Kemenperin dan BI Percepat Transformasi UMKM Hijau di Berbagai Daerah
Penerapan industri hijau telah menjadi kebutuhan strategis bagi Indonesia dalam menghadapi dinamika industri global yang semakin menuntut aspek keberlanjutan.
Sudah saatnya dana triliunan itu tidak hanya mencari aman. Sudah saatnya kita berani. Karena no guts, no glory. Dan kemuliaan sebuah bangsa diukur dari keberanian ekonominya untuk bertumbuh, bukan dari besarnya saldo yang mengendap di bendungan.
INFRASTRKTUR.CO.ID, JAKARTA: Pekan ini IHSG diprediksi bergerak konsolidasi di rentang 6,400–6,600. Pasar masih menanti data inflasi Agustus dan neraca perdagangan Juli. Namun di tengah penantian data itu, ada satu sentimen yang memberi oksigen baru: pasar menyambut positif terpilihnya Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia yang baru.
Reaksi positif ini wajar. Kepemimpinan BI yang kredibel dan komunikatif adalah jangkar stabilitas. Di saat ketidakpastian global masih tinggi, dari data PCE AS yang bandel hingga risiko El Niño terhadap harga pangan, kehadiran nakhoda baru di BI memberi rasa tenang. Tapi stabilitas moneter saja tidak cukup. Ada pekerjaan rumah yang lebih besar dan lebih mendasar: keberanian ekosistem keuangan kita untuk keluar dari zona nyaman.
Masyarakat keuangan Indonesia harus segera belajar tiga hal: mengambil risiko, menghitung risiko, dan mengelola risiko.
No pain, no gain. No risk, no return. No guts, no glory.
Adagium ini bukan jargon trader. Ini hukum alam ekonomi. Ia berlaku untuk investor ritel yang beli saham, berlaku untuk korporasi yang ekspansi, dan berlaku untuk negara yang ingin tumbuh.
Masalahnya, hari ini kita terlalu pintar “menghindari risiko” dan terlalu malas “mengelola risiko”.
Bayangkan ini: Sebuah bank menghimpun dana masyarakat dengan bunga deposito 2.5% - 3%. Lalu dana itu diparkir aman di SBN dengan yield 6% atau di SRBI dengan bunga 4%. Di atas kertas, bank untung. Di atas kertas, laporan keuangan “sehat”. Tapi di dunia nyata, apa yang terjadi? Bayangkan lagi: Pengelola dana institusi seperti asuransi dan dana pensiun yang mengelola dana ribuan triliun rupiah. Ke mana larinya dana sebesar itu? Jawabannya memprihatinkan.
Sebagian besar hanya diputar di tabungan, SBN, SRBI, dan instrumen tanpa risiko lainnya. Aman? Ya, sangat aman. Tapi ini ibarat irigasi. Airnya berputar-putar saja di bendungan. Indah dilihat, tapi tidak pernah mengalir ke sawah.
Akibatnya langsung terasa. UMKM yang butuh kredit untuk naik kelas kesulitan. Proyek infrastruktur swasta melambat karena tidak ada pembiayaan jangka panjang. Bursa Efek kekurangan likuiditas produktif untuk menghidupi perusahaan yang ingin tumbuh. Lapangan kerja baru tidak tercipta secepat yang kita butuhkan.
Wajar kalau target pertumbuhan ekonomi 8% masih tinggal di angan-angan. Karena pertumbuhan tidak lahir dari uang yang mengendap. Pertumbuhan lahir dari uang yang berani bekerja, yang berani mengambil risiko terukur di sektor produktif.
Risiko bukan untuk ditakuti. Risiko adalah harga yang harus dibayar untuk imbal hasil. Kunci nya bukan menghindari, tapi menghitung dan mengelola. Di sinilah peran regulator, pengelola dana, dan bank menjadi krusial. Dibutuhkan keberanian untuk membuat instrumen, skema penjaminan, dan ekosistem yang membuat “air” itu mau mengalir dari bendungan ke sawah.
Kita tidak bisa terus berharap pertumbuhan datang dari belanja pemerintah dan konsumsi rumah tangga saja. Investasi swasta harus menjadi mesin baru. Dan investasi swasta hanya akan datang jika ada dana yang berani keluar dari instrumen “tanpa risiko”.
Sentimen positif terhadap Gubernur BI baru ini harus kita manfaatkan. Stabilitas nilai tukar dan inflasi yang terjaga adalah prasyarat. Tapi prasyarat saja tidak menciptakan pertumbuhan. Setelah bendungan kokoh, sekarang saatnya buka pintu airnya.
Pekan ini pasar akan sideways. Itu normal, karena investor menunggu data dan mencerna kebijakan baru. Tapi konsolidasi yang lebih berbahaya adalah konsolidasi mental kita sebagai bangsa. Konsolidasi di zona nyaman, di tempat yang aman, di tempat yang tidak akan pernah melahirkan kemuliaan.
Sudah saatnya dana triliunan itu tidak hanya mencari aman. Sudah saatnya kita berani. Karena no guts, no glory. Dan kemuliaan sebuah bangsa diukur dari keberanian ekonominya untuk bertumbuh, bukan dari besarnya saldo yang mengendap di bendungan.
Penerapan industri hijau telah menjadi kebutuhan strategis bagi Indonesia dalam menghadapi dinamika industri global yang semakin menuntut aspek keberlanjutan.