• Fri, Aug 2026

Aset Lancar BRMS Tiga Kali Liabilitas, tetapi Separuhnya Berupa Uang Muka

Aset Lancar BRMS Tiga Kali Liabilitas, tetapi Separuhnya Berupa Uang Muka

Rasio lancar BRMS mencapai 3,14 kali pada akhir Juni 2026. Namun, kekuatan likuiditas tersebut tidak sepenuhnya ditopang kas karena 53 persen aset lancar berupa uang muka, sementara kas hanya mampu menutup sekitar 37 persen kewajiban jangka pendek.

INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: Sekilas, posisi likuiditas PT Bumi Resources Minerals Tbk terlihat sangat kuat. Emiten pertambangan berkode saham BRMS itu memiliki aset lancar sebesar US$275,52 juta pada akhir Juni 2026, lebih dari tiga kali lipat liabilitas jangka pendeknya yang sekitar US$87,74 juta.

Perbandingan tersebut menghasilkan rasio lancar atau *current ratio* sekitar 3,14 kali. Artinya, secara akuntansi, setiap US$1 kewajiban yang harus diselesaikan dalam waktu satu tahun ditopang oleh US$3,14 aset lancar.

BRMS juga memiliki modal kerja bersih sekitar US$187,79 juta, yang diperoleh dari selisih antara aset lancar dan liabilitas jangka pendek. Dari ukuran konvensional tersebut, perusahaan tidak menunjukkan kekurangan modal kerja.

Namun, pemeriksaan lebih dalam terhadap komposisi aset memperlihatkan gambaran berbeda. Lebih dari separuh aset lancar BRMS bukan berupa kas, deposito, atau tagihan pelanggan yang segera dapat dicairkan, melainkan **uang muka lancar lainnya**.

Nilai uang muka itu mencapai US$146,96 juta, setara 53,3 persen dari seluruh aset lancar. Sementara kas dan setara kas hanya US$32,13 juta atau sekitar 11,7 persen dari aset lancar.

Kondisi inilah yang dapat disebut sebagai “likuiditas semu”. Istilah tersebut bukan terminologi resmi akuntansi dan tidak berarti aset perusahaan fiktif. Istilah itu menggambarkan keadaan ketika rasio lancar terlihat tinggi, tetapi sebagian besar aset yang membentuk rasio tersebut tidak langsung tersedia untuk membayar kewajiban.

Kas hanya tutup 37 persen kewajiban lancar

Dengan kas US$32,13 juta dan liabilitas jangka pendek sekitar US$87,74 juta, rasio kas BRMS hanya sekitar 0,37 kali.

Artinya, kas yang tersedia pada 30 Juni 2026 secara langsung hanya mampu menutup sekitar 36,6 persen kewajiban jangka pendek.

Jika kas digabungkan dengan piutang usaha US$7,45 juta, jumlahnya menjadi sekitar US$39,58 juta. Nilai tersebut hanya setara 45,1 persen liabilitas lancar.

BRMS juga memiliki dana yang dibatasi penggunaannya sebesar US$7,99 juta. Namun, karena penggunaannya dibatasi untuk tujuan tertentu, dana tersebut tidak otomatis dapat digunakan secara bebas untuk membayar seluruh kewajiban operasional.

Jika kas, dana yang dibatasi penggunaannya, dan piutang usaha digabungkan, nilainya sekitar US$47,57 juta atau 54,2 persen dari liabilitas jangka pendek.

Dengan demikian, hampir 83 persen aset lancar BRMS terkonsentrasi dalam uang muka, persediaan, dan pajak dibayar di muka. Ketiga pos itu memiliki fungsi ekonomi, tetapi tidak selikuid kas untuk memenuhi pembayaran yang jatuh tempo.

Tanpa uang muka, rasio turun menjadi 1,47 kali

Jika uang muka US$146,96 juta dikeluarkan dari perhitungan, aset lancar yang tersisa hanya sekitar US$128,57 juta.

Dibandingkan dengan liabilitas jangka pendek US$87,74 juta, rasio penutupannya turun dari 3,14 kali menjadi sekitar 1,47 kali.

