• Tue, Aug 2026

Prabowo Resmikan Lima Bendungan Senilai Rp9,79 Triliun, Layani Irigasi 39.540 Hektare

Prabowo Resmikan Lima Bendungan Senilai Rp9,79 Triliun, Layani Irigasi 39.540 Hektare

Presiden Prabowo Subianto meresmikan lima bendungan yang tersebar di Nusa Tenggara Barat, Aceh, Jawa Tengah, dan Bali. Kelima proyek infrastruktur sumber daya air itu dibangun dengan total nilai kontrak Rp9,79 triliun serta diproyeksikan melayani jaringan irigasi seluas 39.540 hektare.

INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: Peresmian dipusatkan di Bendungan Meninting, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, Jumat, 10 Juli 2026. Empat bendungan lainnya diresmikan bersamaan, yakni Bendungan Keureuto dan Rukoh di Aceh, Bendungan Jlantah di Jawa Tengah, serta Bendungan Sidan di Bali.

Berdasarkan data pemerintah, kelima bendungan tersebut secara keseluruhan memiliki kapasitas tampungan sekitar 371,23 juta meter kubik. Total luas genangannya mencapai sekitar 1.729,70 hektare.

Selain mendukung layanan irigasi, kelima bendungan mampu menyediakan air baku dengan kapasitas gabungan 3,6 meter kubik per detik. Bendungan juga berfungsi untuk mengendalikan banjir di daerah hilir serta mendukung penyediaan energi.

“Melalui lima bendungan ini, Bapak telah mendorong kemandirian bangsa dalam mendukung Asta Cita Bapak, khususnya terkait ketahanan pangan, ketahanan energi, dan ketahanan air,” kata Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo dalam laporannya.

Menurut Dody, pembangunan bendungan tidak hanya menghadirkan infrastruktur fisik. Keberadaannya juga menjadi fondasi untuk memperkuat kedaulatan pangan, air, dan energi nasional.

Bendungan Keureuto Memiliki Tampungan Terbesar

Dari lima infrastruktur yang diresmikan, Bendungan Keureuto di Kabupaten Aceh Utara memiliki kapasitas tampungan paling besar, yakni 215,94 juta meter kubik. Luas genangannya mencapai 896,39 hektare.

Bendungan Rukoh di Kabupaten Pidie, Aceh, memiliki kapasitas tampungan 128,65 juta meter kubik dan luas genangan 700 hektare.

Sementara itu, Bendungan Jlantah di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, mempunyai kapasitas tampungan 10,97 juta meter kubik dengan luas genangan 50 hektare.

Bendungan Meninting yang menjadi lokasi peresmian memiliki kapasitas tampungan 9,91 juta meter kubik dan luas genangan 46,16 hektare.

Adapun Bendungan Sidan di Kabupaten Gianyar, Bali, memiliki kapasitas tampungan 5,76 juta meter kubik dengan luas genangan 37,15 hektare.

Kelima bendungan dibangun dalam rentang 2015–2025. Proses pembangunan yang berlangsung sekitar satu dekade menunjukkan bahwa proyek infrastruktur sumber daya air memerlukan kesinambungan kebijakan lintas pemerintahan.

Prabowo Akui Peran Pemerintahan Sebelumnya

Dalam sambutannya, Presiden Prabowo menyampaikan rasa syukur karena pembangunan lima bendungan tersebut dapat diselesaikan dan diresmikan. Ia juga mengakui kontribusi pemerintahan sebelumnya dalam pembangunan proyek-proyek tersebut.

“Saya bersyukur bendungan ini bisa saya yang resmikan. Tetapi pendahulu-pendahulu saya semua berjasa,” ujar Prabowo.

Presiden mengingatkan seluruh unsur bangsa agar menempatkan kepentingan rakyat sebagai dasar dalam pembangunan dan pengelolaan infrastruktur.

“Saya selalu ingatkan seluruh bangsa, berpikirlah untuk bangsa, berpikirlah untuk rakyat, berpikirlah untuk kebaikan semua. Berpikirlah untuk seluruh keluarga besar, seluruh rakyat Indonesia,” katanya.

Pembangunan bendungan menjadi bagian penting dari upaya pemerintah memperkuat sistem pengairan nasional. Dengan layanan irigasi mencapai 39.540 hektare, kelima bendungan diharapkan membantu menjaga ketersediaan air pertanian dan meningkatkan kepastian musim tanam.

Penyediaan air baku sebesar 3,6 meter kubik per detik juga berpotensi mendukung kebutuhan masyarakat, kegiatan ekonomi, dan perkembangan kawasan di sekitar bendungan. Sementara itu, fungsi pengendalian banjir diperlukan untuk menekan risiko kerugian di wilayah hilir.

Namun, manfaat ekonomi kelima bendungan akan sangat ditentukan oleh kesiapan infrastruktur turunannya. Jaringan irigasi primer, sekunder, dan tersier perlu dibangun atau direhabilitasi agar air dari bendungan dapat benar-benar menjangkau lahan pertanian.

Pengelolaan daerah tangkapan air, sedimentasi, pemeliharaan bangunan, dan pengaturan distribusi air juga menjadi faktor penting untuk menjaga usia layanan bendungan. Tanpa dukungan jaringan dan pengelolaan yang memadai, kapasitas tampungan yang besar belum tentu langsung menghasilkan peningkatan produktivitas pertanian.

Karena itu, setelah peresmian, perhatian pemerintah perlu diarahkan pada optimalisasi manfaat bendungan, mulai dari penyaluran air ke sawah, penyediaan air baku, pengendalian banjir hingga pemanfaatan potensi energinya.