• Sat, Aug 2026

Penjualan Turun, Persediaan Naik 21 Persen, Arus Kas WIKA Beton Masih Aman?

Penjualan Turun, Persediaan Naik 21 Persen, Arus Kas WIKA Beton Masih Aman?

Persediaan WTON mencapai Rp824,86 miliar pada akhir Juni 2026. Barang jadi di gudang dan dalam pengiriman meningkat ketika penjualan produk beton menurun. Arus kas operasi membaik, tetapi masih berada di zona negatif.

INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: PT Wijaya Karya Beton Tbk menghadapi tantangan dalam mengubah persediaan dan tagihan proyek menjadi penerimaan kas. Ketika pendapatan produk beton turun pada semester I 2026, persediaan emiten berkode saham WTON tersebut justru meningkat lebih dari 20%.

Berdasarkan Laporan Keuangan Konsolidasian Interim WIKA Beton per 30 Juni 2026, nilai persediaan perseroan mencapai Rp824,86 miliar. Jumlah tersebut naik 20,62% dibandingkan posisi akhir Desember 2025 sebesar Rp683,83 miliar.

Kenaikan terbesar berasal dari barang jadi yang masih tersimpan di gudang. Nilainya meningkat 25,53%, dari Rp476,20 miliar menjadi Rp597,79 miliar.

Persediaan barang jadi yang sedang dalam pengiriman juga tumbuh 36,29%, dari Rp48,19 miliar menjadi Rp65,68 miliar. Sebaliknya, persediaan bahan baku hanya naik tipis dari Rp130,58 miliar menjadi Rp132,79 miliar.

Kenaikan persediaan terjadi ketika pendapatan produk beton WTON turun 11,13%, dari Rp1,37 triliun pada semester I 2025 menjadi Rp1,22 triliun pada semester I 2026.

Pendapatan produk putar turun 9,58% menjadi Rp710,49 miliar. Sementara itu, pendapatan produk nonputar berkurang 13,21% menjadi Rp510,74 miliar.

Barang Pesanan Belum Diserahterimakan

Kenaikan persediaan tidak otomatis menunjukkan produk WIKA Beton tidak laku. Dalam catatan laporan keuangan, manajemen menjelaskan bahwa seluruh persediaan barang jadi diproduksi berdasarkan pesanan atau job ordered.

Artinya, sebagian besar produk tersebut sudah mempunyai pembeli atau terkait dengan kontrak tertentu. Persoalannya terletak pada waktu pengiriman, penyelesaian pekerjaan, penerbitan berita acara serah terima atau BAST, dan penagihan kepada pelanggan.

Barang jadi dalam pengiriman senilai Rp65,68 miliar, misalnya, terdiri atas produk yang sudah dikirim ke pelanggan atau berada di lokasi proyek, tetapi masih menjalani proses BAST.

Dalam Laporan Tahunan WIKA Beton 2025, manajemen menegaskan bahwa “konversi backlog dan eksekusi termin menjadi kunci kesinambungan pertumbuhan menuju 2026”.

BAST menjadi dokumen penting karena digunakan sebagai dasar pengakuan penjualan sekaligus lampiran penagihan. Apabila serah terima terlambat, produk yang sebenarnya sudah diproduksi atau dikirim belum dapat sepenuhnya berubah menjadi pendapatan dan kas.

Kondisi tersebut membuat risiko persediaan WTON berbeda dengan perusahaan ritel atau manufaktur barang konsumsi. Risiko utamanya bukan semata barang tidak terjual, melainkan tertundanya proyek, ketidaksiapan lokasi, perubahan desain, keterlambatan serah terima, dan pembayaran pelanggan.

Persediaan Tidak Diasuransikan

Hal lain yang menarik, WIKA Beton tidak mengasuransikan persediaannya dan tidak membentuk penyisihan penurunan nilai atas persediaan tersebut.

Dalam laporan keuangan, manajemen beralasan bahwa produknya “tidak mudah rusak dan tidak mudah hilang”. Atas dasar itu, perusahaan menilai tidak akan menanggung biaya kerusakan, kehilangan, maupun penurunan nilai.

Meskipun beton pracetak memiliki ketahanan fisik yang tinggi, nilai ekonominya tetap dapat terpengaruh jika proyek tertunda, kontrak berubah, spesifikasi tidak lagi sesuai, atau pelanggan menghadapi kesulitan pendanaan.

Produk beton pracetak umumnya dibuat dengan desain dan ukuran tertentu. Karena itu, tidak semua produk yang batal digunakan pada satu proyek dapat dengan mudah dialihkan kepada pelanggan atau proyek lain.

Persediaan barang jadi WIKA Beton juga digunakan sebagai jaminan untuk fasilitas kredit modal kerja bergulir dan fasilitas non-cash loan dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Hal ini membuat kualitas dan kemudahan konversi persediaan menjadi kas semakin penting bagi posisi pendanaan perusahaan.

Arus Kas Operasi Masih Negatif

Penumpukan persediaan ikut berhubungan dengan tekanan arus kas. Sepanjang semester I 2026, WTON membukukan arus kas operasi negatif Rp3,25 miliar.

Kondisi tersebut telah membaik tajam dibandingkan semester I 2025, ketika arus kas operasi negatif Rp159,46 miliar.

Penerimaan kas dari pelanggan turun tipis dari Rp1,81 triliun menjadi Rp1,77 triliun. Namun, pembayaran kepada pemasok berkurang lebih besar, dari Rp1,83 triliun menjadi Rp1,63 triliun.

