Industri Pengolahan Nikel di Indonesia Potensi Tingkatkan Ekonomi Nasional

INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: Saat ini, nikel menjadi salah satu komoditas yang sangat dibutuhkan dunia.

Indonesia dilaporkan memiliki cadangan yang cukup besar sehingga perlu ditingkatkan kemanfaatannya menjadi produk Nikel bernilai tinggi. Diharapnakan nikel ini akan dapat meningkatkan kemakmuran rakyat secara keseluruhan, dan mereka yang berada di sekitar tambang pada khususnya.

Secara umum keadaan industri pengolahan nikel tergambar dari neraca perdagangannya, bahwa komoditas Ni selalu mengalami surplus, namun sebagian besar berasal dari ekspor industri pengolahan nikel hulu seperti feronikel dan nickel matte.

Terdapat kenaikan yang sangat signifikan dari komoditas hulu ini, misalnya feronikel memberikan kontribusi hingga 2,2% pada 2020, dengan perkiraan keuntungan ekspor mencapai US$3,68 miliar per tahun. Adapun lebih ke industri hilirnya ternyata belum cukup bekembang, padahal ekonomi Indonesia akan terus tumbuh pesat dan akan memerlukan produk nikel sejenis ini dalam jumlah yang sangat besar.

Produk olahan nikel hilir seperti pipa/tabung baja nirkarat (ss pipe/tube), kawat baja nirkarat (ss wire), dan paduan (alloy) berbasis nikel selalu mengalami defisit neraca perdagangan yang sangat besar. Importasi baja nirkarat/stainless steel tipe kawat gulung dingin/cold-rolled coil alias CRC dan SS pipe/tube selalu defisit dari tahun ke tahun, walau baja nirkarat CRC telah membukukan surplus perdagangan yang cukup besar sejak tumbuhnya kompleks industri pengolahan nikel di Morowali, Sulawesi Tengah.

Dengan cadangan yang dimiliki Indonesia, perlu dorongan pembangunan industri pengolahan nikel dari smelter hingga industri antara dan industri turunannya. Hal ini dilakukan agar terus meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia nasional yang akan menjadi peringkat kelima dunia.

Kebutuhan Nikel Dalam Industri Otomotif

Sama halnya dengan baja, aluminium, dan tembaga, nikel juga sangat diperlukan dalam industri otomotif dan secara tidak langsung penting bagi pembangunan ekonomi nasional. Namun nikel biasanya digunakan hanya sebagai bahan paduan bagi material logam lain terutama baja, sehingga berapa besarnya peran secara kuantitaif agak sulit diperkirakan.

Selain untuk paduan/alloy, logam ini juga digunakan sebagai bahan pelapis material lain terutama untuk menjadikannya lebih tahan terhadap proses korosi. Agak sulit untuk memperkirakan peran nikel terhadap bobot sebuah mobil penumpang, namun peran itu akan semakin besar pada era mobil listrik, karena nikel akan menjadi material utama baterai produk EV.

Pemerintah menyadari hal tersebut, sehingga menugaskan MIND ID alias PT Indonesia Asahan Aluminium (Holding) untuk dapat mengamankan ketersediaan cadangan nikel dalam negeri. Inilah yang melatarbelakangi MIND ID melaksanakan proses divestasi saham PT Vale Indonesia sebesar 20%.

Upaya tersebut pun berjalan mulus, efektif, dan efisien. Proses yang berujung pada divestasi itu dimulai pada September 2018, dengan ditekannya perjanjian kerahasiaan [non-disclosure agreement—NDA] antara MIND ID dan Vale S.A. Brasil.

Perjanjian kerahasiaan itupun berlanjut pada kesepakatan MoU. Keduanya menetapkan garis besar rencana transaksi tersebut pada Oktober 2018. Dua bulan kemudian, MIND ID bersurat kepada Menteri BUMN untuk permohonan izin penugasan dalam rangka pengambil alihan PT Vale Indonesia Tbk. (PTVI).

Pada September 2019, Menteri BUMN menyampaikan surat kepada Menteri ESDM dan Menkeu mengenai penugasan MIND ID untuk membeli saham divestasi PTVI. Selanjutnya, Menteri ESDM sepakat menunjuk MIND ID dan memberikan ketentuan tata cara divestasi serta acuan mekanisme penetapan harga divestasi saham PTVI.

Pada Oktober 2019, Menteri ESDM menyampaikan surat kepada MIND ID mengenai penunjukan perusahaan untuk melakukan pembelian saham divestasi PTVI dan memberikan acuan penetapan harga divestasi.

Pada akhirnya, MIND ID dapat mengambil alih 20% saham PTVI (semula INCO) yang merupakan produsen dan perusahaan tambang nikel terbesar di Indonesia.

You may also like

Comments are closed.

More in Otomotif