TOKOH OTOMOTIF: Sejarah William Soeryadjaya Mendirikan Astra

INDOWORK.ID, JAKARTA: Grup Astra dirintis oleh William Soeryadjaya alias Tjia Kian Liong dan adiknya, Tjia Kian Tie, pada 1957.  Bersama sahabatnya, Liem Peng Hong, William memberanikan diri berdagang dengan membeli sebuah perusahaan kecil di Jalan Sabang, Jakarta Pusat. Perusahaan ini memiliki bidang usaha ekspor-impor, tapi oleh William diubah menjadi perdagangan eceran.

Pada 20 Februari 1957, dia mendaftarkan nama Astra sebagai nama perusahaan yang baru dibelinya itu kepada notaris Sie Khwan Djioe. Nama Astra terinspirasi dari nama dewi Astrea dalam mitologi Yunani yang bermakna terbang ke langit menjadi bintang. Dari usaha perdagangan eceran, Astra tumbuh saat mendapat proyek besar sebagai pemasok besi beton dan semen untuk proyek bendungan raksasa Jatiluhur di Purwakarta, Jawa Barat, pada 1961.   

Logo Grup Astra

Pada 1969, William putar haluan usaha ke bisnis otomotif, setelah gagal total sebagai importir generator senilai US$2,8 juta. Bisnis otomotif pertama Astra adalah sebagai importir dan perakit truk merek Chevrolet dari General Motors (GM) asal Amerika Serikat. Pindah kuadran bisnis ini dilakukan William setelah melihat rencana pembangunan nasional jangka panjang yang fokus pada tujuan kecukupan sandang, pangan, dan ketersediaan prasarana penunjang pertanian.  

Menurut  William  kegiatan pembangunan itu membutuhkan truk sebagai alat transportasi. Hal itu dilihatnya sebagai peluang bisnis yang lebih menarik bagi masa depan Astra. Keyakinan ini pula yang mendorongnya menerima tawaran pemerintah untuk menghidupkan kembali pabrik Gaya Motor milik negara. Lewat dana pinjaman sebesar US$3 juta, Astra menjadi pemegang saham mayoritas di Gaya Motor dengan kepemilikan saham 60 persen. 

Pabrik peninggalan Belanda itu kemudian diperbarui dan digunakan untuk merakit truk Chevrolet. Kegiatan inilah yang menjadi cikal-bakal nama besar Astra di industri otomotif Indonesia. 

Sayangnya, General Motors (GM) selaku principal merek Chevrolet menolak pinangan Astra sebagai agen pemegang mereknya di Indonesia. Nissan juga demikian. 

Nasib baik bagi William dan Astra, karena Toyota sedang mencari agen tunggal di Indonesia dengan syarat utama perakitan menggunakan fasilitas Gaya Motor. Pucuk dicinta, ulam pun tiba, demikian bunyi pepatah untuk menggambarkan perjodohan Toyota dengan Astra. Padahal, pengusaha nasional bernama Buntaran juga sedang memburu keagenan Toyota di Indonesia pada periode itu.

Pilihan Toyota kepada Astra terus-terang menjadi bintang kecil yang mengawali dominasi keduanya di industri otomotif Indonesia. Apalagi, menurut TP Rachmat, saat itu Astra tidak punya apa-apa, hanya fasilitas perakitan tua, bekas PN Gaja Motor. 

“Kami tidak punya apa-apa. Cuma assembling plant tua dan tidak ada fasilitas manufacturing. Tapi memang waktu itu peraturannya untuk menjadi agen pemegang merek cuma memiliki [fasilitas] assembling,” ujarnya.

Keberhasilan William menggandeng Toyota melem­pangkan jalan Astra untuk merambah lebih jauh di industri otomotif. Maka pada 1978, Astra pun menjadi mitra bagi merek Daihatsu dan Honda Motor Corporation untuk memproduksi sepeda motor. 

Pada 2021, Grup Astra memiliki pabrik di Karawang (PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia) dengan total kapasitas terpasang 250.000 unit per tahun dan pabrik mesin dengan kapasitas 216.000 per tahun. Astra juga memiliki pabrik di PT Astra Daihatsu Motor yang dikenal sebagai pabrikan mobil terbesar di Indonesia, dengan kapasitas produksi 530.000 unit per tahun.