Jasa Marga Pertahankan Pangsa Pasar Dengan Keunggulan Bersaing Berkelanjutan

INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: Keunggulan bersaing berkelanjutan (sustainable competitive advantage) menjadi target utama perusahaan untuk dapat dibangun, dijaga dan diperkuat dalam organisasi perusahaan.

Tanpa adanya competitive advantage akan dapat dipastikan perusahaan tidak akan mampu memenangkan persaingan, mempertahankan pangsa pasar, menjaga serta meningkatkan profitabilitas perusahaan. Keunggulan bersaing suatu perusahaan dapat berupa produk yang berkualitas tinggi, harga yang murah, delivery yang handal, inovasi, social dan network capital, pelayanan yang prima, teknologi yang dikuasai, aset dan size perusahaan, dan bahkan reputasi perusahaan yang tinggi.

Suatu perusahaan dapat memiliki satu atau beberapa keunggulan bersaing sebagai modal untuk memenangkan persaingan. Dalam konteks persaingan dinamis (dynamic competition), keunggulan bersaing bukanlah dimensi absolut.

Bukan hanya dalam konteks perusahaan memiliki atau tidak, tetapi perlu diletakkan dalam konteks relatif dibandingkan dengan pesaingnya. Misalnya, suatu perusahaan tidak dapat mengklaim memiliki keunggulan bersaing meskipun perusahaan tersebut memiliki produk yang berkualitas tetapi produk pesaingnya jauh lebih berkualitas dengan harga yang sama.

Era Persaingan Yang Dinamis

Keunggulan bersaing suatu perusahaan tidak akan bertahan lama dikarenakan perilaku ‘me-too’ atau ‘mimetic’ dari para pesaingnya. Strategi memproteksi keunggulan bersaingan (e.g., karakteristik produk/layanan, teknologi, proses produksi) melalui perlindungan Intellectual Property (IP), lisensi dan Franchising juga semakin sulit ketika para pesaing melakukan strategi meniru secara kreatif (creativemimetic).

Dengan merubah, menambah atau melakukan sedikit penyesuaian, maka keunggulan produk/jasa atau proses produksi akan dengan cepat hilang di pasar. Hal ini menyebabkan siklus keunggulan bersaing menjadi lebih pendek dikarenakan sekali produk baru diluncurkan di pasar maka dalam waktu cepat akan menjadi standar di industri tersebut.

Hal ini membuat perusahaan untuk bisa terus menerus memiliki keunggulan bersaing maka yang harus dilakukan adalah kemampuan untuk secara permanen memperbaharui keunggulan bersaing yang sudah dimiliki. Pakar manajemen strategik yaitu Bartlett dan Ghoshal (2002) berpendapat bahwa human-capital merupakan faktor penting, kalau tidak yang utama, bagi keunggulan bersaing perusahaan.

Dalam perspektif ini, kompetensi, skill dan knowledge yang dimiliki dan dikembangkan oleh karyawan merupakan aset terbesar dan terpenting perusahaan. Kreativitas, inovasi dan produktivitas karyawan untuk terus menerus melakukan perbaikan terus menerus (continuous improvement) merupakan faktor utama suatu perusahaan menjadi pemimpin di suatu industri dan sekaligus mampu untuk mempertahankan dalam jangka panjang.

Human Capital Sebagai Sistem Perusahaan Yang Kondusif

Namun, hal tersebut tidak akan terjadi secara otomatis. Diperlukan sistem, prosedur, skema reward and punishment, kepemimpinan, dan bahkan budaya perusahaan yang mampu menunjang tumbuh berkembangnya daya kreativitas, inovasi dan produktivitas karyawan. Tidak akan pernah ada human-capital tanpa sistem dan budaya perusahaan yang baik dan kondusif.

Hal ini sangat di sadari oleh Jasa Marga. Sebagai perusahaan BUMN, bisnis Jasa Marga sangat tergantung dari sejauh mana SDM mampu menyesuaikan dengan setiap perubahan yang terjadi.

Cara kerja karyawan Jasa Marga berubah secara drastis dengan adanya UU No 38 Tahun 2004 dan di tahun 2007 menjadi perusahaan terbuka yang pengelolaannya harus mengedepankan prinsip-prinsip transparansi, keterbukaan dan profesionalisme. Tantangan merubah mindset, sistem dan tata cara kerja dari hal-hal yang sifatnya birokratis seperti budaya senioritas, sentralistik pengambilan keputusan, dan formalistik menjadi cara kerja baru yaitu budaya meritokrasi, desentralisasi pengambilan keputusan dan budaya kolegial telah dijawab secara baik oleh Jasa Marga.

Meninggalkan budaya birokratis menjadi budaya berorientasi pasar (market-oriented) bukanlah hal yang sederhana bagi suatu perusahaan plat merah. Bahkan banyak studi di berbagai negara menunjukkan kegagalan transisi perusahaan plat merah menjadi perusahaan yang mengedepankan good-governance.

SDM Jasa Marga Merupakan Faktor Penting

Jasa Marga telah menunjukkan keberhasilan dalam merubah secara radikal tata cara pengelolaan SDM untuk menjawab tantangan dan peluang bisnis perusahaan. Direktur Sumber Daya dan Umum Jasa Marga Kushartanto Koeswiranto menyatakan komitmen perusahaan untuk terus mengembangkan dan mengoptimalkan SDM.

Tidak hanya kesadaran bahwa SDM merupakan aset terbesar dan terpenting perusahaan, namun komitmen perusahaan dalam melakukan transformasi di bidang human-capital merupakan faktor penting bagi Jasa Marga untuk terus membangun fondasi keunggulan bersaing saat ini dan di masa mendatang. Komitmen dalam melakukan transformasi human-capital tercermin dari sejumlah program yang sudah dan sedang dijalankan.

Program-program tersebut seperti adanya Jasa Marga Learning Institute (JMLI), Program Alih-Profesi (A-Life), Competency Based Human Ressources Management (CBHRM), Training Need Analysis (TNA) dan Program Bidik Jabatan. Melalui program-program strategis tersebut, Jasa Marga menjadi semakin percaya diri untuk menjawab tantangan dan peluang baik dari sejumlah penugasan dari pemerintah, investor, maupun ekspektasi akan pelayanan prima dari konsumen dan masyarakat.

Jasa Marga Selalu Berkembang dan Inovatif

Bisnis Jasa Marga di masa mendatang sangat ditandai dengan perubahan yang sangat cepat dan membutuhkan respons yang real-time. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi serta semakin besarnya kelas menengah di Indonesia membuat Jasa Marga sesemakin dituntut untuk mampu melakukan terobosan-terbosan dalam pembangunan dan pengelolaan jalan Tol di Indoensia.

Tugas dan fungsi ini hanya akan dapat dilakukan oleh Jasa Marga ketika strategi pengembangan SDM Jasa Marga berorientasi pembangunan human-capital. Sejarah masa lalu Jasa Marga telah berhasil mentransformasi budaya birokratis menjadi budaya inovatif.

Dan dengan sejumlah program-program strategis pengembangan SDM yang tengah berjalan saat ini, maka kita dapat optimistis bahwa Jasa Marga dapat menjadi perusahaan BUMN yang akan terus maju, berkembang dan kompetitif di masa mendatang.

 

You may also like

Comments are closed.

More in Bisnis