Kegagalan di Dubai, Momentum Pembinaan Badminton Berbasis Sport Science

INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: Sebanyak 16 pebulu tangkis terbaik dari pemusatan latihan Persatuan Bulu Tangkis Indonesia (PBSI) berangkat ke Dubai Exhibition Centre, Uni Emirat Arab, 14-19 Februari 2023. Skuad Indonesia harus terhenti dalam babak delapan besar Kejuaraan Bulu Tangkis Asia Beregu Campuran atau Badminton Asia Mixed Team Championship 2023.

Kekalahan 1-3 dari Korea Selatan dialami setelah Indonesia kehilangan poin, di antaranya dari ganda putra dan putri. Bersama tunggal putra, kedua nomor itu sebenarnya menjadi andalan Indonesia untuk meraih poin dari lima nomor.

Tim ”Merah Putih” tidak pernah menjuarai ajang yang digelar dua tahunan sejak 2017 ini. Hasil terbaik adalah ketika mencapai semifinal di Hong Kong 2019. Adapun pada 2021, kejuaraan yang seharusnya berlangsung di Wuhan, China, dibatalkan karena pandemi Covid-19.

Becermin pada kekalahan dari Korea Selatan, Indonesia kesulitan ketika ganda putra tak dapat menyumbangkan kemenangan. Padahal, nomor ini menjadi sektor ”wajib” menang bagi Merah Putih.

Ganda putra peringkat teratas dunia, Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto, bermain pada partai ketiga setelah kedua tim berbagi kemenangan, 1-1. Indonesia meraih kemenangan terlebih dulu melalui Chico Aura Dwi Wardoyo yang menang atas Lee Yun-gyu dengan skor 21-17, 21-16.

Setelah itu, Korea Selatan menyamakan kedudukan melalui Kim Ga-eun yang mengalahkan Putri Kusuma Wardani, 21-17, 14-21, 12-21.

Status ganda putra nomor satu dunia dengan dominasi mereka pada 2022 membuat Fajar/Rian sangat diharapkan membawa Indonesia unggul. Namun, mereka kalah dari Kim Won-ho/Na Sung-seung 21-16, 13-21, 16-21. Fajar/Rian kesulitan menembus pertahanan rapat pasangan dadakan itu.

Apriyani/Fadia

Kekalahan pada perempat final terasa lebih menyesakkan karena Indonesia menurunkan kekuatan terbaik di Dubai. PP PBSI mendaftarkan pemain terbaik pada setiap nomor, yaitu Anthony, Gregoria, Fajar/Rian, Apriyani/Fadia, dan Rinov/Pitha.

Hanya ada tiga tim kuat yang melakukan hal yang sama, yaitu Indonesia, India, dan Malaysia. Adapun tim elite lain, yaitu China, Jepang, Korea Selatan, Thailand, dan Taiwan menurunkan gabungan pemain pelapis dan pemain utama atau dengan hanya mengandalkan pemain pelapis.

Peryataan resmi dari PBSI menyatakan bahwa atlet berada dalam kondisi yang tidak sepenuhnya prima. Beberapa atlet bahwa sedang dalam keadaan sakit.

Pengamat sport science Basri Yusuf mengatakan kekalahan tim indonesia kali ini karena kurang persiapan. “Sebelum mengikuti kejuaraan, paling tidak sebelumnya, atlet harus mengukuti tes kelayakan berbasiskan sport science,” ujarnya dalam wawancara via telepon (23/2).

Basri, yang juga menulis buku Pembinaan Badminton Berbasis Sport Science, menyatakan atlet pro elite harus menerapkan prinsip sport science sebelum bertanding, beberapa tes yang perlu dilakukan adalah fisiologi, psikologi, kesehatan dan cedera olahraga, biomekanika.

Basri Yusuf

“Jangan sampai atlet yang mengikuti kejuaraan itu tidak siap, akhirnya menjadi kurang maksimal jika dipaksakan,” tambah Basri.

Dia berpesan atlet harus memiliki masa recovery. “Untuk Indonesia seharusnya jangan semua atlet pro elit yang diturunkan, padahal pihak lawan juga bukan atlet utama,” ujarnya.

Basri berpesan masa recovery atlet sangat erat dengan periodisasi, yang ujung-ujungnya adalah perencanaan yang baik. Dalam kompetisi seperti BWF World Tour misalnya jangan semua turnamen diikuti, untuk rankin 1-10 dunia hanya cukup mengikuti turmanen BWF WOrld TOur Super 1.000.

You may also like

Comments are closed.

More in Headline