Indonesia Berhasil Produksi 1 Juta Unit Mobil Berkat Mobil Kembar

INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: Proyek kolaborasi pertama Toyota dan Daihatsu di Indonesia ini ingin mengulang kesuksesan proyek mobil Toyota Kijang pada 1977 silam sebagai kendaraan niaga sederhana. Apalagi setelah krismon, Toyota Indonesia melihat ada celah kosong di pasar otomotif, sejak mobil terpopuler saat itu, Toyota Kijang, harga jualnya melonjak tiga kali lipat menjadi Rp120 jutaan per unit, sehingga menimbulkan kesan di masyarakat bahwa Toyota Kijang sebagai mobil mahal. 

Avanza dan Xenia menjadi alternatif di tengah naiknya harga mobil Kijang

Dengan demikian, secara konsep produk, baik Toyota maupun Daihatsu sepakat bahwa kolaborasi keduanya adalah membuat mobil yang lebih kecil dari Kijang, supaya harga jualnya dapat lebih murah dan relatif mudah diserap oleh konsumen yang masih terdampak krismon.  

Akibat krismon, lahir ruang kosong di segmen mobil keluarga setelah harga jual Toyota Kijang meroket, meski di pasaran terdapat model Daihatsu Zebra, Suzuki Carry, dan Mitsubishi T120.  Namun, seluruh model itu berkonsep minibus yang cenderung dianggap sebagai kendaraan niaga, karena persepsi konsumen tentang mobil keluarga adalah seperti Toyota Kijang yang memiliki ruang mesin di depan (bonnet).

Karena itulah, konsep mobil keluarga kami saat itu adalah mobil penumpang yang tidak pernah sebagai mobil niaga. Toyota berpendapat pasar mobil keluarga dengan bonnet ini sangat besar dan sayang jika tidak diisi.

Setelah melalui kegiatan pengembangan produk serta serangkaian riset dan survei, baik di Jepang maupun di Indonesia, pada 11 Desember 2003, PT Toyota-Astra Motor (TAM) dan PT Astra Daihatsu Motor memperkenalkan mobil kembar pertamanya: Toyota Avanza dan Daihatsu Xenia ke pasar otomotif nasional dengan dukungan penuh induk usahanya PT Astra International Tbk. 

PT Astra International Tbk.  melalui PT Toyota-Astra Motor (TAM) dan PT Astra Daihatsu Motor memprakarsai mobil kembar

All New Toyota Avanza dipasarkan dalam dua tipe, yaitu 1.3 E dan 1.3 G. Sedangkan Daihatsu Xenia memiliki tipe lebih banyak—tiga tipe—yakni 1.0 Mi, 1.0 Li, dan 1.3 Xi. Semua tipe mobil low multipurpose vehicle (MPV) itu hanya tersedia dalam transmisi manual 5 kecepatan dan belum ada tipe transmisi otomatis. Toyota Avanza mengusung mesin berkapasitas DOHC 1.300 cc berkode K3-DE, sedangkan Daihatsu Xenia membawa dua tipe, yakni mesin DOHC 1.000 cc (EJ-DE) untuk Xenia tipe 1.0 Mi dan 1.0 Li dan mesin berkode K3-DE DOHC 1.300 cc untuk Xenia tipe 1.3 Xi.

Generasi pertama Toyota Avanza tipe 1.3E dijual Rp89,5 juta (on-the-road Jakarta) dan tipe 1.3G dijual Rp99,5 juta. Sementara harga jual Daihatsu Xenia lebih murah yakni Rp77 juta hingga Rp88 juta. Strategi harga jual itu ditetapkan di bawah harga psikologis pasar Rp100 juta, karena pasar otomotif masih terpengaruh dampak krismon.  

Johnny Darmawan

Johnny Darmawan, Presiden Direktur TAM periode 2002-2014, mengatakan proyek mobil kembar ini dapat direalisasikan karena Toyota Motor Corporation (TMC) memiliki saham mayoritas di Daihatsu Motor Co. Ltd, induk usaha PT Astra Daihatsu Motor.  Apalagi secara konsep produk, kedua mobil ini berbeda positioning. Toyota Avanza dikomunikasikan sebagai mobil keluarga berharga jual murah yang bergaya (prestise), sedangkan Daihatsu Xenia diposisikan lebih pada sisi fungsionalitas. 

Dengan harga jual di bawah Rp100 juta per unit, Toyota Avanza dan Daihatsu Xenia mendapat respons positif di pasar terutama segmen first buyer atau segmen pengguna sepeda motor yang ingin naik kelas menjadi pengguna mobil.  

Di tahun pertama, Toyota Indonesia menargetkan volume penjualan mobil kembar ini sebesar 2.400 unit per bulan. Seiring pemulihan kondisi ekonomi nasional, termasuk pasar otomotif, jumlah permintaan terhadap mobil kembar ini semakin tinggi dari target awal, terutama Toyota Avanza. Volume penjualan mencapai 17.000 unit per bulan pada 2012 setelah generasi keduanya lahir pada 2011. 

