Wartawan Senior Afriyanto Sikumbang, Kenangan di Lapangan

INDOWORK.ID, JAKARTA: Afriyanto Sikumbang Sutan Mudo. Begitu nama lengkapnya. Namun saya lebih sering memanggilnya Sutan Mudo, gelar yang diperolehnya setelah ia menikah dengan Susy Karami pada 29 Mei.

Saya ingat hari ia mengucapkan ijab qobul di depan penghulu, sehingga sehingga setiap peringatan hari pernikahannya saya mengucapkan Happy Wedding Anniversary! Semoga kalian berdua menjalani kehidupan pernikahan yang bahagia.

Sesuatu yang khas di Ranah Minang ialah bahwa setiap laki-laki yang telah dianggap dewasa, wajib memiliki “gala” (gelar). Ini selaras dengan pantun adat yang berbunyi

Pancaringek tumbuah di paga
Diambiak urang ka ambalau
Ketek banamo gadang bagala
Baetu adaik di Minangkabau

Artinya, pancaringek (sejenis tumbuhan) tumbuh di pagar, Diambil orang ke ambalau (nama sebuah tempat)
Kecil memiliki nama, jika sudah besar diberi gelar
Begitu adat di Minangkabau.

Dari buah cintanya dengan Susi, lahirlah Rian Adriansa, Muhammad Rafli, dan Inez. Afriyanto

kidal, alias kiri dari lahir. Ketika main bulu tangkis ia memegang raket dengan tangan kiri.

Smesh-nya tajam menukik. “Itu pakai tangan kiri, apa lagi kanan?” kata saya.

“Kalau pakai kanan ya memble,” katanya. Tawa kami berderai.

JADI BEK KIRI

Namun untuk urusan menendang bola, kaki kanannya lebih kuat. Meski demikian, ia tetap saya tempatkan sebagai backkiri dalam Bisnis Indonesia FC (BIFC), runner up nasional Piala PWI 1998. Posisi itu makin memperkuat barisan pertahanan yang dikomandoi oleh Martin Sihombing dan Hein Donald Lattumetten. Sementara posisi back kanan diisi oleh Sunu Budiman.

Saya mengenalnya sejak 1993, ketika sarjana ekonomi lulusan FE Unila, itu menjadi reporter Bisnis Indonesia dan berkantor di lantai 6 Wisma Bisnis Indonesia Jalan S. Parman Kav. 12 Jakarta Barat. Awalnya ia ditempatkan di Desk Pasar Modal bersama saya. Kemudian berpindah-pindah ke bidang liputan lain seperti Desk Industri, khususnya Otomotif.

Karirnya lumayan bagus. Pernah dipercaya menjadi Manajer Kantor Perwakilan Bisnis Indonesia untuk Sumatera Utara di Medan. Ketika saya menangani direktorat PPIC dan Marketing PT Aksara Grafika Pratama sehingga menanggalkan editor desk Pasar Modal, Afri kembali ditarik ke Jakarta untuk menggantikan saya.

Kiprahnya di Bisnis Indonesia Group, bukan hanya bertugas di redaksi meskipun awalnya ia melamar sebagai wartawan. Afri tercatat pernah menjadi General Manager Pemasaran PT Aksara Grafika Pratama dan Manajer Book Publishing di bawah benderal PT Gagas Kreasi Tama.

KECEK MINANG

Ngobrol dengan Afri mengasyikkan. Kami sering kecek minang yaitu berbincang dalam bahasa Minang. Namun ketika menyampaikan petatah-petitih justru ia banyak bertanya. Petatah-petitih minang merupakan sejenis peribahasa yang mengandung nasihat dan ajaran orang tua. Kalimat yang terdapat dalam petatah-petitih Minangkabau mengandung dasar filsafat yang bersumber dari alam. Maklum, meskipun berdarah Minang, Afri kelahiran Jakarta sehingga saya menyebutnya sebagai anak Asem Baris.

Mengapa Asem Baris? Karena ia lama bermukim di bilangan Tebet tersebut.  Sekolahnya pun di SDN Pulo 04 Petang, kemudian SMP dan melanjutkan ke SMA Negeri 24 Kelas Jauh Jakarta sebelum menyeberang ke perguruan tinggi di Lampung.

BULUTANGKIS DAN SEPAK BOLA

Kenangan dengan Afri bukan hanya seputar liputan dan kerja redaksi media, namun juga di luar kantor. Kami sering main bulutangkis bareng di Kompleks Migas, Kemanggisan, Jakarta Barat. Kami lebih sering lagi merumput di lapangan ABC Senayan, lapangan Bank Indonesia Pancoran, Lapangan Palmerah Jakarta Barat dan tentu saja yang paling berkesan adalah di Lapangan Bea Cukai, Rawamangun, Jakarta Timur. Di sinilah kami berjibaku mempertaruhkan gengsi BIFC. Final melawan Kelompok Kompas Gramedia (KKG), terpaksa hanya meraih medali perak dalam perayaan Hari Pers Nasional 1998.

