Diskusi dengan Firmansyah, Nggak Ade Matinye…

INDOWORK.ID, DEPOK: Berdiskusi dengan Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan DKI Jakarta Firmansyah, meminjam istilah seniman legendaris Betawi Benyamin S, “nggak ada matinye.” Bicara tentang buku, olah raga, kebudayaan, ekonomi, hingga politik, tak habis-habisnya.

Bang Firman, begitu panggilan akrab Firmansyah, adalah anak Betawi yang bewawasan luas, suka humor, berpengalaman, dan paling banyak pengalaman jabatan.

Lulus dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ketika masih Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Jakarta, Bang Firman mengukir karir di Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Di tengah kesibukannya ia pun menuntaskan pendidikan untuk jejang pascasarjana sehingga menyandang magister bidang pendidikan.

Berbagai tugas telah diembannya dari sejumlah biro dan dinas. Mulai dari Biro Umum, Dinas Kebudayaan, Sekretaris Dewan Perwakilan Daerah DKI Jakarta hingga kini menjadi Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan DKI Jakarta.

Ngobrol soal olah raga Bang Firman paling suka membahas perkembangan bola voli baik di Tanah Air maupun kelas dunia. Maklum ia adalah pemain bola voli yang menjadi andalan klubnya.

TERUS BERBENAH

Firmansyah sering berdiskusi dengan para intelektual muda setelah jam kerja hingga larut malam

Sejak dipimpin oleh Bang Firman, Perpustakaan Jakarta terus berbenah diri. Transformasi yang dilakukan sejak Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (2017-2022) mulai dari pembangunan gedung, kunjungan, program, hingga koleksi terus dilengkapi.

Koleksi buku terus ditambah sehingga pengunjung kian hari makin meningkat. Setiap bulan puluhan ribu peminat literasi mengunjungi Perpustakaan Jakarta yang berlokasi di Taman Ismail Marzuki, Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat. Selain itu ia juga terus berkolaborasi dengan penerbit dan pemangku kepentingan lainnya. Program kegiatan juga terus dikembangkan.

KUNJUNGAN PUSTAKA KAJI

Selasa, 28 Maret 2023, Perpustakaan Jakarta menerima kunjungan dari Pustaka Kaji, penerbit yang berkomitmen menerbitkaan buku-buku bermutu. Kerja sama dengan Pustaka Kaji pun terbuka yang diawali dengan penerimaan sumbangan buku dari penerbit yang telah beroperasi sejak 2014 tersebut.

Chairman Pustaka Kaji Lahyanto Nadie dan Direktur Pustaka Kaji Hamzah Ali memberikan sumbangan buku untuk ditepatkan di Betawi Corner yang diterima oleh Diki Lukman. Sedikitnya lima buku yang diberikan yaitu Dedengkot Betawi Haji Nuri Thaher Saudagar Dermawan dan Religius, Rusdi Saleh Nasionalisme Sang Penyiar, Jejak Permanen Anies Baswedan Signature untuk Jakarta karya Lahyanto Nadie. Sedangkan dua buku lainnya adalah Betawi Megapolitan, Merawat Jakarta Palang Pintu Indonesia karya Yahya Andi Saputra dan Rumah ini Punya Siapa? kumpulan cerita pendek karya penulis perempuan Betawi Fajriah Nurdiarsih.

Perpustakaan Jakarta juga berkomitmen untuk membeli buku koleksi Pustaka Kaji. Selanjutnya adalah kerja sama untuk menggelar workshop tentang literasi, lomba menulis dan merealiasikan program Betawi Corner.  Rencana lainnya adalah menerbitkan buku tentang Transformasi Perpustakaan Jakarta.

Untuk mengisi koleksi Betawi Corner,  Pustaka Kaji akan menerbitkan buku-buku budaya Betawi bekerja sama dengan Komite Seni Budaya Nusantara DKI Jakarta.

APRESIASI DARI DEKAN UI

Di tengah kesibukannya memimpin Dinas Pusip, Bang Firman tak henti belajar. Ketika ke kampus Universitas Indonesia, ia bertahan hingga malam hari. “Kan belajar nggak boleh berhenti,” katanya santai.

Itulah sebabnyak Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia memberikan apresiasi yang tinggi untuk Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi DKI Jakarta Firmansyah. Momentum itu terjadi ketika peluncuran buku karya Bondan Kanumoyoso di kampus UI Depok, Rabu, 7 Juni 2023.

“Saya memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Kepala Dinas Pusip. Beliau memiliki komitmen yang tinggi terhadap buku dan kearsipan,” kata Bondan. Hadirin pun bertepuk tangan.

