Sejarah Perkembangan Kendaraan Bertenaga Listrik

INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: Robert Davidson, pria berkebangsaan Skotlandia diyakini sebagai pionir kendaaraan bertenaga listrik pada 1883.

Tidak seperti mesin pembakaran dalam yang menghasilkan emisi gas buang, mobil bertenaga listrik sama sekali tidak mengeluarkan emisi gas buang dan dianggap ramah lingkungan. Mobil dengan tenaga listrik memiliki komponen yang lebih sederhana ketimbang mesin pembakaran dalam.

Namun demikian, perkembangan kendaraan dengan tenaga baterai ini (Battery Electric Vehicle/BEV), tidak sepesat kendaraan dengan motor pembakaran dalam. Kebanyakan pabrikan otomotif dunia lebih tertarik untuk mengembangkan mobil bermotor pembakaran dalam.

Hal ini berkaitan dengan infrastruktur suplai bahan bakar (bensin maupun solar) yang juga dikembangkan oleh perusahaan minyak dunia. Era booming harga minyak dunia pada 1973, sempat mengerem laju perkembangan mobil dengan motor pembakaran dalam yang menghasilkan emisi gas buang.

Pada akhir 1960-an, ketika emisi dari hasil gas buang kendaraan bermotor pembakaran dalam dianggap menjadi masalah utama, muncullah sejumlah gerakan untuk mengurangi emisi gas buang.

Perkembangan Hybrid

Sistem hybrid adalah jenis power train yang menggunakan kombinasi dua jenis sumber tenaga. Biasanya mobil dengan mesin konvensional atau motor pembakaran dalam dengan mesin listrik.

Keduanya digunakan secara bergantian untuk menggerakkan kendaraan. Langkah ini diyakini sebagai salah satu cara untuk mengatasi pencemaran udara yang dihasilkan dari kendaraan bermesin konvensional.

Mobil hybrid pertama kali dibuat pada 1899 oleh Ferdinand Porsche. Saat itu, Porsche menyebut sistem kendaraan bertenaga ganda ini dengan Lohner-Porsche Mixte. Inilah cikal bakal kendaraan yang menggunakan dual engine, motor pembakaran dalam dengan motor bensin (ICE) yang dibantu dengan motor listrik.

Kala itu, Mixte diterima dengan baik oleh masyarakat Eropa, dan lebih dari 300 unit diproduksi. Namun, permintaan mobil hibrida mulai berkurang ketika Henry Ford memulai jalur perakitan mobil pertama pada 1904.

Kemampuan Ford untuk memproduksi mobil bertenaga bensin dan menawarkannya dengan harga rendah secara dramatis menyusutkan pasar kendaraan hibrida. Meski demikian, mobil hybrid dengan teknologi Mixte ini sebenarnya diproduksi dengan baik, namun harga jual yang dikenakan terlalu tinggi, kalah bersaing dengan produksi Ford.

Apalagi, tenaga yang dihasilkan dari mobil tersebut juga masih kalah ketimbang mobil konvensional yang di produksi Ford. Perlahan tapi pasti, era mobil hybrid meredup. Tak larisnya di pasaran membuat mobil dengan mesin ganda ini mengalami kemunduran.

Penolakan Kendaraan Listrik

Pada 1960-an, Kongres Amerika Serikat memperkenalkan undang-undang yang mendorong penggunaan kendaraan listrik yang lebih besar dalam upaya mengurangi polusi udara. Sementara pemerintah mencoba menggalang dukungan untuk hibrida, minat publik yang diperbarui tidak mendapatkan momentum sampai terjadi embargo minyak oleh sejumlah negara Arab pada 1973.

Krisis minyak ini menyebabkan harga bensin melonjak, sementara pasokan turun drastis. Pada masa itu, hampir 85 persen dari semua pekerja Amerika Serikat mengemudi untuk bekerja, sehingga melonjaknya harga gas dan menurunnya pasokan menjadi perhatian utama.

Selama 25 tahun berikutnya, produsen mobil menghabiskan miliaran dolar untuk penelitian dan pengembangan teknologi hibrida. Meskipun demikian, sangat sedikit kendaraan yang diproduksi yang dapat mengurangi ketergantungan dunia pada minyak dan bersaing dengan kendaraan berbahan bakar bensin dalam hal harga dan kinerja.

Pada akhir 1990-an, beberapa kendaraan listrik diperkenalkan, GM EV1 dan Toyota RAV-4 EV menjadi dua contoh. Kendaraan serba listrik ini gagal menarik minat luas dan segera dikeluarkan dari produksi.

Sampai Toyota merilis Prius di Jepang pada 1997, alternatif yang layak untuk kendaraan bertenaga gas diperkenalkan. Sebenarnya, tahun 1971 dianggap sebagai tonggak mulai berkembangnya mobil dengan dual power ini.

Kala itu, di Jepang diberlakukan aturan tentang emisi gas buang yang sangat ketat. Adalah Kementerian Transportasi Jepang yang meluncurkan aturan rendah emisi bagi kendaraan. Hal ini menjadikan pabrikan mulai memikirkan bagaimana mobil dengan motor pembakaran dalam dapat memenuhi regulasi tersebut.

