INFRASTRUKTUR.CO.ID, MATARAM — Kepala Balai Penataan Bangunan, Prasarana, dan Kawasan NTB Dades Prinandes mengatakan pekerjaan fisik telah dimulai di Jalan Industri, Ampenan. Tahap saat ini berfokus pada pemasangan jaringan perpipaan bawah tanah.
“Pembangunan SPALD-T sangat krusial untuk meningkatkan kualitas pengelolaan sanitasi di Kota Mataram,” kata Dades. Infrastruktur itu diharapkan melindungi sungai dan kawasan pesisir dari pencemaran limbah domestik.
Tahap pertama dibagi menjadi dua paket pekerjaan. Sekitar Rp300 miliar telah terkontrak untuk pekerjaan sampai 2029, sedangkan paket instalasi pengolahan air limbah masih disiapkan.
Pengeboran jalan menggunakan mesin berukuran besar menimbulkan gangguan lalu lintas dan akses menuju rumah serta tempat usaha. Pemerintah menempatkan petugas di kelurahan dan tingkat RT untuk menerima pengaduan warga.
Usulan kompensasi bagi pelaku usaha terdampak sedang dibahas bersama instansi terkait dan auditor independen. BPKP dilibatkan untuk memastikan perhitungan serta prosedurnya sesuai ketentuan.
Pelaksana juga berkomitmen memulihkan lantai rumah dan fasilitas warga yang dibongkar selama pemasangan pipa. Namun, jadwal penyambungan pelanggan, kapasitas IPAL, dan cakupan pelayanan belum diumumkan.
Progres di bawah 10 persen menunjukkan risiko jadwal masih besar karena sebagian kontrak belum tuntas. Pengawasan perlu mencakup mutu pipa, pemulihan jalan, keselamatan kerja, dan dampak ekonomi terhadap usaha lokal.
Data berasal dari pernyataan resmi BPBPK NTB yang dipublikasikan ANTARA pada 16 Oktober 2026. Angka Rp500 miliar merupakan kebutuhan tahap pertama, bukan nilai seluruh paket yang telah terkontrak.