Rista Lahir di Kampung Akuarium, Ayah Bugis Ibu Jawa

JAKARTA, INFRASTRUKTUR.CO.ID: Rista, 40, yang lahir di Kampung Akuarium dari pasangan ayah berasal dari Bugis dan ibu keturunan Jawa, merasa bahagia setelah pindah ke rumah barunya.

Meski harus membiasakan diri naik tangga karena di rumah susun itu tidak ada lift, ia girang lantaran pekerjaannya sebagai pedagang dapat dilanjutkan setelah tergusur 6 tahun lalu.

Ibu dua anak itu bercerita bahwa ia merasa betah dan nyaman di rumah barunya. “Saya anak kedua dari tiga bersaudara, kakak dan adik saya juga lahir di kampung ini.”

CERITA RISTA

Pembangunan Blok Kampung Susun terus berlanjut

Cerita Rista mengingatkan kita akan sejarah kampung yang berada di wilayah Penjaringan, Jakarta Utara itu. Ia menjadi sorotan publik setelah Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memutuskan membangun kembali perkampungan padat penduduk tersebut. Walaupun mendapat kritik dari sejumlah anggota DPRD DKI Jakarta, Anies tetap melanjutkan pembangunan Kampung Akuarium.

Pembangunan Kampung Susun Akuarium merupakan bagian dari penataan 21 kampung prioritas sesuai Keputusan Gubernur Nomor 878 tahun 2018 tentang Gugus Tugas Pelaksanaan Penataan Kampung dan Masyarakat.

Kampung susun itu dibangun di tanah seluar 10.300 meter persegi dengan total 241 unit hunian. Pembangunan Kampung Susun Akuarium kini masih berlanjut. Suara alat berat berdentuman menandakan proyek itu terus dikerjakan.

DANA PENGEMBANG

Adapun sumber dana pembangunan ini tidak murni bersumber dari angaran pendapatan belanja daerah (APBD) Provinsi DKI Jakarta, melainkan direncanakan dari dana kewajiban pengembang senilai Rp62 miliar.

Sebelum populer sebagai perkampungan kumuh dan padat penduduk, pada zaman kolonial Belanda, Kampung Akuarium dikenal sebagai lokasi laboratorium milik Belanda.

Awalnya sebuah laboratorium Belanda semi permanen pernah dibangun pada 1905 di utara Pasar Ikan (kini Kampung Akuarium) yang digunakan untuk penelitian laut atau sekarang dikenal sebagai Oseanografi dan merupakan bagian dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Sementara itu, berdasarkan catatan Oseanografi LIPI, sejarah Kampung Akuarium berawal dari 10 Januari 1898. Kala itu, Dr. J. C. Koningsberger yang menjabat sebagai kepala Laboratorium Zoologi Pertanian bagian dari Kebun Raya Bogor milik pemerintah kolonial Hindia-Belanda, memiliki ketertarikan meneliti fauna darat dan fauna laut.

Dia kemudian mencari lokasi yang tepat untuk mendirikan sebuah laboratorium penelitian fauna laut. Dia pun memilih sebidang tanah tepatnya di sebelah utara Pasar Ikan.

Pembangunan laboratorium kemudian dimulai tahun 1904 dan selesai tahun 1905. Laboratorium itu dibangun dalam bentuk gedung semi-permanen disebut Visscherij Laboratorium te Batavia atau Laboratorium Perikanan di Batavia.

Dalam perkembanganya laboratorium itu lebih dikenal Visscherij Station te Batavia atau Stasiun Perikanan Batavia.

Pada tahun 1922, laboratorium dibangun menjadi gedung permanen. Lalu dibangun pula sebuah gedung akuarium air laut yang besar.

AKUARIUM PERTAMA

Akuarium itu mulai dibuka untuk masyarakat umum pada tanggal 12 Desember 1923, sebagai akuarium pertama di Indonesia dan di kawasan Asia Tenggara.

Hingga tahun 1960-an, lokasi itu dikenal sebagai Akuarium Pasar Ikan yang menjadi tujuan wisata warga Jakarta. Laboratorium kelautan lalu dipindahkan ke kawasan Ancol yang saat ini menjadi Pusat Penelitian Oseanografi LIPI.

Sementara itu, lahan bekas laboratorium dijadikan permukiman penduduk yang kini dikenal sebagai Kampung Akuarium.

Kamis, 29 September 2022, selepas shalat ashar anak-anak yang umumnya masih duduk di bangku sekolah dasar, itu berlarian ke sana kemari mengejar bola. Sementara itu, para pedagang dan ibu-ibu mereka memerhatikan sambil melakukan aktivitas masing-masing. Ada yang menjajakan makanan, ngobrol, bersendau-gurau, dan bahkan ada kakek yang tengah duduk di lantai dengan pandangan mata kosong.

Di seberang kali tampak sepasang remaja tengah bercumbu tanpa malu-malu. Pemandangan itu sidah menjadi hal yang lumrah bagi masyarakat setempat. Di bagian utara tampak para remaja tanggung duduk-duduk pagar jembatan.

Penjagaan bagi bukan penduduk setempat tidaklah terlalu ketat. “Dari Bank DKI ya Pak?” tanya petugas keamaan. Sang tamu yang mengendari mobil minibus pun menganggukkan kepala. Padahal mereka adalah wartawan yag akan meliput kehidupan sehari-hari di kampung itu.

Menjelang sore, suasana makin ramai.  Anak-anak pulang sekolah, pedagang semakin banyak yang mangkal.

MAIN SEPAK BOLA

Layaknya dunia anak-anak, di mana pun hampir serupa. Mereka bermain sepak bola di lapangan ‘serba guna’ yang terkadang untur parkir, kegiatan warga, atau pun acara yang digelar oleh warga setemat.

Fredy memberikan bola kepada Lutfi, sementara Rio mencermati rekannya dan seraya berteriak keras, “tembak!” Lutfi pun tak membuang waktu dan langsung menghujamkan tembakannya ke gawang Ali. “Goaal….”

Anak-anak Kampung Aquarium,  Penjaringan, Jakarta Utara,  begitu girang ketika mereka bermain sepak bola di pinggir kali yang berisisian dengan bangunan tempat tinggal baru mereka. Itulah suasana kehidupan sehari-hari di Kampung Aquarium.

Menjelang maghrib, anak-anak pun berhenti bermain karena bolanya tercebur ke sungai. Bola itu hanyut hingga ke laut.

 

 

 

You may also like

Comments are closed.

More in Humaniora