DDMF merupakan bagian dari ekosistem Danantara yang diarahkan untuk mendukung proyek pembangunan dan pelayanan publik dengan manfaat ekonomi dan sosial jangka panjang.
Managing Director Development Investment DDMF Rachmat Kaimuddin menyatakan lembaganya memiliki ruang melakukan investasi berjangka sangat panjang dan menerima tingkat pengembalian di bawah standar komersial.
Karakter tersebut memungkinkan DDMF menyediakan pembiayaan konsesional.
Dari 12 proyek yang disiapkan, sejumlah proyek telah disampaikan kepada publik. Selain Giant Sea Wall, pipeline mencakup pengolahan logam tanah jarang, gasifikasi batu bara, kendaraan listrik nasional, utility-scale solar and storage, serta pengembangan smart city.
Namun, masuknya proyek ke dalam pipeline tidak berarti seluruh proyek telah memperoleh pendanaan atau mencapai financial close.
Setiap proyek masih membutuhkan kesiapan teknis, struktur pembiayaan, studi kelayakan, pembagian risiko, dan kepastian sumber pendapatan sebelum investasi dapat berjalan.
Giant Sea Wall menjadi salah satu proyek yang paling menarik perhatian karena skalanya.
Pemerintah menempatkan pembangunan tanggul laut Pantai Utara Jawa sebagai bagian dari agenda jangka panjang menghadapi banjir rob, penurunan muka tanah dan ancaman kenaikan muka laut.
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya juga memasukkan Giant Sea Wall bersama DDMF dan pengembangan Pusat Finansial Internasional Indonesia sebagai bagian agenda transformasi ekonomi jangka panjang pemerintah.
Bagi pembiayaan infrastruktur, pembentukan DDMF menunjukkan perubahan pendekatan.
Persoalan pembangunan Indonesia selama ini bukan hanya kekurangan modal. Banyak proyek sulit mendapatkan pembiayaan komersial karena masa pengembalian investasi terlalu panjang, pendapatan tidak pasti atau manfaat ekonominya lebih banyak dinikmati masyarakat daripada investor.
Pembiayaan konsesional dapat mengisi celah tersebut.
DDMF dapat mengambil posisi pada tahap yang terlalu berisiko atau memiliki tingkat pengembalian terlalu rendah bagi investor komersial, kemudian menarik investor lain setelah proyek menjadi lebih matang.
Namun, pendekatan tersebut juga membutuhkan disiplin pemilihan proyek.
Tingkat pengembalian di bawah komersial tidak berarti kelayakan ekonomi dapat diabaikan. Pemerintah tetap harus menghitung manfaat, biaya, risiko, kebutuhan subsidi dan kewajiban jangka panjang dari setiap proyek.
Hal itu sangat penting untuk Giant Sea Wall.
Selain biaya konstruksi, proyek harus memperhitungkan pemeliharaan, dampak lingkungan dan sosial, perubahan tata ruang pesisir, sistem polder dan pompa, serta keterkaitannya dengan penurunan muka tanah.
Dengan demikian, keberhasilan DDMF tidak seharusnya dinilai dari besarnya nilai pipeline.
Ukuran yang lebih relevan adalah berapa proyek yang berhasil bergerak dari daftar prioritas menuju studi kelayakan, struktur transaksi, financial close, konstruksi dan akhirnya operasi.
Jika model tersebut berjalan, DDMF dapat menjadi jembatan antara proyek yang secara sosial diperlukan dan modal yang mencari investasi jangka panjang.
Sebaliknya, tanpa disiplin kelayakan, pipeline besar hanya akan menjadi daftar proyek yang terus berpindah dari satu rencana pembangunan ke rencana berikutnya.