Para Pelopor Otomotif Nasional, Siapa?

INDOWORK.ID, JAKARTA: Perkembangan industri otomotif di Indonesia tak dapat dilepaskan dari dua kelompok usaha besar PT Astra International Tbk yang didirikan pada Februari 1957 dan PT Indomobil Sukses Internasional Tbk yang didirikan pada November 1997. 

Kedua kelompok usaha ini mendominasi pasar otomotif di Tanah Air, dengan total pangsa pasar sekitar 70 persen lewat merek-merek otomotif yang dikelolanya, terutama merek otomotif asal Jepang. 

Grup Astra menjadi pemain utama industri otomotif

Grup Astra memiliki pangsa pasar rata-rata 51 persen per tahun dengan dua kontributor utama berasal dari merek Toyota dan Daihatsu di segmen kendaraan penumpang.  Saat ini, Astra mengelola beberapa merek otomotif di Indonesia, yakni Toyota, Daihatsu, Isuzu, Peugeot, dan UD Trucks, serta menjadi distributor mobil premium merek BMW.  

Astra telah menjadi proxy to the nation, karena memiliki fasilitas strategis bagi industri otomotif Indonesia, seperti pabrik PT Astra Daihatsu Motor di Sunter dan Karawang dengan total kapasitas produksi 530.000 unit per tahun dan pabrik PT Isuzu Astra Motor Indonesia (Karawang) dengan kapasitas 52.000 unit per tahun. 

Bahkan pabrik ADM di Karawang adalah satu-satunya pabrikan otomotif yang memiliki fasilitas research and development (R&D) center terlengkap dan terbesar di Indonesia. Fasilitas tersebut telah melahirkan mobil low-cost green car (LCGC) Astra Daihatsu Ayla, yang didesain oleh anak bangsa bernama Mark Wijaya. 

Pada 2017, anak usaha Astra Group, PT Astra Otoparts Tbk, melakukan ekspor Wintor, alat angkut multiguna khusus untuk perkebunan buatan lokal, dengan kandungan komponen lokal 86 persen. Tujuan ekspor perdana produk ini adalah Malaysia. 

Pada 2018, melalui anak usaha yang lain, PT Kreasi Mandiri Wintor Indonesia, Astra meluncurkan Alat Mekanis Multiguna Pedesaan (Ammdes) sebagai alat transportasi pertanian di desa-desa seluruh Indonesia. 

Penjualan ekspor produk otomotif Astra Group setiap tahun rata-rata lebih dari 100.000 unit mobil utuh (CBU) dan lebih dari 600.000 kendaraan (termasuk di antaranya sekitar 300.000 CKD untuk sepeda motor).

Pasar ekspornya menjangkau wilayah yang luas, mulai dari Asia (Filipina, Malaysia, Vietnam, dan Thailand), Timur Tengah (UAE, Saudi Arabia), Amerika (Meksiko), hingga Afrika (Afrika Selatan). Volume ekspor produk otomotif Astra hampir 80 persen terhadap ekspor produk otomotif nasional.  

Dalam dua tahun terakhir, 2018-2019, industri mobil di Indonesia mengalami perubahan yang semakin cepat dengan beberapa pengembangan strategis yang dilakukan oleh para pemainnya dan tren baru yang juga semakin menambah persaingan antar pemain. Astra (terutama Toyota dan Daihatsu) tetap menjadi pemimpin pasar, walaupun menurun secara bertahap dari 55 persen pada 2016 menjadi 50,6 persen pada 2018 dan 52 persen pada 2019—Toyota menempati peringkat pertama dengan pangsa pasar 32 persen, disusul Daihatsu 17 persen, dan Mitsubishi 15 persen.

Prijono Sugiarto, Presiden Direktur PT Astra International Tbk periode 2010-2020, kini berperan sebagai Presiden Komisaris Astra

Indomobil menjadi salah satu pelopor di industri otomotif

Kelompok usaha besar lain di industri otomotif Indonesia adalah Indomobil Group melalui PT Indomobil Sukses Internasional Tbk –hasil penggabungan usaha (merger) antara PT Indomobil Investment Corpora dan PT Indomulti Inti Industri Tbk. Kelompok usaha ini dikendalikan oleh Anthoni Salim lewat Gallant Venture Ltd. 

Menurut laporan tahunan Indomobil yang diterbitkan 2020, Indomobil memegang merek-merek otomotif internasional seperti Audi, Hino, KIA, Nissan, Suzuki, Volkswagen (VW), Volvo Bus, Volvo Trucks, dan Renault Trucks. Perseroan itu juga memegang merek-merek internasional alat berat seperti Kalmar, Volvo Penta, SDLG, Manitou, John Deere, dan sebagainya.

Pada akhir 2019, Indomobil menambah portofolio bisnis otomotifnya dengan menjadi importir dan distributor kendaraan KIA asal Korea Selatan lewat anak usaha PT Kreta Indo Artha. 

Dari banyak merek global tersebut, merek Suzuki merupakan tulang punggung Indomobil Group di bisnis kendaraan penumpang dan niaga ringan, dengan pangsa pasar sekitar 12 persen atau berada di peringkat keempat secara nasional. 

Suzuki memulai bisnisnya di Indonesia pada 1970–genap berusia 50 tahun pada Desember 2020. Pada 2019, Suzuki telah memproduksi lebih dari 11 juta unit sepeda motor dan 2,5 juta mobil dengan penyerapan komponen lokal rata-rata di atas 80 persen. Aneka produk otomotif itu dipasok lebih dari 400 perusahaan komponen dalam negeri.

Suzuki Indonesia juga mengekspor produknya ke 85 negara di dunia dengan total volume lebih dari 1,3 juta  unit dan telah menciptakan lebih dari 5.000 lapangan kerja untuk masyarakat.

Suzuki termasuk perintis di industri otomotif Indonesia dengan membangun fasilitas perakitan di Pulo Gadung, Jakarta Timur, pada 1970-an. Seiring perkembangan pasar domestik dan pasar ekspornya, Suzuki Indonesia kini memiliki empat lokasi pabrik, yakni Cakung, Tambun 1, Tambun 2, dan Cikarang.

Pabrik Cakung dan Cikarang juga untuk memproduksi mesin dan transmisi. Seluruh pabrik tersebut memproduksi model kendaraan yang populer di pasar Indonesia seperti New Suzuki Carry Pick Up, Suzuki Ertiga, dan All New Suzuki XL7 yang baru dipasarkan Februari 2020. Selain itu, model Suzuki APV dan Karimun Wagon R juga diproduksi di pabrik Indonesia. 

Menurut data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), kapasitas terpasang produksi mobil Suzuki di Indonesia mencapai 320.000 unit, nomor dua terbesar di Indonesia setelah Daihatsu. Namun, volume produksinya saat ini baru 125.000 unit dengan tujuan pasar domestik dan ekspor.

Herman Z Latief

Berikut ini nama beberapa tokoh atau industriawan yang gigih dan bekerja keras membangun merek otomotif sejak awal hingga merek itu menjadi besar di industri otomotif Indonesia saat ini.  Keberhasilan mereka tersebut sangat meyakinkan para principal merek untuk memilih dan menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara basis produksi mereka di dunia. 

Nama-nama ini ditulis karena mereka lah para perintis di industri otomotif Indonesia, tanpa mengecilkan kontribusi nama-nama lain yang juga bekerja keras membangun industri otomotif nasional, seperti Herman Z Latief, Bambang Trisulo, dan sebagainya.