Bang Firman menundukkan kepala. Ia membalas tidak dengan kata-kata melainkan hanya tersenyum dan hormat dengan takzim. Firmansyah menghadiri acara Peluncuran Buku Ommelanden Perkembangan Masyarakat dan Ekonomi di Luar Tembok Kota Batavia, 1684-1740 tersebut.

KARYA PENTING

Sedikitnya 100 undangan yang terdiri dari Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), arsiparis, budayawan, akademisi, wartawan, peneliti, dan mahasiswa memenuhi aula gedung 1 FIB UI.

Buku tersebut memberikan gambaran sejarah lokal khususnya dinamika kehidupan masyarakat Batavia dan sekitarnya. Kehadiran buku ini menambah referensi sejarah lokal khususnya mengenai dinamika sosial luar Batavia atau Ommelanden.

Bagi Dinas Pusip DKI Jakarta, buku ini adalah karya penting bagi generasi muda untuk lebih mengenal sejarah kota Jakarta dan menjadi inspirasi bahwa penelitian berangkat dari sumber-sumber data yang berada dekat dari kita seperti arsip yang berada di ANRI. “Bagi Dinas Pusip ini karya penting,” kata Firmansyah.

Buku ini, dalam pandangan Bang Firman, begitu panggilan akrabnya, akan jadi inspirasi buat generasi masa kini dan masa depan sebagai bahan bacaan sejarah kota Jakarta dari kurun waktu tahun 1600. Bagaimana tentang kehidupan masyarakat dan ekonomi tembok Batavia. “Generasi muda perlu membaca buku ini supaya tahu sejarahnya kota Jakarta. Mereka tahu saat ini di Jakarta banyak bangunan,” ujarnya pria gemar berolah raga itu dengan logat Betawi yang kental.

Bang Firman kagum terhadap buku ini karena berangkat dari penelitian dan karya ilmiah yang bersumber dan mengangkat isu dari arsip. Buku ini dapat menjadi inspirasi. “Ini data otentik yang narasinya bersumber dari arsip nasional, jadi tidak sembarangan menulis,” ucap Firman seperti dikutip beritajakarta.id.

BAHASA BELANDA DAN PALEOGRAFI

Yahya Andi Saputra dan Jeffry Alkatiri, dua anak Betawi dalam peluncuran buku Bondan

Bondan menjelaskan bahwa ia telah mempelajari bahasa Belanda dan Paleografi (ilmu mempelajari tulisan tangan) guna membaca dan merangkai informasi dari kumpulan arsip mengenai Batavia pada abad ke-17 di Arsip Nasional Republik Indonesia hingga Rijk Museum di Belanda selama 11 tahun.

Bondan menyusun kembali disertasinya untuk diterbitkan sebagai buku Ommelanden yang diluncurkan pada acara ini.

“Sumber utama saya adalah dokumen dan arsip, tidak ada sumber berupa lisan atau wawancara karena memang ini periode yang sudah terjadi ratusan tahun lalu,” kata dosen bergelar doktor tersebut.

Bondan bertumpu pada dokumen, peta, dan lukisan litografi untuk merekonstruksi kehidupan masyarakat di Ommelanden karena karakter pada jaman itu tidak memungkinkan untuk adanya sumber-sumber yang lain.

Ommelanden, katanya, merupakan tempat di mana Jakarta mendapat segala dukungan berupa sumber daya manusia, bahan-bahan mentah, dan juga berbagai keperluan industri.  Ommelanden atau wilayah Jabodetabek memiliki peran sangat krusial dalam mendukung pengembangan Batavia atau kota Jakarta dulu dan sekarang.

BELAJAR DARI KEGAGALAN

Lahyanto Nadie, Bondan, Firmansyah, Yahya Andi Saputra

Dia berharap Jakarta menjadi kota yang lebih bersahabat kepada para pemukimnya, karena kalau jika dilihat sejarah kota Jakarta sebetulnya upaya-upaya menjadikan Jakarta kota yang hijau dan nyaman sudah dilakukan secara berkelanjutan.

Tentu saja pembaca mengambil pelajaran yang didapat tentang kegagalan dan keberhasilan yang terjadi sepanjang abad 17-18. “Mudah-mudahan para pengambil keputusan dan masyarakat bisa mendapat inspirasi apa yang harus mereka lakukan untuk memperbaiki kehidupan di kota Jakarta,” tandas Bondan.

You may also like

Comments are closed.

More in Headline