INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: Komposisi bisnis PT Wijaya Karya Beton Tbk mulai berubah. Perusahaan yang selama ini dikenal sebagai produsen beton pracetak tersebut mencatat lonjakan pendapatan konstruksi di tengah melemahnya penjualan produk beton pada semester I 2026.
Berdasarkan laporan keuangan interim WIKA Beton, pendapatan konstruksi perseroan mencapai Rp196,82 miliar sampai Juni 2026. Jumlah itu melonjak 369,25% dibandingkan Rp41,94 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Sebaliknya, pendapatan dari produk beton turun 11,13%, dari Rp1,37 triliun menjadi Rp1,22 triliun. Pendapatan jasa juga terpangkas 57,71%, dari Rp153,13 miliar menjadi Rp64,77 miliar.
Perubahan tersebut membuat kontribusi gabungan jasa dan konstruksi meningkat menjadi 17,64% terhadap pendapatan WTON. Pada semester I 2025, kontribusinya baru mencapai 12,43%.
Sementara itu, kontribusi penjualan produk beton menyusut dari 87,57% menjadi 82,36%. Dengan demikian, produk beton masih menjadi tulang punggung WTON, tetapi peran pekerjaan konstruksi mulai membesar.
Produk Putar dan Nonputar Sama-Sama Turun
Penurunan terjadi pada dua kelompok utama produk WIKA Beton. Pendapatan produk putar turun 9,58%, dari Rp785,73 miliar menjadi Rp710,49 miliar.
Produk putar antara lain mencakup tiang pancang bulat, tiang listrik, pipa beton, dan sejumlah produk yang diproduksi menggunakan metode pemutaran beton.
Adapun pendapatan produk nonputar turun lebih dalam, yakni 13,21%, dari Rp588,49 miliar menjadi Rp510,74 miliar. Produk tersebut mencakup balok jembatan, bantalan rel, saluran beton, pelat pracetak, dan komponen konstruksi lainnya.
Secara keseluruhan, pendapatan WTON turun 5,51% menjadi Rp1,48 triliun, dibandingkan Rp1,57 triliun pada semester I 2025.
Penurunan penjualan produk menunjukkan pasar beton pracetak belum sepenuhnya pulih. Kondisi tersebut juga mencerminkan belum optimalnya konversi kontrak menjadi produksi, pengiriman, berita acara serah terima, dan pendapatan.
Pendapatan Konstruksi Ditopang Induk Perusahaan
Dari pendapatan konstruksi Rp196,82 miliar, sebesar Rp188,26 miliar dibukukan langsung oleh WIKA Beton. Sisanya, Rp8,57 miliar, berasal dari anak usaha PT Wijaya Karya Pracetak Gedung atau WPG.
Pada semester I 2025, WIKA Beton sebagai perusahaan induk belum mencatat pendapatan konstruksi. Seluruh pendapatan konstruksi Rp41,94 miliar pada periode tersebut berasal dari WPG.
Perubahan ini menunjukkan WTON mulai mengambil peran langsung dalam pelaksanaan pekerjaan konstruksi, bukan hanya menjual dan memasang produk beton.
Berdasarkan kelompok pelanggan, pendapatan konstruksi dari pihak ketiga mencapai Rp159,73 miliar. Sementara itu, pendapatan dari pihak berelasi tercatat Rp37,09 miliar.
Sejumlah pelanggan besar pada lini konstruksi antara lain KSO Waskita Karya–Nindya Karya–Len Railway Systems sebesar Rp58,44 miliar, Larsen & Toubro Ltd. Rp44,41 miliar, PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk Rp27,24 miliar, dan PT Fajar Putra Dinasti Rp25,27 miliar.
Komposisi tersebut memperlihatkan WIKA Beton mulai mengembangkan pasar konstruksi di luar ekosistem induk dan sesama perusahaan BUMN.
Direktur Utama WIKA Beton Kuntjara mengatakan pertumbuhan kontrak mencerminkan daya tahan perusahaan menghadapi dinamika pasar konstruksi.
“Perolehan kontrak baru ini menjadi bukti nyata resiliensi WIKA Beton dalam menciptakan nilai tambah,” kata Kuntjara dalam keterangan perusahaan yang diberitakan IDXChannel, Kamis, 23 Juli 2026.
Strategi Menjual Produk Sekaligus Jasa Konstruksi
Perubahan komposisi pendapatan sejalan dengan strategi WTON untuk menjual produk beton sekaligus pekerjaan konstruksi dan pemasangannya. Strategi ini memungkinkan perusahaan memperoleh pendapatan lebih besar dari satu proyek.
Dalam Laporan Tahunan WIKA Beton 2025, perusahaan menyatakan akan mengutamakan proyek yang menggunakan produk hasil produksinya sendiri.
“Perseroan memperluas diferensiasi portofolio melalui solusi bernilai tambah, termasuk produk modular dan inovasi yang selaras dengan tuntutan efisiensi serta keberlanjutan,” tulis manajemen WIKA Beton.
