Di Comex, Emas Kehilangan Kilau

INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: Emas seakan kehilangan kilau. Di Comex kemarin, harganya menyentuh titik terrendah di USD 1,627.80, per troy ounce. Dalam celoteh, beberapa waktu lalu, saya menulis bahwa harga 1,620 an harga emas sudah bottom out. Saya nampaknya mulai meragukan prediksi tersebut.

Memasuki 2022, harga emas masih berada di kisaran 1,800. Saat inflasi mulai meroket akibat banjir stimulus era pandemi, emas masih memperlihatkan karakter lindung nilai nya terhadap inflasi.

Saat perang Rusia – Ukraina meletus, emas pun kembali mempelihatkan perannya sebagai safe haven. Naik dan mencatat rekor tertinggi sepanjang sejarah pada 08 Maret 2022 di harga 2,074.20

Sejak itu, harga emas terus melorot.

DUA ‘HAMA’

Ada dua “hama” besar yang menggerogoti harga emas.

Pertama, nilai USD yang terus naik. Harga emas dunia dinyatakan dalam USD.

Kedua, yield surat utang yang juga terus merayap naik. Emas -tidak seperti obligasi – memang tak memberikan bunga bagi penyimpannya.

Resesi. perkiraan saya, merupakan berita bagus buat emas. Bloomberg sudah memvonis bahwa peluang ekonomi Amerika Serikat akan mengalami resesi tahu depan, 100%

The Fed, Bank Sentral Amerika, sudah menaikkan Federal Fund Rate sebanyak 300 basis poin sejak awal tahun. Akibatnya Indeks Dolar (DXY) sudah naik 21% sejak awal tahun. Akibatnya, imbal hasil 10 Y US Treasury sudah naik luar biasa, dari 1.341% Oktober tahun lalu, ke 4,233%, kemarin. Kenaikan 216%!!

Inflasi yang sangat tinggi – terutama saat kesempatan kerja masih tinggi – membuat The Fed mengabaikan misinya yang satu itu. Full employment.

Rsesesi – atau stagflasi lebih pas – tidak bisa tidak akan meningkatkan PHK dan pengangguran. The Fed tentu tak bebas untuk terus menerus menaikkan tingkat bunga, yang akan memperburuk ekonomi dan menurunkan kesempatan kerja.

Resesi punya daya cengkeram terhadap inflasi. Resesi akan mengerem laju kenaikan tingkat bunga. Menghentikan atau bahkan menurunkan. Ketika hama berkurang, emas berpeluang kembali berkilau.

Bagian berikut ini adalah imajinasi tukang celoteh.

Seandainya makin banyak negara di dunia kembali ke standar emas, maka hegemoni USD akan hilang. Minimal berkurang. Bagi negara negara yang menggunakan standar emas dalam penerbitan mata uangnya, tidak ada lagi kerisauan dari fluktuasi nilai tukar mata uang.

Biaya dana pun stabil dan setara, lintas mata uang. Transaksi bisa diselesaikan dengan mata uang manapun, sepanjang dijamin dengan emas di bank sentral. Atau settlement bisa juga dilakukan dengan emas. Emas menggantikan USD / Dolar denominated asset sebagai cadangan devisa.

Pada titik itu, emas akan memainkan peran yang jauh lebih penting ketimbang bahan perhiasan dan kilau simpanan dalam peti besi.

*) Ditulis oleh Hasan Zein Mahmud, Redaktur Khusus Infrastruktur.co.id

You may also like

Comments are closed.

More in Bisnis