INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: Sepanjang 2025, pendapatan segmen energi baru dan terbarukan atau EBT DSSA mencapai US$316.955. Angka tersebut meningkat 351,6% dibandingkan dengan pendapatan 2024 sebesar US$70.182.
Persentase pertumbuhannya terlihat tinggi. Akan tetapi, kenaikan itu berasal dari basis pendapatan yang sangat rendah. Pendapatan EBT pada 2025 baru menyumbang 0,01% dari total pendapatan DSSA sebesar US$2,79 miliar.
Sebaliknya, bisnis pertambangan dan perdagangan batu bara masih menjadi tulang punggung perusahaan. Segmen tersebut menghasilkan pendapatan US$2,49 miliar atau sekitar 89,1% dari seluruh pendapatan DSSA.
Perbandingan itu memperlihatkan bahwa transformasi menuju energi bersih masih berada pada tahap awal. EBT telah mulai menghasilkan pendapatan, tetapi belum cukup besar untuk mengurangi ketergantungan DSSA terhadap batu bara.
Berdasarkan laporan segmen, beban pokok pendapatan EBT mencapai US$196.079. Dengan demikian, bisnis tersebut menghasilkan laba kotor atau hasil segmen sebesar US$120.876, setara dengan margin kotor sekitar 38,1%.
Margin itu cukup menarik. Namun, laporan keuangan DSSA tidak mengalokasikan beban usaha, pendapatan lain-lain, pajak, dan laba bersih per segmen untuk 2025. Karena itu, belum dapat dipastikan apakah bisnis EBT sudah menghasilkan laba bersih.
Kondisi tersebut berbeda dengan penyajian laporan 2024. Pada tahun itu, DSSA masih mencantumkan laba-rugi masing-masing segmen. Segmen EBT tercatat menderita rugi sebelum pajak US$3,99 juta dan rugi bersih US$4,01 juta.
Dengan kata lain, pertumbuhan pendapatan 351,6% belum otomatis menunjukkan bahwa bisnis EBT telah mencapai titik impas.
Aset Membesar, Monetisasi Masih Terbatas
DSSA mencatat aset segmen EBT sebesar US$75,22 juta pada akhir 2025, melonjak dari US$21,44 juta setahun sebelumnya. Dibandingkan dengan pendapatan US$316.955, tingkat perputaran asetnya baru sekitar 0,42%.
Rasio tersebut tidak dapat langsung diartikan sebagai inefisiensi karena sebagian besar aset masih berkaitan dengan proyek yang berada pada tahap survei, eksplorasi, pembangunan, atau pengembangan pasar. Namun, angkanya memperlihatkan besarnya jarak antara investasi yang telah ditempatkan dan pendapatan yang sudah berhasil dibukukan.
Perolehan barang modal segmen EBT tercatat sebesar US$4,12 juta atau sekitar 0,98% dari total perolehan barang modal seluruh segmen sebesar US$418,52 juta. Sebagai perbandingan, bisnis infrastruktur digital dan teknologi memperoleh alokasi US$390,09 juta atau sekitar 93,2%.
Angka tersebut memberikan sinyal bahwa ekspansi digital masih menjadi prioritas utama alokasi modal DSSA selama 2025.
Meski demikian, angka belanja barang modal segmen EBT tidak serta-merta menggambarkan keseluruhan investasi proyek. Sejumlah proyek energi bersih DSSA dijalankan melalui perusahaan patungan. Investasi pada perusahaan patungan dapat dicatat sebagai penyertaan atau investasi jangka panjang sehingga tidak seluruhnya masuk sebagai belanja modal konsolidasian.
Salah satunya adalah pabrik sel dan modul surya di Kendal, Jawa Tengah, yang dibangun melalui perusahaan patungan bersama Trina Solar Energy Development Pte Ltd dan PT PLN Indonesia Power Renewables.
Menunggu Panas Bumi dan Pabrik Surya
Prospek EBT DSSA bertumpu pada dua jalur utama, yakni panas bumi dan energi surya.
Pada panas bumi, DSSA bersama PT FirstGen Geothermal Indonesia mengembangkan portofolio dengan potensi awal 440 megawatt di enam wilayah. Pada energi surya, perusahaan telah mengoperasikan pabrik sel dan modul surya terintegrasi berkapasitas sekitar 1 gigawatt per tahun di Kendal.
Kedua proyek tersebut memberikan ruang pertumbuhan dalam jangka panjang. Pemerintah melalui RUPTL 2025–2034 merencanakan tambahan pembangkit EBT sebesar 42,6 GW, termasuk PLTS 17,1 GW dan PLTP 5,2 GW. [PLN menyebut RUPTL tersebut sebagai rencana ketenagalistrikan dengan porsi pembangkit hijau terbesar]
Peluang pasarnya tersedia. Tantangannya adalah mengubah potensi proyek menjadi kontrak, pendapatan, laba, dan arus kas.
Manajemen DSSA menyebut energi terbarukan sebagai salah satu mesin pertumbuhan masa depan. Namun, laporan keuangan menunjukkan bahwa bisnis tersebut masih lebih tepat dipandang sebagai investasi jangka panjang daripada penopang kinerja saat ini.
Investor masih membutuhkan sejumlah informasi penting, antara lain target pendapatan dan EBITDA EBT, kebutuhan belanja modal, sumber pendanaan, tingkat pengembalian investasi, serta kapan kontribusi segmen tersebut dapat mencapai porsi yang material terhadap pendapatan grup.
Tanpa ukuran tersebut, lonjakan 351,6% berisiko hanya menjadi angka pertumbuhan yang besar secara persentase, tetapi kecil secara ekonomi.