Popularitas mobil kembar ini makin meningkat setelah generasi keduanya dirilis ke pasar pada 2011, meski harga jualnya lebih mahal dibandingkan generasi pertama (2004).  Toyota Avanza generasi kedua memiliki tipe baru dengan varian mesin 1.500 cc, dengan harga jual naik mulai Rp144 juta hingga Rp180 juta per unit. Sementara, Daihatsu Xenia generasi baru dilepas ke pasar dengan kisaran harga mulai Rp127 juta-Rp157 juta per unit.  

Pada periode 2012-2013, penjualan kedua mobil kembar ini mencapai puncak dengan menembus volume total 286.000 unit per tahun. Toyota Avanza mencatat prestasi sebagai mobil paling cepat dan pertama yang mencapai penjualan satu juta unit di pasar otomotif Indonesia. Avanza hanya butuh waktu 9 tahun untuk mencapai volume penjualan satu juta unit, jauh lebih cepat jika dibandingkan dengan Toyota Kijang yang membutuhkan waktu 26 tahun untuk mencapai penjualan satu juta unit. 

Berdasarkan data PT Astra International Tbk, tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) generasi kedua Toyota Avanza dan Daihatsu Xenia tersebut mencapai 78-79 persen.  Pemasok komponen lapis pertama atau tier 1 mobil kembar ini melibatkan 150 perusahaan dan tier 2 sekitar 850 pabrikan, sehingga total terdapat 1.000 perusahaan komponen yang terlibat dalam proses produksi mobil segmen Low MPV ini. Di Grup Astra saja, mata rantai produksi mobil kembar ini terkait dengan sekitar 55.000 pekerja. 

Masa puncak mobil kembar Toyota Avanza dan Daihatsu Xenia pada 2012-2013 itu mendorong pasar otomotif nasional bertumbuh lebih cepat. Untuk pertama kali dalam sejarah industri otomotif Indonesia, volume penjualan mobil di pasar domestik menembus angka satu juta unit—tepatnya 1,116 juta unit—dan rekor itu terjadi pada 2012. Maka, sejak 2012 sampai 2019, volume penjualan pasar domestik otomotif selalu berada di level satu juta unit, sehingga Indonesia masuk kelompok bergengsi industri otomotif global sebagai negara “one million units club”. 

Keberhasilan mobil Toyota Avanza dan Daihatsu Xenia membuat pabrikan lain ikutan memproduksi mobil kembar.  

Tercatat beberapa pabrikan bekerja sama untuk membuat mobil kembar meski hasilnya tidak sesukses Toyota Avanza dan Daihatsu Xenia, karena capaian volume penjualan rendah sehingga kegiatan produksi pun dihentikan (kecuali Toyota Rush dan Daihatsu Terios). Mereka antara lain adalah:

  1. Mitsubishi Xpander dan Nissan Livina (baru berjalan awal 2019) 
  2. Suzuki APV-Mitsubishi Maven (pemasaran Maven dihentikan pada 2011)
  3. Suzuki Ertiga-Mazda VX-1 (pemasaran VX-1 dihentikan  pada 2017)
  4. Suzuki Carry-Mitsubishi T120SS (proyek dihentikan pada 2019)

Menurut Johnny Darmawan, Toyota Avanza dan Daihatsu Xenia membuat pasar domestik tumbuh tinggi hingga mampu mencapai 1 juta unit. Pada saat posisi pasar domestik menyentuh satu juta unit, Indonesia semakin dilirik principal untuk dijadikan sebagai pusat produksi bagi pasar kawasan Asia. 

“Pasar Indonesia tembus satu juta unit dan ini diakui oleh Toyota Jepang. Kata mereka, ini karena mobil kembar dan lain-lain, sehingga Toyota pun berani mengekspor Avanza ke pasar Asia Tenggara (Asean) hingga merambah ke-56 negara di dunia termasuk ke Timur Tengah dan Amerika Latin. Kondisi ini membuka mata principal, bukan hanya Toyota, tapi Jepang melihat Indonesia karena pasarnya sudah pecah satu juta unit,” kata Johnny pada awal 2021.

Sejak masuk “one million units club”, principal otomotif dunia—terutama asal Jepang—semakin melirik Indonesia. Pada level ini, tingkat kepercayaan principal begitu tinggi sehingga mereka juga mendukung proyek mobil low-cost and green car (LCGC) yang dibuat pemerintah pada 2013, meski mobil tersebut harus memiliki persyaratan seperti harus bekerja sama dengan pemerintah, memiliki nama dan merek Indonesia, kapasitas mesin ditetapkan pemerintah Indonesia, dan sebagainya. 

“Kalau dulu kita [Indonesia] yang meminta-minta, maka sekarang mereka (principal) yang melihat Indonesia. Ini perjalanan yang cukup menyenangkan,” menurut Johnny.