Perusahaan juga mengeluarkan Rp117,61 miliar untuk pembayaran kepada direksi dan karyawan serta Rp36,22 miliar untuk pembayaran pajak. Setelah memperhitungkan seluruh aktivitas operasi, kas yang digunakan masih lebih besar dibandingkan kas yang diperoleh.

WTON juga mencatat arus kas investasi negatif Rp3,94 miliar dan arus kas pendanaan negatif Rp61,48 miliar. Arus pendanaan antara lain digunakan untuk membayar pinjaman bank, bunga, dan dividen.

Akibatnya, saldo kas dan setara kas turun 16,46%, dari Rp411,73 miliar pada akhir 2025 menjadi Rp343,96 miliar pada akhir Juni 2026.

Direktur Utama WIKA Beton Kuntjara menyatakan perusahaan akan menjalankan kegiatan operasional secara terukur, termasuk dengan “disiplin menjaga kesehatan arus kas perusahaan”.

Pernyataan tersebut disampaikan bersamaan dengan pengumuman kontrak baru WTON sebesar Rp1,97 triliun hingga Juni 2026.

Seperempat Piutang Berumur Lebih dari Setahun

Selain persediaan, risiko modal kerja WTON berada pada piutang pelanggan. Piutang usaha bruto perusahaan mencapai Rp949,54 miliar pada akhir Juni 2026, naik 5,15% dari Rp903,07 miliar pada akhir 2025.

Dari jumlah tersebut, sekitar Rp241,64 miliar telah berumur lebih dari 12 bulan. Nilainya setara dengan 25,45% dari keseluruhan piutang usaha bruto.

Piutang yang berumur lebih dari 36 bulan mencapai Rp135,71 miliar, naik dari Rp126,01 miliar pada akhir 2025. Sementara itu, perusahaan membentuk cadangan kerugian penurunan nilai piutang sebesar Rp127,88 miliar.

Dengan demikian, jumlah piutang berumur lebih dari 36 bulan sudah lebih besar daripada total cadangan kerugian penurunan nilai yang dibentuk perusahaan. Perbandingan tersebut tidak langsung berarti pencadangan tidak cukup karena perhitungan kerugian kredit juga mempertimbangkan jaminan, profil pelanggan, dan peluang penagihan. Namun, umur piutang yang panjang tetap menjadi faktor risiko yang perlu diperhatikan.

Setelah dikurangi pencadangan, piutang usaha bersih WTON tercatat Rp821,65 miliar. Nilai tersebut terdiri atas piutang pihak berelasi Rp454,62 miliar dan pihak ketiga Rp367,03 miliar.

Tagihan kepada Pihak Berelasi Masih Dominan

Jika piutang usaha, piutang retensi, pendapatan yang belum ditagih, dan tagihan bruto pemberi kerja digabungkan, nilai tagihan proyek WTON mencapai sekitar Rp1,40 triliun.

Dari jumlah tersebut, sekitar Rp719,36 miliar atau 51,49% terkait dengan pihak berelasi. Porsinya membaik dibandingkan 59,14% pada akhir 2025, tetapi masih menunjukkan konsentrasi yang cukup tinggi pada ekosistem BUMN dan perusahaan satu grup.

Piutang usaha kepada PT Wijaya Karya (Persero) Tbk sebagai induk usaha meningkat 21,31%, dari Rp207,48 miliar menjadi Rp251,69 miliar.

Risiko tersebut perlu dilihat secara berimbang. WIKA sebagai induk sedang menjalankan restrukturisasi dan penguatan struktur keuangan. Pada kuartal I 2026, WIKA melaporkan pengurangan total utang sebesar Rp2,97 triliun atau 7,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Direktur Utama WIKA Agung Budi Waskito mengatakan perseroan terus memperkuat fundamental operasi dan disiplin keuangan guna menghasilkan kinerja yang lebih sehat dan berkelanjutan. [WIKA](https://www.wika.co.id/id/media-dan-informasi/siaran-pers/wika-records-91-operating-margin-and-74-debt-reduction-in-q1-2026)

Perbaikan kondisi induk dapat meningkatkan peluang pembayaran kepada WTON. Namun, peningkatan piutang langsung kepada WIKA tetap perlu dipantau karena berkaitan dengan kecepatan WTON mengubah pendapatan menjadi kas.

Likuiditas Ditentukan Kualitas Aset Lancar

Secara nominal, aset lancar WTON masih lebih besar daripada liabilitas jangka pendek. Perseroan juga berhasil mengurangi pinjaman bank dan mencatat total ekuitas Rp3,68 triliun.

Karena itu, persoalan WTON belum mengarah pada ketiadaan aset atau modal. Tantangannya berada pada kualitas aset lancar: seberapa cepat persediaan dapat dikirim dan diserahterimakan, serta seberapa besar piutang dapat ditagih sesuai jadwal.

Perolehan kontrak baru Rp1,97 triliun memberikan peluang bagi perusahaan untuk meningkatkan produksi dan pendapatan pada semester kedua. Namun, pertumbuhan kontrak juga dapat menambah kebutuhan modal kerja apabila produksi meningkat lebih cepat daripada penerimaan pembayaran.

Ujian utama WIKA Beton bukan hanya menjual lebih banyak beton, melainkan memperpendek perjalanan dari pabrik menuju proyek, dari BAST menuju tagihan, dan dari tagihan menjadi kas.