Kuliner Indonesia: Kartika Mete, Paling Banyak Variasi Olahan Mete

INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: Dahulu kala ketika Presiden Soeharto masih menjabat, ia mengutus seorang ahli pertanian untuk meneliti tanaman apa yang cocok untuk Kabupaten Wonogiri.

Kemudian seorang ahli pertanian tersebut memberikan saran, berdasarkan jenis tanah dan geografis, dia menyarankan supaya ditanami jambu mete.

Pohon jambu mete ada di hampir setiap pekarangan rumah masyarakat di Wonogiri

Wonogiri memang memiliki keunggulan geografis berupa hutan dan gunung. Tanah di sana pun banyak memiliki tekstur batu dan pasir gembur.

Begitulah kata seorang sesepuh bernama Sugiyono ketika menceritakan tentang kenapa banyak pohon mete di pekarangan rumah warga.

Untuk diketahui, asal kata Wonogiri berasal dari bahasa Jawa. Wono yang berarti hutan atau alas dan giri yang memiliki makna gunung atau pegunungan. Nama ini menggambarkan kondisi wilayah Wonogiri yang memang sebagian besar berupa sawah, hutan dan gunung.

Jambu monyet atau jambu mede (Anacardium occidentale) adalah sejenis tanaman dari suku Anacardiaceae yang berasal dari Brasil dan memiliki “buah” yang dapat dimakan.

Secara botani, tumbuhan ini sama sekali bukan anggota jambu-jambuan (Myrtaceae) maupun kacang-kacangan (Fabaceae), melainkan malah lebih dekat kekerabatannya dengan mangga (suku Anacardiaceae) atau apel. Asal tanaman ini adalah dari Brasil.

Mengapa Mantan Presiden Soeharto begitu perhatian terhadap Wonogiri dan pertanian? Sejarah menunjukkan jejak Soeharto kecil di Kabupaten yang masuk ke dalam karesidenan Solo Raya ini.

Pak Harto lama tinggal di Wonogiri. Dari kecil sampai dewasa. Ikut pamannya yang jadi dinas pertanian. Pak Harto dibesarkan dalam lingkungan agraris dan sering mengikuti pamannya mengunjungi sawah dan peternakan.

Dari situlah pengetahuan Soeharto tentang pertanian dipupuk.

KARTIKA METE WONOGIRI

Dari sekian banyak toko oleh-oleh di Wonogiri yang menjual mete, ada satu yang berbeda. Kartika Mete menyajikan kemasan yang berbeda dengan 30 varian rasa. Kartika Mete beralamat di Kecamatan Jatisrono, Wonogiri.

Mbak Naning pemilik Kartika Mete

Pemilik Kartika Mete Naning mengatakan hanya bisnisnya yang memiliki jumlah varian menu mete paling banyak se Wonogiri, bahkan Indonesia.

“Beberapa menu favorit yaitu durian, jambu, stroberi, kacang ijo, mangga, leci, kelapa, jambu, maupun coklat,” ujarnya.

Sedikitnya ada delapan rasa mete varian baru ini. Warnanya ada yang coklat, ungu, kuning, hijau, merah, biru, dan lainnya.

Selain variasi tersebut, toko ini juga menyediakan mete yang original, ada mete dengan bumbu bawang maupun non bumbu.

Ternyata ada hal menarik lain. Mete di sini tidak menggunakan minyak untuk menggoreng, melainkan di-oven. Bahkan oven digunakan pula dalam proses pengeringan. Sementara perasa menggunakan buah alami atau essence yang aman.

“Karena prosesnya di-oven, mete akan lebih awet saat disimpan,” tambah Naning.

Mete yang belum diolah sebagai alternatif varian bagi pembeli

Naning menyebutkan ide pembuatan mete aneka rasa dan warna itu dari sang anak yang membawakan oleh-oleh dari Korea berupa jenis kacang yang juga di-oven.

Hingga kini setiap hari selalu ada pesanan mete aneka rasa selalu ada. Pesanan juga datang untuk mete ori. Tidak hanya dari seputar Wonogiri, pesanan mengalir dari Bandung maupun Jakarta.

Soal harga kartika mete menjual sekitar Rp140 ribu per kilo. Harga tentu berbeda bagi reseller. Dari inovasi metetersebut, Kartika Mete sukses sampai ke mancanegara. Ia bahkan mengikuti pameran hingga ke negeri Ginseng.

You may also like

Comments are closed.

More in Bisnis