Toyota kemudian menyambut baik situasi ini. Toyota Town Ace yang menjadi kendaraan operasional sejumlah kementerian di Jepang, kemudian dijejali dengan mesin bertenaga baterai (Electric Vehicle/EV). Namun hal ini itu tidak memuaskan, lantaran pada masa itu mengembangkan mobil bertenaga baterai masih terbilang tidak efisien.

Saat itu, Toyota merupakan pabrikan yang paling intensif untuk mengembangkan kendaraan dengan mesin ganda ini. Saking intensifnya, ada yang menyebut bahwa Toyota merupakan pabrikan pertama yang serius untuk memasarkan mobil hybrid.

Awal Mula Tren Kendaraan Hybrid

1997 merupakan periode pengembangan kendaraan listrik hybrid. Saat itu, Toyota menyiapkan Prius sebagai model mobil bertenaga hybrid di pasar global. Inilah mobil hybrid pertama yang diproduksi massal secara besar-besaran.

Diluncurkan pada bulan Oktober 1997 di Jepang, tiga bulan berselang, Prius dijual ke publik Negeri Matahari Terbit itu.

Pada 1999, Honda Insight menjadi Hybrid electric vehicle (HEV) produksi massal pertama yang dirilis di Amerika Serikat. Insight dua pintu, dua tempat duduk mungkin menjadi yang pertama, tetapi sedan Toyota Prius, yang dirilis di AS pada 2000, memberi teknologi hibrida yang mumpuni.

Pada tahun-tahun sejak diperkenalkan di AS, Prius identik dengan istilah “hibrida.” Ini adalah HEV paling populer yang pernah diproduksi, dan produsen mobil di seluruh dunia telah menggunakan teknologinya sebagai dasar untuk kendaraan lain yang tak terhitung jumlahnya.

Di era kesadaran lingkungan yang terus meningkat ini, Prius mungkin berada dalam persaingan yang ketat. Honda merilis Insight generasi kedua, dan Chevrolet memperkenalkan Volt.

Karena teknologi hibrida terus meningkat, ia akan terus mengembangkan pijakan yang lebih kuat di pasar mobil dunia. Apa pun yang bakal terjadi di masa depan, satu hal yang pasti, produsen mobil akan terus mengembangkan dan membangun hibrida, seperti yang telah mereka lakukan selama ini.

Kendaraan Hybrid Plug-In

Perubahan berikutnya yang diharapkan konsumen untuk dilihat dalam beberapa tahun ke depan adalah pembuat mobil yang memproduksi versi plug-in kendaraan hibrida yang dapat beroperasi pada rentang yang lebih jauh dalam mode serba listrik. Sementara konsumen telah memodifikasi versi kendaraan hybrid saat ini menjadi model plug-in, saat ini tidak ada mobil hybrid yang tersedia secara komersial dalam konfigurasi ini.

Saat ini, hampir setiap kendaraan hibrida di pasar beroperasi menggunakan baterai Nickel-Cadmium (NiCad) sebagai penyimpan daya untuk motor listriknya. Meskipun merupakan teknologi yang hebat, tahan lama, dan terbukti, NiCad memiliki beberapa kelemahan cukup serius.

Ia tidak mengisi daya sebaik atau secepat jenis baterai lainnya, dan karena nikel sangat berat, bobot baterai NiCad juga berat. Kondisi ini menjadikan baterai berbahan NiCad menjadi tantangan tersendiri, terutama upaya untuk mengurangi bobot dari baterai tersebut.

Baterai lebih ringan yang menggunakan tekstur nano dapat meningkatkan efisiensi, serta besar kemungkinan bagi industri beralih secara keseluruhan ke baterai jenis lithium-ion. Banyak manfaat dari teknologi lithium-ion, seperti bobot yang lebih ringan dan waktu pengisian lebih cepat.

Melihat lebih jauh ke masa depan, terdapat kemungkinan paket baterai lithium-ion bertekstur nano yang ditingkatkan kemapanannya akan tersedia, serta akan terjadi peralihan lain dari baterai sepenuhnya ke teknologi lebih baru yang disebut kapasitor high-discharge.

Diesel Hybrid

Perubahan signifikan lainnya yang harus dicari adalah penggabungan atribut positif dari pembangkit listrik diesel yang bersih dengan teknologi hibrida untuk menciptakan kendaraan dengan potensi jarak tempuh bahan bakar yang lebih baik dan hemat. Sejatinya, diesel hybrid belum banyak diaplikasikan untuk mobil penumpang. Teknologi ini lebih banyak digunakan untuk kendaraan komersial.

Sejumlah pabrikan di Tanah Air kini mulai melakukan investasi untuk membangun mesin-mesin bertenaga hybrid. Suzuki Indonesia, misalnya, berencana untuk membangun pabrik mesin hybrid bagi kendaraan Ertiga dan XL7.

Toyota dan Daihatsu juga demikian, berencana menjejalkan line-up produknya dengan mesin-mesin hybrid. Ketiga pabrik mesinnya di Tanah Air akan memasok mesin hybrid bagi Toyota Kijang Innova, Toyota Rush, Daihatsu Terios hingga mobil kembarnya: Toyota Avanza dan Daihatsu Xenia.

You may also like

Comments are closed.

More in Otomotif