Pembangunan Ekonomi Vietnam Melalui Konsep Doi Moi

INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: Sebagai pendatang baru di industri otomotif dunia, peran pemerintah Vietnam memberikan kontribusi cukup signifikan. Disini kita akan membahas otomotif Vietnam dari dua pembahasan yang berbeda. Pertama, dari latar belakang perekonomiannya sampai menjadi industri otomotif yang berpengaruh di asia.

Latar Belakang Perekonomian Vietnam

Selama beberapa dekade sebelumnya, perekonomian Vietnam luluh lantak dilanda perang. Vietnam terbelah dua, bagian Selatan dan Utara. Pada akhirnya, kubu Utara memenangi perang dan mengambil alih tampuk kekuasaan Selatan serta menyatukannya menjadi satu bangsa yaitu Vietnam.

Karena itu, Partai Komunis memegang kendali pemerintahan. Partai nasional tersebut memiliki pekerjaan rumah untuk membangun negeri yang hancur dihantam perang saudara berkepanjangan tersebut. Mereka harus bekerja ekstrakeras membangkitkan perekonomian sekaligus mengungkit kesejahteraan rakyat.

Titik balik Vietnam mereorganisasi ekonomi terjadi pada 1986. Dalam sebuah kongres, Partai menyetujui arah pembangunan ekonomi dengan terminologi “Doi Moi” (Hansen, Journal of Contemporary Asia, Vol 46, No. 4, 2016: 551-569). Konsep pembangunan tersebut berkebalikan dengan paham Marxisme yang dikembangkan negara tersebut.

Konsep Doi Moi Sebagai Titik Balik Pembangunan Ekonomi Vietnam

Doi Moi berarti pembaharuan, pemerintah mulai menata ulang struktur ekonomi negeri itu. Jika ditilik sekilas, konsep Doi Moi ini serupa dengan kebijakan yang diterapkan Tiongkok era Deng Xiao Ping.

Istilah keren yang akrab dalam sistem tersebut yaitu ekonomi pasar sosialis. Di Tiongkok, konsep pembangunan tersebut adalah antithesis pembangunan sosialisme konvensional yang digagas Mao Ze Dong.

Singkatnya, Vietnam yang berideologi komunis, tak mengharamkan sepenuhnya aktivitas kapital swasta, bahkan asing. Hal ini pun serupa kebijakan China era Deng yang dilanjutkan Jiang Zemin hingga sekarang.

Lewat kebijakan Doi Moi, Vietnam mendorong swasta membangun industrialisasi di negeri tersebut. Negeri itupun terbuka terhadap aliran modal dari luar negeri.

Vietnam pun mendekati negara-negara kapitalis Eropa. Bahkan Jepang, Korea Selatan, dan Singapura juga diundang masuk. Perizinan investasi terbilang singkat dan ringkas, izin hanya diperlukan hingga tingkat Gubernur.

Berbagai kawasan industri tercipta. Beragam insentif digelontorkan bagi investor manapun yang mau mengembangkan industri di Vietnam. Sejak saat itu, perekonomian negara yang sempat terbelah antara Utara dan Selatan itu, melesat cepat.

Strategi Pembangunan Pasar Otomotif Vietnam

Di sektor otomotif, keleluasaan dan kebijakan longgar bagi investasi serta pengembangan pasar juga dilakukan Vietnam. Dari sisi pasar saja, dalam sedekade terakhir, pertumbuhan pasar otomotif Vietnam mencapai 200%.

Artinya, setiap tahun terjadi pertumbuhan pasar otomotif rata-rata sebesar 20%. Ini merupakan tingkat pertumbuhan tertinggi di pasar otomotif Asean.

Sayangnya, dari sisi produksi, upaya Vietnam masih terlihat stagnan walaupun diiringi berbagai keistimewaan investasi dari pemerintah sejalan dengan semangat Doi Moi. Jika pada 2009 produksi otomotif Vietnam sebesar 107.760 unit, maka volume produksi pada 2019 itu sebanyak 176.203 unit.

Strategi yang diberlakukan secara umum oleh Vietnam yakni mengambil alih teknologi dan mempersiapkan SDM melalui kebijakan perakitan lokal. Tak heran bila beberapa tahun belakangan, Vietnam secara berani melangkahi pakta perjanjian bersama se-Asean dengan menerapkan tarif bea masuk untuk produk otomotif, serta menerapkan kebijakan perakitan lokal.

Guna mengakselerasi hal tersebut, Pemerintah Vietnam kerapkali nekad mengambil langkah yang bertolak belakang dengan pakta perdagangan bebas regional. Sejak 2017, Pemerintah Vietnam telah menerbitkan aturan yang memberatkan bagi importasi kendaraan bermotor.

Mengacu Decree 116/2017/ND-CP (Decree on Requirements for Manufacturing, Assembly, and Import of Motor Vehicles and Trade in Motor Vehicle Warranty and Maintenance Service) mengganjal arus impor mobil dengan pemberlakuan aturan tes kelaikan, emisi, dan keselamatan yang dikendalikan pemerintah (Harian Bisnis Indonesia, 15 Februari 2020)

Indonesia tentunya sangat terpukul dengan langkah sepihak Vietnam tersebut. Tercatat sebelumnya bahwa produk otomotif merupakan ekspor utama Indonesia ke Vietnam. Langkah drastis Vietnam yang bertujuan akhir merintis industri otomotif dalam negerinya itu adalah bukti sahih bahwa setiap negara memiliki kepentingan serupa, menginginkan kue otomotif dari hulu hingga ke hilir.

 

You may also like

Comments are closed.

More in Bisnis