• Fri, Aug 2026

WPG Rugi Rp67 Miliar dan Ekuitas Negatif, Bagaimana Laba WIKA Beton?

WPG Rugi Rp67 Miliar dan Ekuitas Negatif, Bagaimana Laba WIKA Beton?

PT Wijaya Karya Pracetak Gedung menjadi titik tekanan dalam konsolidasi WIKA Beton. Kerugian anak usaha membuat laba konsolidasian WTON jauh lebih rendah dibandingkan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik perusahaan induk.

INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: Kinerja anak usaha menjadi salah satu risiko utama PT Wijaya Karya Beton Tbk. PT Wijaya Karya Pracetak Gedung atau WPG, anak usaha yang bergerak dalam industri dan pemasangan beton pracetak untuk bangunan, mencatat kerugian besar dan ekuitas negatif sepanjang 2025.

Berdasarkan Laporan Tahunan WIKA Beton 2025, WPG membukukan rugi komprehensif Rp67,42 miliar. Kerugian tersebut membengkak dibandingkan Rp9,76 miliar pada 2024.

Total aset WPG turun 27%, dari Rp339,98 miliar menjadi Rp248,20 miliar. Liabilitasnya hanya berkurang 8,05%, dari Rp302,75 miliar menjadi Rp278,38 miliar.

Karena nilai liabilitas lebih besar daripada aset, ekuitas WPG berbalik dari positif Rp37,23 miliar pada 2024 menjadi negatif Rp30,19 miliar pada akhir 2025.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa seluruh modal yang sebelumnya tercatat pada WPG telah tergerus oleh akumulasi kerugian. Selisih antara aset dan kewajibannya juga telah berada di zona negatif.

Laba Konsolidasian Tersisa Rp4,12 Miliar

Kerugian anak usaha turut menjelaskan perbedaan besar antara laba WIKA Beton sebagai pemilik entitas induk dan laba konsolidasian grup.

Sepanjang 2025, laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk WTON mencapai Rp40,02 miliar. Namun, laba bersih konsolidasian perusahaan hanya sebesar Rp4,12 miliar.

Perbedaan tersebut terjadi karena kepentingan nonpengendali menanggung kerugian Rp35,90 miliar. Dalam laporan keuangan konsolidasian, seluruh pendapatan dan kerugian anak usaha terlebih dahulu digabungkan. Setelah itu, laba atau rugi dialokasikan antara pemilik entitas induk dan pemegang saham nonpengendali.

Ketika anak usaha yang dimiliki bersama mencatat kerugian, bagian kerugian pemegang saham minoritas dapat membuat laba yang diatribusikan kepada pemilik induk terlihat lebih besar daripada laba bersih konsolidasian.

Kondisi tersebut penting dicermati investor. Jika hanya membaca laba yang diatribusikan kepada pemilik WTON sebesar Rp40,02 miliar, tekanan kerugian anak usaha tidak akan terlihat sepenuhnya.

Secara konsolidasian, margin laba bersih WTON pada 2025 hanya sekitar 0,11% dari pendapatan Rp3,59 triliun. Dengan kata lain, setiap Rp1.000 pendapatan hanya menghasilkan laba bersih sekitar Rp1,10.

Tekanan Berlanjut pada Semester I 2026

Pola yang sama masih terlihat dalam Laporan Keuangan Konsolidasian Interim WIKA Beton per 30 Juni 2026.

Pada semester I 2026, WTON membukukan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp4,75 miliar. Namun, setelah memperhitungkan kerugian kepentingan nonpengendali Rp3,72 miliar, laba konsolidasian tersisa Rp1,03 miliar.

Saldo kepentingan nonpengendali yang terkait dengan WPG juga semakin negatif. Nilainya memburuk dari negatif Rp14,32 miliar pada akhir 2025 menjadi negatif Rp17,68 miliar pada akhir Juni 2026.

Perubahan tersebut menjadi sinyal bahwa tekanan pada posisi keuangan WPG belum sepenuhnya berhenti pada semester pertama.

Dari sisi bisnis, pendapatan konstruksi WPG turun 79,58%, dari Rp41,94 miliar pada semester I 2025 menjadi Rp8,57 miliar pada semester I 2026.

WPG memang mencatat penjualan produk beton sekitar Rp98,46 juta pada semester I 2026, setelah tidak membukukan penjualan produk pada periode yang sama tahun lalu. Namun, nilainya belum cukup besar untuk menggantikan penurunan pendapatan konstruksi.

Akuisisi untuk Menggarap Pasar Gedung

WPG didirikan pada 2016 oleh WIKA Beton dan PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk atau WEGE. Perusahaan tersebut mulai beroperasi pada 2017 dengan fokus pada beton pracetak untuk gedung, perumahan, bangunan industri, dan pergudangan.

