Embargo Minyak Oleh Negara Teluk, Mobil Listrik Jadi Kebutuhan Mendesak

INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: Era 1960-1970-an, merupakan masa eksplorasi pengembangan mobil listrik seiring kebutuhan mendesak akibat embargo minyak negara Teluk.

Di AS, periode tersebut memunculkan pengembangan baru dari berbagai pabrikan. Salah satunya, sewaktu diadakan Simposium Pertama Badan Perlindungan Lingkungan tentang Pengembangan Sistem Tenaga Polusi Rendah pada 1973.

American Motor Company memamerkan kemampuan produksi Jip bertenaga listrik untuk keperluan Layanan Pos. Bahkan, badan antariksa NASA ikut berkecimpung memperkuat penelitian dan pengembangan mobil listrik yang dipicu keberhasilan kendaraan luar angkasa berbasis teknologi lunar elektrik yang dapat beroperasi di bulan.

Masih Perlu Evaluasi

Walaupun penelitian dan pengembangan telah mencapai tahap permulaan produksi massal mobil listrik, produk-produk tersebut masih disikapi secara sinis karena popularitas dan murahnya harga minyak dunia pada masa itu.

Terlebih lagi, kendaraan listrik pada masa itu pun masih memiliki banyak kelemahan. Kebanyakan produk prototipe itupun hanya mampu mencapai kecepatan 45 mil per jam, dan membutuhkan isi ulang tiap kali menempuh jarak 40 mil.

Namun, mengingat adanya krisis bahan bakar minyak serta fluktuasi pasar yang diakibatkannya, pemerintah AS tetap memiliki nafsu untuk menguasai teknologi mobil listrik. Bahkan terdapat peraturan federal dan negara bagian seperti Amandemen Undang-Undang Udara Bersih 1990 dan Undang-Undang Kebijakan Energi 1992.

AS juga membuat peraturan emisi transportasi baru yang dikeluarkan oleh Dewan Sumber Daya Udara California membantu menciptakan minat baru pada kendaraan listrik di AS. Selama periode ini, pembuatĀ mobilĀ mulai memodifikasi beberapa model kendaraan populer mereka menjadi mobil listrik.

Ini berarti bahwa kendaraan listrik sekarang mencapai kecepatan dan kinerja yang jauh lebih dekat dengan kendaraan bertenaga bensin. Dan banyak di antaranya memiliki jangkauan 60 mil.

Pengembangan Lanjutan

Estafet pengembangan motor listrik sejak ditemukan oleh Thomas Alfa Edison, terus berlanjut untuk dipergunakan pada produk otomotif. Di lain sisi, kemajuan otomotif elektrik inipun bersandar pada pengembangan lebih jauh sumber utama listrik sebagaimana mesin cetus api dari kendaraan konvensional.

Singkatnya, mobil listrik memiliki kepentingan sangat besar terhadap setiap kemajuan teknologi baterai.

Sejak penemuan Edison hingga era 1960-an, pabrikan mobil masih mengandalkan baterai nikel yang belum diolah secara kompleks seperti saat ini. Pada praktiknya, baterai itu belum mampu bekerja optimal dikarenakan sifatnya yang korosif, terlebih rentan terhadap tekanan suhu rendah.

Pada tahap selanjutnya, pengembangan material baterai beralih ke nikel cadmium serta elektroda negatif. Baterai ini memang lebih tahan, namun masih terdapat kendala pada ongkos produksi yang tinggi. Selain itu, cadmium juga mengandung zat beracun berbahaya bagi lingkungan.

Hingga periode 1960-an, Ford mencetuskan inovasi baru dengan meluncurkan produk mobil listrik berbaterai belerang dan natrium. Berurutan menyusul teknologi baterai yang mengandalkan sel elektrokimia katoda dan anoda, hingga atom listrik atau ion yang dimediasi. Kandungan baterai belerang-natrium ini menentukan besaran kapasitas listrik.

Pengembangan Baterai

Sejalan dengan kemajuan penemuan baru, baterai kemudian banyak memanfaatkan kandungan asam timbal. Dasar kandungan baterai ini terdiri dari asam sulfat dan elektroda, sistem kelistrikan ini banyak digunakan pada peralatan elektronik kendaraan bermotor.

Kemajuan terakhir beralih kepada penggunaan baterai berbasis ion litium. Penemuan yang digawangi oleh Stanley Wittingham dari Exxon itu pada mulanya didorong untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar energi fosil.

Sebagai sumber energi alternatif, baterai listrik berbahan ion litium dapat dibentuk lebih ringan. Litium yang merupakan logam paling ringan, dapat disusun sedemikian rupa dengan kompak, sehingga cocok bagi kebutuhan penyimpanan energi besar namun berbobot ringan.

Saat ini, teknologi lithium-ion tersebut terbilang canggih. Baterai belerang dan natrium dapat dirancang lebih kompak, kecil, ringkas, dan mampu menyimpan lebih banyak energi sehingga sanggup berkinerja maksimal meski di lingkungan bersuhu tinggi.

Lagi-lagi, inovasi itupun tak berlanjut karena terbentur pada kendala bahan baku maupun keandalan baterai di lingkungan suhu beragam. Akan tetapi, kegagalan demi kegagalan itu tak membuat pabrikan dan ilmuwan dunia berhenti mencari cara agar mobil listrik dapat dikembangkan lebih maju.

You may also like

Comments are closed.

More in Otomotif