diperlukan usaha yang jauh lebih keras dibandingkan dengan lokasi jalan tol lain yang jarak trasenya dekat dengan jalan nasional,” kenang Suyanto. Tidak mengenal lelah dan menyerah, para pekerja Hutama Karya itupun akhirnya mampu mengatasi problem tersebut. Pada akhirnya, kata Suyanto, para pekerja di lapangan tetap melakukan pekerjaan apapun hambatannya di lapangan.

Perjuangan Para Pekerja

Pengalaman serupa juga dikisahkan Bambang Eko, yang kini dipercaya sebagai Project Director Ruas Tol Pekanbaru-Bangkinang. Selama pembangunan Tol Terpeka, Bambang dan tim harus keluar-masuk lokasi pembangunan hanya dengan menggunakan perahu kecil hingga rakit bambu. “Saat kondisi hujan dan banjir karena lokasi di daerah rawa kami harus berjalan di timbunan tanah yang lembek,” kata Bambang. Kisah lain bagi tim Hutama Karya pada ruas Ruas Tol Terpeka adalah waspada terhadap hewan liar karena berada di tengah-tengah daerah tak berpenghuni. “Seringkali harus bersembunyi dan lari dari binatang buas seperti babi hutan,” kisah Bambang.

Di lain sisi, sebagai pekerja lapangan, setiap Insan Hutama mengerti betul risiko yang diambil. Bahkan kehidupan seperti “nomaden” seringkali dijalani tidak saja oleh para pekerja melainkan pula seluruh anggota keluarga. Hal tersebut diungkapkan Noverma Dwi Saputra. Sosok yang kini dipercaya sebagai Asman Quality Engineer Ruas Tol Indralaya-Prabumulih itu mengakui tantangan terbesar bagi pekerja lapangan, yaitu terpisah jauh dengan keluarga. Dia mengungkapkan perasaan seperti itu akan membuat nyaman para pekerja, karena hambatan psikologis tidak bisa menghalangi profesionalitas.

Tantangan Alam

Berbagai macam persoalan lapangan harus bisa diatasi dengan cepat sekaligus tidak mengundang gejolak maupun hal kontraproduktif. Di lapangan, Tim Hutama Karya menjalani banyak lika-liku dalam menyukseskan proyek. Tantangan alam merupakan momok setiap waktu. Dalam proses melakukan opname patok merah sebagai centerline, tim Hutama Karya harus waspada dengan serangan ular hitam maupun biawak liar.

Tidak terhitung sudah berapa banyak Insan Hutama bertaruh nyali dan merapal doa sewaktu harus menembus daerah asing. “Itu tadi, kuncinya kami menganggap anggota tim adalah keluarga, jadi bisa saling menguatkan,” ujar Noverma.

Mentalitas Insan Hutama juga diuji dalam menghadapi gejolak sosial yang berpotensi muncul selama proses awal pembangunan tol. Selain kuat secara mental, para pekerja lapangan inipun harus terbiasa banyak akal untuk membangun komunikasi serta hubungan yang baik secara sosial kepada warga sekitar. “Kalau sedikit gangguan dari oknum warga pasti ada, tetapi dengan komunikasi yang baik bisa diselesaikan, namun kami juga menghadapi ancaman pencurian aset serta peralatan pembangunan. Karena itu kami juga melibatkan aparat keamanan,” kata Noverma.

You may also like

Comments are closed.