Model bisnis tersebut dapat meningkatkan daya saing karena pelanggan memperoleh produk, pemasangan, dan pelaksanaan pekerjaan dari satu kelompok usaha. WTON juga dapat menjaga utilisasi pabrik melalui pekerjaan konstruksi yang menyerap produk internal.
Namun, ekspansi ke bisnis konstruksi mempunyai karakter risiko yang berbeda dengan penjualan produk. Kontraktor harus menghadapi kemungkinan perubahan desain, keterlambatan pembebasan lahan, kenaikan biaya, ketidaksiapan lokasi, penalti, serta mundurnya pembayaran termin.
Bisnis konstruksi juga membutuhkan modal kerja lebih panjang. Perusahaan harus membeli material, membayar pekerja, dan menyelesaikan pekerjaan sebelum memperoleh pembayaran dari pelanggan.
Karena itu, pertumbuhan pendapatan konstruksi perlu diukur tidak hanya dari omzet, tetapi juga dari margin, arus kas, dan kecepatan pembayaran setiap proyek.
Margin Operasi Membaik
Sejauh ini, perubahan komposisi bisnis diikuti perbaikan margin operasional. Laba bruto WTON tumbuh 8,33% menjadi Rp98,39 miliar meskipun pendapatannya menurun.
Margin laba bruto meningkat dari 5,79% pada semester I 2025 menjadi 6,64% pada semester I 2026. Beban usaha juga turun 7,93%, dari Rp77,44 miliar menjadi Rp71,29 miliar.
Efisiensi tersebut membuat laba usaha melonjak 102,40%, dari Rp13,39 miliar menjadi Rp27,10 miliar. Margin usaha meningkat dari 0,85% menjadi 1,83%.
Namun, laba bersih konsolidasian WTON masih sangat tipis, yakni Rp1,03 miliar atau sekitar 0,07% dari pendapatan. Artinya, perbaikan laba operasi belum sepenuhnya menghasilkan keuntungan yang kuat setelah memperhitungkan bunga, pajak final, pencadangan, dan beban lainnya.
Teka-Teki Aset Quarry Rp782 Miliar
Perubahan model bisnis WTON juga memunculkan pertanyaan mengenai produktivitas aset quarry atau tambang material. Dalam laporan segmen semester I 2026, bisnis quarry mempunyai aset Rp782,33 miliar dan liabilitas Rp231,40 miliar.
Segmen tersebut menanggung beban penyusutan aset tetap Rp9,61 miliar, tetapi tidak membukukan penjualan dalam tabel segmen. Pada 2025, pendapatan eksternal quarry juga hanya Rp1,79 miliar.
Nihilnya penjualan pada laporan segmen tidak serta-merta menunjukkan quarry berhenti beroperasi. Material quarry dapat digunakan sebagai bahan baku internal sehingga transaksinya dieliminasi dalam laporan keuangan konsolidasian. Meski demikian, besarnya aset dibandingkan pendapatan eksternal perlu dijelaskan manajemen.
Kapasitas produksi quarry WIKA Beton juga turun dari sekitar 1,14 juta meter kubik pada 2024 menjadi 637.000 meter kubik pada 2025, atau berkurang sekitar 43,9%.
Laporan tahunan menyebut perusahaan telah menerapkan pola operasi minimalis pada pabrik dengan produktivitas di bawah 50%, khususnya di Sumatera Utara, Lampung–Lampung Selatan, dan Sulawesi Selatan. Perusahaan juga mengkaji penggabungan Pabrik Produk Beton Lampung dengan Lampung Selatan.
Pasar Bergeser ke Pulau Jawa
Perubahan bisnis turut terlihat dari distribusi pendapatan. Pendapatan WTON dari Pulau Jawa meningkat 11,61%, dari Rp823,84 miliar menjadi Rp919,45 miliar.
Sebaliknya, pendapatan dari luar Jawa turun 24,42%, dari Rp745,46 miliar menjadi Rp563,37 miliar. Kontribusi Jawa pun meningkat menjadi sekitar 62% dari total pendapatan semester I 2026.
Pergeseran tersebut dapat menjelaskan mengapa sejumlah fasilitas di luar Jawa menghadapi utilisasi rendah. Jika permintaan tetap terkonsentrasi di Jawa, perusahaan harus menghitung kembali biaya mempertahankan pabrik, quarry, dan fasilitas produksi di wilayah yang volume proyeknya menurun.
Dengan demikian, lonjakan pendapatan konstruksi belum dapat langsung disimpulkan sebagai keberhasilan diversifikasi. Strategi itu baru menghasilkan nilai apabila mampu menyerap produksi pabrik, meningkatkan margin, mempercepat arus kas, dan mengoptimalkan aset yang selama ini belum produktif.
Tantangan WIKA Beton bukan hanya berubah dari penjual beton menjadi penyedia solusi konstruksi. Perusahaan juga harus memastikan perubahan model bisnis tersebut tidak menambah risiko proyek dan modal kerja yang sebelumnya telah menjadi persoalan utama industri BUMN karya.