Kemenhub Tambah Tiga Kapal untuk Urai Antrean Ketapang–Gilimanuk
Kementerian Perhubungan menambah tiga kapal berkapasitas besar untuk mengurai antrean kendaraan di lintasan Ketapang–Gilimanuk yang sempat mencapai sekitar 12 kilometer.
Sekitar 300 wisatawan dilaporkan meninggalkan Gili Trawangan lebih awal setelah pasokan air bersih terhenti dan mengganggu operasional hotel di tengah musim ramai kunjungan.
Ratusan wisatawan domestik dan mancanegara meninggalkan Gili Trawangan, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, lebih awal akibat gangguan pasokan air bersih.
Ketua Asosiasi Hotel Gili Trawangan Lalu Kusnawan mengatakan sekitar 300 wisatawan melakukan check-out lebih cepat. Pasokan air dilaporkan terhenti total sejak Kamis, 3 September 2026, pukul 00.00 WITA.
Sejumlah pengelola hotel menggunakan air kolam renang untuk memenuhi kebutuhan sanitasi. Pelaku usaha juga mendatangkan air bersih menggunakan kapal dari daratan Pulau Lombok, tetapi volumenya belum memenuhi kebutuhan seluruh properti.
Biaya operasional hotel meningkat karena pengadaan air melalui kapal lebih mahal dibandingkan pasokan jaringan. Gangguan terjadi pada musim ramai ketika kunjungan ke Gili Trawangan diklaim mencapai lebih dari 3.000 wisatawan per hari.
Asosiasi hotel meminta Pemerintah Kabupaten Lombok Utara dan Pemerintah Provinsi NTB segera memulihkan layanan. Pelaku usaha juga berencana mengirimkan surat mengenai krisis air tersebut kepada pemerintah pusat.
Penyebab teknis gangguan, kapasitas sistem, dan jadwal pemulihan belum diumumkan oleh pemerintah daerah ataupun perusahaan penyedia air. Angka wisatawan terdampak juga masih berdasarkan catatan asosiasi hotel.
Kementerian Perhubungan menambah tiga kapal berkapasitas besar untuk mengurai antrean kendaraan di lintasan Ketapang–Gilimanuk yang sempat mencapai sekitar 12 kilometer.
Hanya 73 dari 144 pelabuhan berstatus internasional di Indonesia yang tercatat aktif melayani ekspor pada 2025, memperlihatkan kesenjangan antara status administratif dan kinerja aktual pelabuhan.
Air merupakan fondasi penting bagi pembangunan berkelanjutan. Karena itu, penanganan kekeringan harus dilakukan secara cepat, terukur, dan terpadu, termasuk dengan mengoptimalkan infrastruktur sumber daya air agar air yang tersedia dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.