Piala Dunia 2026, Negara yang Saya Kunjungi Lolos ke Babak Gugur
Ternyata hidup saya seperti grup Piala Dunia. Setiap negara meninggalkan satu babak kenangan. Dan ketika mereka lolos ke babak gugur, kenangan itu ikut lolos juga.
April 2024, OJK mencabut izin 10 BPR/BPRS. Berita itu lagi-lagi mengingatkan kita: sektor perbankan nggak pernah benar-benar “aman” tanpa jaring pengaman. Di titik inilah peran Lembaga Penjamin Simpanan diuji.
April 2024, OJK mencabut izin 10 BPR/BPRS. Berita itu lagi-lagi mengingatkan kita: sektor perbankan nggak pernah benar-benar “aman” tanpa jaring pengaman. Di titik inilah peran Lembaga Penjamin Simpanan diuji.
Seberapa efektif LPS sebenarnya menjaga stabilitas? Pertanyaan itu dijawab lewat systematic literature review yang menganalisis 12 artikel kredibel dari database Emerald dan Elsevier. Metodenya ketat: pakai panduan PRISMA, disaring dari 637 artikel awal sampai sisa 12 artikel terbaik terindeks Scopus Q1-Q2. Hasilnya? Satu cerita panjang tentang kepercayaan, risiko, dan disiplin.
Krisis moneter 1997-1998 bikin bank ambruk satu-satu. Kepercayaan publik runtuh. Untuk memulihkan, pemerintah luncurkan Blanket Guarantee Scheme (BGS) Januari 1998. Skemanya simpel tapi berani: semua simpanan nasabah dijamin penuh.
Hasilnya cepat terasa. BGS berhasil menghentikan bank run dan mengembalikan kepercayaan. Nasabah nggak lagi antre panjang di depan bank. Seperti dicatat Hadad dkk. 2011 dan Nys dkk. 2015, jaminan total itu jadi “obat darurat” paling ampuh saat itu.
Tapi obat darurat punya efek samping: moral hazard. Agusman dkk. 2014 menemukan bank yang dijamin BGS cenderung ambil risiko lebih besar, apalagi saat persyaratan modal CAR dilonggarkan. Bank merasa “aman” karena ada pemerintah di belakang. Disiplin pasar melemah.
Menyadari risiko itu, September 2005 BGS diganti Limited Guarantee (LG). LPS resmi dibentuk untuk mengelola skema baru ini. Jaminannya terbatas: awalnya Rp100 juta, naik jadi Rp2 miliar Oktober 2008 saat krisis global.
Perubahan ini penting. Nys dkk. 2015 dan Hadad dkk. 2011 sepakat: LG mengembalikan disiplin pasar. Nasabah besar jadi lebih kritis memilih bank. Bank juga lebih hati-hati mengelola risiko karena nggak semua simpanan dijamin penuh lagi. LG dianggap lebih kredibel dan berkelanjutan.
Data LPS sampai Februari 2024 nunjukin dampaknya: 99,9% rekening bank umum dijamin, setara 568,5 juta rekening. Secara nominal 46,81% total simpanan atau Rp3.973 triliun. Sampai Triwulan I 2024, LPS sudah bayar klaim Rp1,99 triliun ke 323.251 rekening bank yang dicabut izinnya.
Sebanyak 12 artikel yang di-review sepakat soal 2 hal:
Penelitian Dewi & Wardhana 2022 kasih kunci: literasi keuangan. Nasabah yang paham risiko tetap bisa jadi “pengawas”. Mereka berani narik dana dari bank berisiko meski ada jaminan. Literasi = disiplin pasar versi modern.
Jaring Pengaman, Bukan “Selimut”
Kisah BGS ke LG mengajarkan satu hal: jaminan simpanan itu jaring pengaman, bukan selimut yang bikin tertidur. LPS sudah buktikan perannya sejak 2004 lewat UU No.24/2004: melindungi deposan, menyelesaikan bank gagal, dan jaga stabilitas sistemik.
Tapi stabilitas nggak kerja sendiri. Butuh bank yang disiplin, nasabah yang melek risiko, dan regulator yang awas. Apalagi dengan 1.672 bank yang beroperasi per Triwulan I 2024.
Krisis 1998 lahirkan LPS. Pencabutan izin BPR 2024 ingatkan kita kenapa LPS harus tetap kuat. Karena di ujungnya, yang dijaga bukan cuma uang di rekening. Tapi kepercayaan 270 juta orang Indonesia pada sistem perbankan.12 Jurnal, 1 Kesimpulan: Kenapa LPS Masih Jadi Kunci
Ternyata hidup saya seperti grup Piala Dunia. Setiap negara meninggalkan satu babak kenangan. Dan ketika mereka lolos ke babak gugur, kenangan itu ikut lolos juga.
Mesir lebih aktif menyerang dari berbagai sisi, termasuk mengandalkan Mohammad Salah (Liverpool) di kanan dan Omar Marmoush (Manchester City) di sisi kiri. Gol yang diciptakan Mostafa Zico pada babak kedua, berasal dari gebrakan dari sayap kanan, bek kanan Mohammad Hany mengirim umpan lambung ke tengah, dan disambut sundulan kepala Zico.
Sudah lebih dari 13 tahun saya tak menginjakkan kaki di Eropa. Tapi Piala Dunia 2026 mengembalikan semuanya. Lewat layar kaca, saya kembali berjalan di kanal Amsterdam, menatap Eiffel saat lampu-lampunya berkelip, mencicip wafel hangat di Brussel, dan mendengar denting jam di Zurich.