• Fri, Aug 2026

Pendapatan BRMS Turun 21 Persen, Laba Merosot 40 Persen dan Arus Kas Operasi Negatif

Pendapatan BRMS Turun 21 Persen, Laba Merosot 40 Persen dan Arus Kas Operasi Negatif

Kinerja semester I-2026 berbalik dari pertumbuhan kuat sepanjang 2025. Beban bunga meningkat 74 persen, kas operasi minus US$26,54 juta, sedangkan utang bank naik menjadi US$278 juta untuk membiayai ekspansi.

INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: PT Bumi Resources Minerals Tbk menghadapi tekanan kinerja pada semester pertama 2026. Pendapatan dan laba emiten pertambangan berkode saham BRMS tersebut menurun, sementara kegiatan operasionalnya berbalik menggunakan kas.

Berdasarkan laporan keuangan interim, BRMS membukukan pendapatan sebesar US$95,79 juta sepanjang Januari–Juni 2026. Nilainya turun 20,7 persen dibandingkan US$120,85 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Laba bersih perseroan turun lebih dalam, yakni 40,3 persen, dari US$22,27 juta menjadi US$13,28 juta. Laba sebelum pajak juga merosot 45,2 persen menjadi US$16,98 juta, dari sebelumnya US$31 juta.

Dengan menggunakan kurs Rp17.856 per dolar AS yang tercantum dalam laporan, pendapatan BRMS setara sekitar Rp1,71 triliun. Adapun laba bersihnya setara kurang lebih Rp237,2 miliar.

Laporan keuangan tersebut mencakup periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2026 dan masih berstatus tidak diaudit.

Margin mulai menyusut

Penurunan pendapatan diikuti pelemahan laba bruto. BRMS mencatat laba bruto US$55,40 juta, turun 23,3 persen dari US$72,22 juta pada semester I-2025.

Margin laba bruto pun menyusut dari sekitar 59,8 persen menjadi 57,8 persen. Artinya, dari setiap US$100 pendapatan, laba bruto yang tersisa turun dari sekitar US$59,80 menjadi US$57,80.

Penyusutan margin tersebut masih relatif terbatas. Namun, tekanan laba semakin besar setelah memperhitungkan beban operasional dan biaya pendanaan.

Beban umum dan administrasi meningkat 6,3 persen dari US$22,04 juta menjadi US$23,44 juta. Kenaikan beban berlangsung ketika pendapatan perusahaan justru turun hampir 21 persen.

Akibatnya, rasio beban administrasi terhadap pendapatan naik dari sekitar 18,2 persen menjadi 24,5 persen. Dengan kata lain, hampir seperempat pendapatan BRMS pada semester pertama terserap oleh beban umum dan administrasi.

Tekanan terbesar datang dari beban bunga dan keuangan. Pos tersebut melonjak 74,4 persen menjadi US$13,30 juta, dibandingkan US$7,63 juta pada periode yang sama tahun lalu.

Beban bunga dan keuangan itu setara sekitar 13,9 persen dari pendapatan dan menyerap hampir seperempat laba bruto perusahaan.

BRMS juga membukukan kerugian selisih kurs sebesar US$2,03 juta. Kondisi ini berbalik dari keuntungan selisih kurs US$2,52 juta yang diperoleh pada semester I-2025.

Perubahan keuntungan menjadi kerugian kurs memberikan selisih tekanan sekitar US$4,55 juta terhadap perbandingan kinerja kedua periode.

Di sisi lain, beban nonberulang yang tercatat dalam pos pendapatan lain-lain pada semester I-2025 tidak kembali muncul dalam jumlah besar. Pos tersebut menyusut dari negatif US$14,24 juta menjadi hanya sekitar negatif US$6.000.

Meski beban nonberulang tahun lalu hampir tidak terulang, kenaikan beban bunga, kerugian kurs, dan penurunan pendapatan tetap membuat laba bersih BRMS merosot 40 persen.

Laba belum berubah menjadi kas

Persoalan paling menonjol terlihat pada laporan arus kas. Meskipun masih mencatat laba bersih US$13,28 juta, BRMS membukukan arus kas bersih dari aktivitas operasi negatif US$26,54 juta.

Pada semester I-2025, kegiatan operasi masih menghasilkan arus kas positif US$20,33 juta. Dengan demikian, terdapat pembalikan arus kas operasi sekitar US$46,87 juta dalam satu tahun.

Arus kas operasi negatif menunjukkan laba yang dicatat secara akuntansi belum sepenuhnya berubah menjadi uang tunai. Kondisi tersebut terutama terlihat dari turunnya penerimaan pelanggan dan meningkatnya sejumlah pembayaran operasional.

Penerimaan kas dari pelanggan turun 23,5 persen, dari US$116,89 juta menjadi US$89,45 juta. Penurunannya lebih dalam dibandingkan kontraksi pendapatan sebesar 20,7 persen.

Pada saat bersamaan, pembayaran kepada pemasok atas barang dan jasa meningkat 27,2 persen, dari US$53,86 juta menjadi US$68,52 juta.

