• Wed, Mar 2026

Eropa Terancam Menghadapi Krisis Gas Alam

Eropa Terancam Menghadapi Krisis Gas Alam

Eropa terancam menghadapi krisis gas alam. Pipa dari Rusia nyaris mengering. Pipa Norwegia, negara dengan cadangan gas alam yang besar di Laut Utara itu mendekati kapasitas maksimal. LNG Qatar tertahan di Selat Hormuz.

INDOWORK.ID, JAKARTA: Eropa terancam menghadapi krisis gas alam. Pipa dari Rusia nyaris mengering. Pipa Norwegia, negara dengan cadangan gas alam yang besar di Laut Utara itu mendekati kapasitas maksimal. LNG Qatar tertahan di Selat Hormuz.

Amerika Serikat punya pasokan besar, siap ekspor ke Eropa. Tapi bukan Donald Trump kalau tidak menggunakan kesempatan menggencet orang yang sedang tergencet.

Sementara itu, Nigeria, ekonomi terbesar di Benua Afrika, mengumumkan akan menerima yuan - selama ini hanya USD - sebagai pembayaran ekspor minyaknya.

Donald Trump langsung bereaksi. Mengancam akan menghancurkan Nigeria dengan kekuatan militer.

Semula AS berharap kasus Muammar Khadafi di Libya akan terulang di Iran. Provokasi akan menggerakkan rakyat untuk menumbangkan pemerintah sendiri. Bahkan membunuh kepala negara sendiri.

Iran saat diserang AS-Israel memang sedang mengalami gelombang demonstrasi. Tapi Iran tidak menghadapi oposisi bersenjata seperti Libya. Kesewenang-wenangan AS - Israel justeru merekatkan kembali persatuan rakyat.

Perang yang dirancang Donald Trump sebagai cerita pendek menjelma menjadi cerita bersambung.

Kalau perang memperluas sasaran dari instalasi militer ke infrastruktur energi maka Jazirah Arab akan gelap. Dan dunia akan terjerembab ke dalam krisis ekonomi.

Saya berharap dan berdoa semoga negara negara Arab yang selama ini memfasilitasi pangkalan militer AS, membayar upeti, menjual hasil sumber daya alam dalam USD, menyadari bahwa AS tidak melindungi keamanan mereka. AS memperalat mereka.

Terbuka peluang perang berakhir lebih cepat. Bukan karena akan ada peluang secara bersama melawan agresi AS, tapi manaikkan biaya logistik perang AS. Memaksa AS untuk menarik diri seperti di Vietnam. Juga seperti di Afganistan.

Setidaknya mereka menepis pernyataan Menlu Rusia bahwa para pemimpin negara-negara Arab lebih takut sama Trump ketimbang sama Allah.

*) Ditulis oleh Hasan Zein Mahmud, Ekonom dan Investor di Pasar Modal.