Pada awalnya, WIKA Beton memiliki 49% saham WPG. Pada 2022, WTON membeli tambahan 2% saham dari WEGE senilai Rp2,70 miliar. Transaksi tersebut membuat kepemilikan WTON meningkat menjadi 51%, sedangkan WEGE mempertahankan 49%.

Dengan kepemilikan tersebut, WPG berubah dari entitas asosiasi menjadi anak usaha yang laporan keuangannya dikonsolidasikan oleh WIKA Beton. Data kepemilikan 51% tersebut juga tercatat dalam 

Akuisisi mayoritas dilakukan untuk mengoptimalkan pasar beton pracetak bagi proyek gedung dan perumahan. Namun, kinerja WPG pada 2025 menunjukkan strategi tersebut belum menghasilkan kontribusi positif bagi konsolidasi WTON.

Alih-alih memperkuat keuntungan, WPG mencatat kerugian yang nilainya jauh lebih besar daripada harga pembelian tambahan saham oleh WTON pada 2022.

Keberlangsungan Operasi Dievaluasi

Besarnya kerugian membuat WIKA Beton mulai mengevaluasi posisi WPG. Dalam bagian realisasi mitigasi risiko pada Laporan Tahunan 2025, manajemen menyatakan, “Sudah dilakukan evaluasi terkait keberlangsungan operasional WIKA Pracetak Gedung.”

Namun, laporan tersebut belum menjelaskan kesimpulan evaluasi, pilihan restrukturisasi yang dipertimbangkan, maupun target waktu pemulihan ekuitas WPG.

WIKA Beton hanya menjelaskan bahwa strategi WPG mencakup seleksi proyek, sentralisasi fungsi komersial dan keuangan, penyelesaian piutang proyek, penjagaan arus kas, dan penguatan modal kerja dari perbankan.

WPG juga diarahkan membidik proyek beton pracetak untuk bangunan industri, gedung perbankan, gedung pendidikan, fasilitas kesehatan, serta proyek dengan skema rancang bangun.

Strategi tersebut menunjukkan WPG masih diarahkan untuk melanjutkan kegiatan usaha. Meski demikian, ekuitas negatif dapat membatasi kemampuan perusahaan memperoleh pendanaan baru tanpa dukungan pemegang saham atau jaminan dari kelompok usaha.

Kinerja Anak Usaha Tidak Seragam

Tidak semua anak usaha WIKA Beton mencatat kerugian. PT Citra Lautan Teduh atau CLT membukukan laba komprehensif Rp12,33 miliar pada 2025. Perusahaan yang bergerak dalam industri beton di Kepulauan Riau tersebut mempunyai aset Rp445,57 miliar dan ekuitas Rp383,15 miliar.

PT Wijaya Karya Komponen Beton atau WIKA Kobe juga mencatat laba komprehensif Rp3,76 miliar dengan ekuitas Rp112,88 miliar.

Namun, PT Wijaya Karya Krakatau Beton atau WIKA Kraton membukukan rugi komprehensif Rp11,93 miliar pada 2025. Kerugian tersebut berbanding terbalik dengan laba Rp1,68 miliar pada 2024.

Dengan demikian, setidaknya dua dari empat anak usaha utama WTON mencatat kerugian pada 2025, yakni WPG dan WIKA Kraton. WPG menjadi tekanan terbesar karena kerugiannya mencapai Rp67,42 miliar dan ekuitasnya sudah negatif.

Ekuitas Negatif Bukan Otomatis Bangkrut

Ekuitas negatif tidak serta-merta berarti WPG berhenti beroperasi atau dinyatakan bangkrut. Perusahaan masih dapat menjalankan kegiatan apabila mempunyai arus kas, kontrak, dukungan pemegang saham, serta kesepakatan dengan kreditur dan pemasok.

Namun, kondisi tersebut menunjukkan nilai kewajiban telah melampaui aset. Tanpa perbaikan laba atau penambahan modal, defisit ekuitas dapat semakin membesar dan menambah beban konsolidasi WIKA Beton.

Pemegang saham WTON perlu memperoleh penjelasan mengenai kebutuhan pendanaan WPG, jaminan yang diberikan perusahaan induk, dan kemungkinan tambahan penyertaan modal.

Manajemen juga perlu menjelaskan apakah evaluasi keberlangsungan operasi akan menghasilkan restrukturisasi, penggabungan usaha, pengurangan skala operasi, divestasi aset, atau penutupan lini bisnis yang tidak produktif.

Pada saat yang sama, WPG masih mempunyai peluang dari pembangunan gedung pendidikan, fasilitas kesehatan, kawasan industri, dan perumahan berbasis beton pracetak. Peluang tersebut baru berarti apabila kontrak yang diperoleh memiliki margin sehat dan menghasilkan penerimaan kas.

Karena itu, persoalan WPG bukan semata kekurangan proyek. Tantangan utamanya adalah memperoleh proyek yang mampu memulihkan kerugian, memperbaiki arus kas, dan mengembalikan ekuitas ke posisi positif tanpa menambah tekanan keuangan WIKA Beton.