Bila persediaan dan pajak dibayar di muka juga dikeluarkan, aset yang relatif lebih dekat dengan kas—yakni kas, dana terbatas, dan piutang—hanya sekitar US$47,57 juta. Jumlah tersebut berada di bawah kewajiban lancar perusahaan.

Perhitungan itu tidak berarti uang muka, persediaan, dan pajak dibayar di muka tidak bernilai. Namun, ketiganya memiliki keterbatasan sebagai sumber pembayaran jangka pendek.

Uang muka baru memberi manfaat ketika barang, jasa, peralatan, atau pekerjaan yang dibayar telah diserahkan. Persediaan harus digunakan dalam produksi atau dijual terlebih dahulu, sedangkan pajak dibayar di muka umumnya dimanfaatkan untuk mengurangi kewajiban pajak atau dikompensasikan sesuai ketentuan perpajakan.

Bukan fenomena baru

Dominasi uang muka dalam aset lancar BRMS telah terlihat sejak akhir 2025.

Pada 31 Desember 2025, perusahaan memiliki aset lancar US$266,09 juta dan liabilitas jangka pendek US$87,41 juta. Rasio lancarnya mencapai 3,04 kali, sebagaimana juga ditampilkan dalam Laporan Tahunan BRMS 2025.

Saat itu, uang muka lancar lainnya mencapai US$138,11 juta atau sekitar 51,9 persen dari aset lancar. Dalam enam bulan pertama 2026, nilai uang muka meningkat 6,4 persen menjadi US$146,96 juta dan porsinya naik menjadi 53,3 persen.

Dengan demikian, rasio lancar BRMS memang membaik dari sekitar 3,04 kali menjadi 3,14 kali. Namun, rasio kas justru melemah.

Pada akhir 2025, kas US$40,44 juta setara sekitar 46,3 persen liabilitas lancar. Pada Juni 2026, kas turun menjadi US$32,13 juta, sehingga hanya setara sekitar 36,6 persen kewajiban lancar.

Kas dan setara kas BRMS berkurang US$8,30 juta atau 20,5 persen selama enam bulan. Sementara itu, liabilitas jangka pendek relatif stabil di kisaran US$87 juta.

Persediaan dan piutang melonjak

Perubahan lain terjadi pada persediaan. Nilainya melonjak 83,5 persen dari US$20,26 juta menjadi US$37,16 juta.

Catatan laporan keuangan mengklasifikasikan persediaan tersebut sebagai bahan baku dan bahan pembantu. Kenaikannya dapat berkaitan dengan persiapan operasi dan pembangunan kapasitas produksi. Namun, persediaan belum dapat digunakan untuk membayar utang sebelum berubah menjadi produk, penjualan, dan penerimaan kas.

Piutang usaha juga naik hampir tujuh kali lipat, dari US$1,11 juta menjadi US$7,45 juta. Kenaikan piutang menunjukkan terdapat lebih banyak pendapatan yang belum diterima secara tunai pada tanggal pelaporan.

Pajak dibayar di muka turut meningkat 23,1 persen menjadi US$43,84 juta. Pos ini setara hampir setengah dari seluruh liabilitas jangka pendek, tetapi penggunaannya terikat pada penyelesaian atau penghitungan kewajiban perpajakan.

Arus kas operasi negatif

Kualitas likuiditas menjadi lebih penting karena kegiatan operasional BRMS belum menghasilkan kas pada semester pertama.

Perseroan membukukan arus kas operasi negatif US$26,54 juta, berbalik dari arus kas positif US$20,33 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Penerimaan dari pelanggan turun menjadi US$89,45 juta. Sebaliknya, pembayaran kepada pemasok meningkat menjadi US$68,52 juta, sementara pembayaran royalti, bunga, dan pajak juga bertambah.

Kondisi tersebut menunjukkan perusahaan masih mencatat laba bersih US$13,28 juta secara akuntansi, tetapi laba itu belum berubah menjadi kas bersih dari kegiatan operasi.

Ketika arus kas operasi negatif, kemampuan perusahaan memenuhi kebutuhan investasi dan pembayaran kewajiban menjadi semakin bergantung pada kas yang sudah tersedia atau pendanaan baru.

