Tren Laba Emiten Semen Meningkat, Pembangunan Infrastruktur Bertumbuh?

INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: Data dari Analisa Samuel Sekuritas Indonesia memproyeksikan penjualan semen nasional akan tumbuh 1-2 persen dari tahun lalu sekitar 64-64,5 juta ton. Apakah peningkatan tersebut sejalan dengan pertumbuhan pada sektor infrastruktur?

Bila bercermin dari laporan keuangan perusahaan, beberapa emiten semen memang cenderung mengalami kestabilan, bahkan kenaikan penjualan. Misalnya saja harga penjualan rata-rata dari emiten semen, seperti PT Semen Indonesia (Persero) Tbk dan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, dapat terjaga stabil.

Sementara itu, sebagian besar emiten semen di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatatkan kenaikan laba bersih pada paruh pertama 2023. Produsen semen terbesar, yakni PT Semen Indonesia Tbk, membukukan laba Rp 866 miliar.

Laba ini naik 3,1 persen daripada periode sama tahun lalu yang tercatat Rp 840 miliar. Sementara pendapatannya naik 2 persen menjadi Rp 17,03 triliun dari Rp 16,7 triliun hingga 30 Juni 2022.

Sementara PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk membukukan laba Rp 698,4 miliar. Laba ini tumbuh 139,5 persen dibandingkan paruh pertama tahun lalu yang hanya Rp 291,54 miliar. Kenaikan laba ini didukung kenaikan pendapatan 15,3 persen dari Rp 6,91 triliun menjadi Rp 7,97 triliun.

Emiten produsen semen lainnya, PT Cemindo Gemilang Tbk, juga mencetak kenaikan laba fantastis, yakni 345,8 persen, dari Rp 50,07 miliar menjadi Rp 223,2 miliar. Laba naik walaupun pendapatan Cemindo turun 3,22 persen dari Rp 4,46 triliun menjadi Rp 4,32 triliun. Kenaikan laba tersebut ditopang penurunan berbagai beban dan keuntungan dari selisih kurs.

Sementara emiten semen yang beroperasi di Sumatera Barat, PT Semen Baturaja Tbk, membukukan laba bersih Rp 16,62 miliar pada enam bulan pertama 2023.

Jumlah tersebut naik 2,27 persen daripada perolehan laba bersih yang dicapai pada periode sama tahun lalu yang tercatat Rp 16,25 miliar. Pendapatan Semen Baturaja mencapai Rp 847 miliar atau naik 2,66 persen dibandingkan periode sama tahun 2022 yang sebesar Rp 824,8 miliar.

Namun, produsen semen anak usaha Semen Indonesia, PT Solusi Bangun Indonesia Tbk, malah mengalami penurunan laba 2,3 persen dari Rp 260 miliar menjadi Rp 254 miliar. Penurunan ini terjadi seiring dengan penurunan pendapatan, yakni dari Rp 5,58 triliun menjadi Rp 5,57 triliun, atau turun 0,14 persen.

PERTUMBUHAN SEKTOR INFRASTRUKTUR

Pemerintah berkomitmen untuk terus mengakselerasi pembangunan infrastruktur di antaranya melalui alokasi anggaran infrastruktur dalam APBN yang terus ditingkatkan.

Pada tahun 2022, anggaran untuk pembangunan infrastruktur ditetapkan sebesar Rp 450 triliun. Anggaran tersebut meningkat 7,81% apabila dibandingkan dengan alokasi anggaran pada tahun 2021 sebesar Rp 417,4 triliun.

Berdasarkan Global Competitiveness Report (2019) oleh World Economic Forum, Indonesia menduduki peringkat 50 dari 141 negara yang menjadi sampel. Peringkat daya saing Indonesia tersebut dipengaruhi antara lain kondisi infrastruktur Indonesia yang kurang berdaya saing jika dibandingkan dengan negara tetangga ASEAN.

Peringkat infrastruktur Indonesia masih sedikit di bawah Malaysia dan Thailand, serta Singapura yang menduduki peringkat pertama.

Pada 2023, pemerintah juga menetapkan 10 PSN baru dan empat proyek yang disesuaikan nomenklaturnya dalam daftar PSN.

Penambahan PSN baru ini ditetapkan dalam Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian nomor 21 tahun 2022 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Koordinator bidang Perekonomian nomor 9 tahun 2022 tentang Perubahan Daftar PSN.

Dengan penambahan ini, saat ini total jumlah PSN sebanyak 210 proyek dan 12 program dengan estimasi total nilai investasi Rp5.746,4 triliun.

Terdapat 10 PSN baru terdiri dari Pembangunan Pelabuhan Terminal Peti Kemas Muaro Jambi (Jambi), Kawasan Industri Tanjung Sauh (Kepulauan Riau), Kawasan Industri Indonesia Pomalaa Industry Park (Sulawesi Tenggara), Kawasan Industri Motui (Sulawesi Tenggara), Kawasan Industri Kendari (Sulawesi Tenggara), dan Kawasan Industri Pulau Ladi (Kepulauan Riau).

Selanjutnya, Kawasan Industri Pupuk Fakfak (Papua Barat), Bendungan Karangnongko (Jawa Tengah dan Jawa Timur), Pengembangan Lapangan Ubadari, CCUS (Carbon Capture, Utilization and Storage) dan Compression (UCC Project) di Teluk Bintuni (Papua Barat), dan Pengembangan Biofuel dari Metanol dan Etanol di Kabupaten Bojonegoro (Jawa Timur).

Selain Bendungan Karangnongko, pembiayaan proyek PSN baru ini sepenuhnya ditanggung swasta atau non-APBN dan sebagai bentuk dukungan arahan presiden untuk hilirisasi industri.

You may also like

Comments are closed.

More in Properti