Pembayaran royalti dan iuran eksploitasi juga meningkat 19,2 persen menjadi US$17,76 juta, sedangkan pembayaran gaji dan tunjangan naik menjadi US$11,94 juta.

Setelah penerimaan pelanggan dikurangi pembayaran kepada pemasok, pegawai, serta royalti, kegiatan operasional BRMS telah menggunakan kas sebesar US$8,76 juta. Pada semester I-2025, kegiatan yang sama masih menghasilkan kas US$36,81 juta.

Tekanan kemudian bertambah dari pembayaran bunga sebesar US$9,78 juta, naik dari US$6,45 juta. Pembayaran pajak penghasilan badan juga meningkat dari US$10,28 juta menjadi US$15,50 juta.

Setelah seluruh pembayaran tersebut diperhitungkan, arus kas operasi menjadi negatif US$26,54 juta atau setara sekitar Rp474 juta berdasarkan kurs yang digunakan dalam laporan.

Perbedaan antara laba dan kas menjadi catatan penting bagi investor. BRMS memang masih mencatatkan keuntungan, tetapi operasi perusahaan selama enam bulan pertama belum mampu menghasilkan kas bersih untuk membiayai kebutuhan bisnisnya.

Ekspansi ditopang pinjaman

Di tengah pelemahan arus kas operasi, BRMS tetap meningkatkan investasi. Pembayaran untuk memperoleh aset tetap melonjak hampir 249 persen dari US$12,16 juta menjadi US$42,46 juta.

Pengeluaran tersebut berkaitan dengan strategi ekspansi perseroan. Dalam laporan tahunan 2025, BRMS menyebut rencana meningkatkan kapasitas fasilitas pengolahan emas di Palu dari 500 ton menjadi 2.000 ton bijih per hari.

Perseroan juga sedang membangun tambang emas bawah tanah di Poboya, Palu, yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2027. Tambang tersebut diharapkan memberikan akses terhadap bijih berkadar lebih tinggi, hingga sekitar 4,9 gram emas per ton.

Kebutuhan operasi dan investasi pada semester pertama terutama ditutup melalui pendanaan eksternal. Arus kas bersih dari aktivitas pendanaan mencapai US$93,65 juta, meningkat dari US$23,51 juta pada periode yang sama tahun lalu.

Utang bank bruto BRMS meningkat 54,4 persen, dari US$180 juta pada akhir Desember 2025 menjadi US$278 juta pada akhir Juni 2026.

Dari jumlah tersebut, US$13,9 juta jatuh tempo dalam satu tahun. Sisanya, US$264,1 juta, diklasifikasikan sebagai pinjaman bank jangka panjang.

Sementara utang meningkat, kas dan setara kas turun 20,5 persen dari US$40,44 juta menjadi US$32,13 juta. Dengan mengurangi kas dari total utang bank, posisi utang bank bersih BRMS secara sederhana mencapai sekitar US$245,87 juta pada akhir Juni 2026.

Posisi itu meningkat sekitar 76 persen dibandingkan utang bank bersih sekitar US$139,56 juta pada akhir 2025.

Kenaikan utang tersebut sejalan dengan fasilitas pembiayaan sindikasi enam tahun senilai total US$625 juta yang diperoleh BRMS bersama anak usahanya, PT Citra Palu Minerals.

Sebanyak US$425 juta dari fasilitas tersebut dialokasikan untuk menyelesaikan tambang bawah tanah dan meningkatkan kapasitas pabrik di Palu. Sisanya, US$200 juta, akan digunakan untuk kegiatan pemboran dan peningkatan sumber daya mineral tembaga di Gorontalo serta emas di Aceh dan Banten.

Berbalik dari kinerja kuat 2025

Pelemahan pada semester pertama berbalik dari pertumbuhan kuat yang dicatat BRMS sepanjang 2025.

Pada tahun lalu, pendapatan perseroan meningkat 54 persen menjadi US$249,35 juta. Laba bersih naik 99 persen menjadi US$50,09 juta.

Pertumbuhan itu didorong kenaikan produksi emas sebesar 11 persen menjadi 71.886 troy ounce dan kenaikan harga jual rata-rata emas sebesar 38 persen menjadi US$3.371 per troy ounce.

BRMS kini memasuki fase ketika perusahaan harus tetap membiayai pembangunan kapasitas baru, sementara pendapatan dan arus kas jangka pendek melemah.

Manfaat dari belanja modal dan tambahan utang kemungkinan baru terlihat setelah peningkatan kapasitas pabrik serta tambang bawah tanah mulai beroperasi. Namun, sebelum proyek tersebut menghasilkan tambahan produksi dan kas, perusahaan harus menanggung kenaikan beban bunga dan kebutuhan modal kerja.

Laporan semester pertama belum memberikan uraian operasional terperinci mengenai penyebab penurunan pendapatan, termasuk perkembangan volume produksi, volume penjualan, kadar bijih, tingkat pemulihan emas, dan harga jual rata-rata.

Penjelasan manajemen mengenai faktor tersebut dibutuhkan untuk menentukan apakah pelemahan semester I-2026 hanya bersifat sementara selama masa ekspansi atau menandai tekanan yang lebih panjang terhadap produksi dan profitabilitas BRMS.