Ekspansi ditopang pinjaman

BRMS memang sedang berada dalam fase ekspansi besar. Laporan tahunan menyebut perusahaan dan anak usahanya memperoleh fasilitas pinjaman sindikasi senilai US$625 juta dengan tenor enam tahun.

Sebanyak US$425 juta dialokasikan untuk pembangunan tambang emas bawah tanah dan peningkatan kapasitas pabrik pengolahan di Palu menjadi 2.000 ton per hari. Sebanyak US$200 juta lainnya diperuntukkan bagi kegiatan eksplorasi mineral di Gorontalo, Aceh, dan Banten.

Dalam enam bulan pertama 2026, utang bank BRMS meningkat dari US$180 juta menjadi US$278 juta. Perseroan menarik pinjaman bank US$108 juta dan melakukan pembayaran sekitar US$10 juta.

Arus kas pendanaan yang positif membantu menutup arus kas operasi negatif serta pengeluaran investasi hampir US$75 juta. Pengeluaran tersebut antara lain digunakan untuk membeli aset tetap, menambah properti pertambangan, dan meningkatkan kepemilikan pada entitas anak.

Karena itu, tingginya uang muka dapat saja berkaitan dengan kegiatan konstruksi, pengadaan, atau proyek ekspansi. Namun, laporan keuangan interim yang tersedia hanya mencatatnya sebagai “uang muka lancar lainnya” dan belum memberikan perincian memadai mengenai penerima, jenis transaksi, jadwal penyelesaian, dan waktu reklasifikasinya menjadi aset produktif.

Bergantung pada penyelesaian proyek

Uang muka tidak otomatis menjadi masalah. Dalam perusahaan yang sedang membangun tambang dan fasilitas pengolahan, uang muka dapat mencerminkan pembayaran kepada pemasok, kontraktor, atau penyedia peralatan.

Namun, kualitas aset tersebut bergantung pada tiga hal: realisasi barang dan pekerjaan, penyelesaian proyek sesuai jadwal, serta kemampuan proyek menghasilkan produksi dan kas.

Apabila proyek berjalan sesuai rencana, uang muka akan berubah menjadi peralatan, bangunan, properti pertambangan, atau biaya proyek yang mendukung produksi masa depan.

Sebaliknya, keterlambatan pekerjaan, perubahan biaya, perselisihan dengan kontraktor, atau penundaan operasi dapat membuat uang muka tertahan lebih lama dan tidak segera membantu likuiditas.

BRMS menargetkan peningkatan kapasitas fasilitas pengolahan emas pada 2026 dan pengoperasian tambang bawah tanah Poboya mulai 2027. Proyek tersebut menjadi penentu apakah kenaikan utang dan besarnya uang muka dapat segera diterjemahkan menjadi peningkatan produksi serta arus kas.

Rasio kuat, kas tetap perlu dijaga

Secara keseluruhan, neraca BRMS belum menunjukkan krisis likuiditas. Aset lancarnya masih lebih tinggi daripada kewajiban lancar, perusahaan memiliki modal kerja positif, dan sebagian besar pinjaman bank diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka panjang.

Namun, rasio lancar 3,14 kali tidak dapat dibaca sendirian sebagai bukti bahwa perusahaan memiliki kas tiga kali lipat dari utang jangka pendek.

Kenyataannya, kas hanya US$32,13 juta, sedangkan kewajiban lancar mencapai sekitar US$87,74 juta. Kekuatan rasio terutama berasal dari uang muka US$146,96 juta, pajak dibayar di muka US$43,84 juta, dan persediaan US$37,16 juta.

Dengan arus kas operasi negatif serta investasi yang terus berjalan, perhatian investor akan tertuju pada kemampuan BRMS mengubah uang muka menjadi aset produktif, memulihkan arus kas operasi, dan menjaga kenaikan utang agar tetap sejalan dengan pertumbuhan produksi.

Laporan semester I-2026 tersebut masih berstatus tidak diaudit. Penjelasan lebih rinci dari manajemen diperlukan mengenai komposisi uang muka, pihak penerima, proyek yang dibiayai, jadwal penyelesaian, serta risiko uang muka tidak terealisasi sesuai rencana.