Pada 2017, menjelang saya pensiun dini, Afriyanto ingin menerbitkan buku karya sahabat kami Abraham Runga Mali.“Tolong carikan sponsor dong,” katanya. Saya pun berikhtiar. Sebagai manajer penerbitan buku, Afri bersama Hamzah Ali, bagian riset dan produksi, saya ajak mereka berkeliling mencari sponsor. Alhamdulillah, buku Pasar Modal di Ujung Pena terbit pada Agustus 2017.

REUNI PASAR MODAL

Untuk acara peluncuran sekaligus bedah buku itu, kami mengundang para mantan Ketua Bapepam yaitu Marzuki Usman dan Bacelius Ruru. Begitu pun mantan Direksi PT Bursa Efek Indonesia seperti Hasan Zen Mahmud dan Tito Sulistio.

Afri girang karena acara bedah buku meriah sekaligus reuni insan pasar modal, mulai dari wartawan, analis, pialang, emiten, direksi bursa, hingga pejabat Badan Pengawas Pasar Modal dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Hajatannya sukses.

Ketika ia ingin mengambil keputusan untuk pensiun dini pada 2018, ayah tiga anak ini menjumpai saya. Beberapa kali. Kali pertama kami makan Soto Betawi Bang Iwan di samping stasiun Lenteng Agung, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Kali lainnya maka siang di RM Suhariasih, sehingga ia mantap untuk berkarir di luar Bisnis Indonesia yang telah dilakoninya selama 25 tahun.

Ia tidak langsung meninggalkan lingkungan kantor Bisnis Indonesia, karena selepas pensiun, AF, begitu inisialnya, menjadi manajer Koperasi Karyawan Bisnis Indonesia.

RESENSI BUKU

Pada Sabtu, 4 Juni 2023, ia bersilaturahmi ke rumah saya untuk mengucapkan turut berduka cita atas berpulangnya ayah saya ke Rahmatullah. Ketika akan pulang saya memberikan hadiah untuknya: buku Jejak Permanen Anies Baswedan, Signature untuk Jakarta yang saya tulis.

Pada 22 Juni 2023 resensi buku itu ia tulis di ekbistangsel.com. Di media ini, Afriyanto Sikumbang Sutan Mudo menjadi pemimpin redaksi.

Jumat malam pukul 23.52, Rian anak sulungnya mengabarkan kepada sahabat saya Muhammad Syahran W. Lubis: “Malam Om Syahran, saya Rian anaknya Pak Afriyanto. Ada kanbar duka Om. Bapak meninggal kena serangan jantung. Sekarang kami sekeluarga ada di rumah. Bapak akan dikubur besok pagi.”

Syahran segera menyebarkan berita duka itu kepada teman-teman. “Sahabat kita Afriyanto baru saja wafat. Mohon doa terbaik untuknya.”

Rustam Agus, Asmat Alkahfi, Sutarno Muhasyim, segera mendoaka almarhum. Syahran kemudian memberikan alamat rumah duka di Jalan Delima. Raya 55 RT 006 RW 08, Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan, Banten.

Prof. Rofikoh Rohim, Alexander Rasyid Hallatu, Samantha Ardiansyah, Richard Tuellang, Rahmi Siti Fatimah, Nuhasyim M. Soleh, Melly Riana Sari, Muhammad Karyanto, Des Alwi, Darlis Suprajitno, Indra Mulyadi, Elva Septinawati, Deddy Handabeni Pakpahan, Mamai Mardianah Noerdjali, Muhammad Sarwani, Suwantin Oemar, Bambang Sutejo, Dina Wadito, Retno Indarti Dharmoyo, Marygold Maitimoe, Edy Barlianto, Rachmat Sujianto, Muhammad Tavip Mohune, Toto Iman Sumarto, Adhitya Noviardi, Endot Brilliantono, Sulha ‘Amoy’ Handayani, Arman Badriza, Asep Muhammad Mulyana, Hilda Sabri Sulistyo, Rahmi Hidayati, Firdaus Baderi, Reni Efita Hendry, Fauzi Lazim, Gung Panggodo Supriyanto, Wininti K. Rubay,  Budi Wiyono, Edy Sasmito, Agus ‘Awo’ Widianto, Rahmayulis Saleh, Muhammad Kelik Taryono, Neneng Herbawati, Moh. Noor Korompot, Erwin Tambunan, Arie Romatua, dan Samsul Arifin Nasution, tak henti berdoa untuk almarhum.

“Tadi sempat foto sama anak-anak Bang Afri. Mereka titip pesan sampaikan salam dan terima kasih untuk teman-teman ayahnya di Bisnis Indonesia. Kita doakan agar mereka tabah ya,” kata Rahmi Hidayati.

Firdaus Baderi mengatakan pemakaman almarhum Afriyanto menjadi ajang reunian eks Bisnis Indonesia di Tanah Kusir. Alfatiha.

*) Ditulis oleh Lahyanto Nadie

You may also like

Comments are closed.

More in Properti