INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: Di balik deretan toko arloji, tas, dan barang perdagangan di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat, tersimpan salah satu bab penting dalam sejarah ekonomi, budaya, dan pergerakan nasional Indonesia. Toko Populer, yang kini masih berdiri sebagai bagian dari denyut niaga Pasar Baru, pernah menjadi tempat rekaman perdana lagu “Indonesia Raya” pada 1927.
Dalam ingatan publik, “Indonesia Raya” lebih sering dikaitkan dengan Kongres Pemuda II pada 1928 yang melahirkan Sumpah Pemuda. Namun, setahun sebelum lagu itu dimainkan dalam forum bersejarah tersebut, WR Supratman telah merekamnya dalam piringan hitam di sebuah toko modern di Pasar Baru.
Toko itu adalah Toko Populer. Pada masa Hindia Belanda, lokasi tersebut dikenal sebagai bagian dari jaringan usaha Tio Tek Hong, pengusaha peranakan Tionghoa yang menjadi salah satu pelopor perdagangan modern di Batavia. Bangunan tokonya disebut memiliki luas sekitar 1.700 meter persegi dan berada di kawasan strategis Pasar Baru, tepat di depan lokasi yang kini dikenal sebagai Toko Buku Gramedia.
Pasar Baru pada akhir abad ke-19 hingga pertengahan abad ke-20 merupakan salah satu pusat belanja paling bergengsi di Batavia. Kawasan ini menjadi etalase barang-barang Eropa, mulai dari perlengkapan rumah tangga, topi, senjata berburu, amunisi, alat musik, gramofon, hingga piringan hitam. Dalam konteks ekonomi kota, Pasar Baru adalah pusat konsumsi kelas menengah-atas sekaligus ruang masuknya teknologi dan budaya populer modern.
Tio Tek Hong bersama saudaranya, Tio Tek Tjoe, dikenal sebagai perintis toko dengan sistem harga pasti atau vaste prijs. Sistem ini membuat pembeli tidak perlu lagi tawar-menawar sebagaimana lazimnya transaksi di pasar tradisional. Toko pertama mereka dibuka di Jalan Pasar Baru Nomor 93 pada 1902.
Model bisnis ini menunjukkan pergeseran penting dalam sejarah ritel Indonesia. Perdagangan mulai bergerak dari pola tawar-menawar menuju sistem harga tetap yang lebih modern, transparan, dan terstandar. Praktik tersebut kemudian menjadi ciri penting toko-toko besar di kawasan perkotaan.
Toko NV Tio Tek Hong juga menerapkan libur usaha pada hari Minggu dan hari besar keagamaan. Kebijakan itu kemudian ditiru sejumlah pemilik toko lain di Pasar Baru yang sebelumnya membuka usaha tujuh hari dalam sepekan. Dalam skala sederhana, praktik ini menunjukkan bagaimana satu pelaku usaha dapat memengaruhi budaya kerja dan tata kelola perdagangan di kawasan niaga.
Bisnis Tio Tek Hong berkembang pesat ketika ia mulai mendatangkan fonograf dan gramofon dari Eropa pada 1904. Bersama perangkat itu, masuk pula piringan hitam yang kemudian memicu demam musik di Hindia Belanda. Piringan hitam berisi musik Melayu, keroncong, tambul, musik Tionghoa, dan musik Eropa mulai beredar luas.
Pada masa itu, gramofon dan piringan hitam bukan sekadar produk hiburan. Keduanya menjadi simbol status sosial dan penanda modernitas. Rumah-rumah kalangan berada, klub sosial, hingga stasiun radio menggunakan piringan hitam sebagai sumber hiburan dan informasi. Dari titik ini, Pasar Baru ikut berperan dalam membentuk ekosistem awal industri musik dan penyiaran di Nusantara.
Perkembangan bisnis piringan hitam berjalan seiring dengan tumbuhnya komunitas radio. Berbagai stasiun radio dan kelompok pencinta radio mulai bermunculan. Siaran musik Melayu, Jawa, keroncong, gambus, Mandarin, dan Eropa mengisi ruang dengar masyarakat kota. Banyak materi siaran berasal dari rekaman piringan hitam yang peredarannya berpusat di kawasan perdagangan seperti Pasar Baru.
Namun, perjalanan bisnis Tio Tek Hong tidak selalu mulus. Ketika Perang Dunia I pecah pada 1914, hubungan perdagangan antara Pulau Jawa dan Eropa terganggu. Banyak toko kehabisan pasokan dan terpaksa tutup. Toko NV Tio Tek Hong relatif mampu bertahan karena memiliki stok dagangan yang cukup besar.
Pada masa itu, Tio Tek Hong bahkan sempat membeli sejumlah rumah di sekitar tokonya dari pemilik yang membutuhkan uang. Dari sana, ia membangun kompleks pertokoan besar yang kemudian mengalami beberapa kali perombakan. Bangunan toko lama digambarkan megah, memanjang dari ujung Jalan Pintu Air hingga Jalan Pasar Baru.
Di atas bangunan itu terpasang patung burung elang. Menurut pemilik Toko Populer saat ini, Ayung, patung tersebut diyakini sebagai penolak bala dalam tradisi fengsui. Patung elang itu masih bertahan hingga kini, meski bangunan asli bergaya kolonial telah hancur akibat kebakaran pada 1970-an.
Memasuki masa Malaise atau depresi ekonomi global, bisnis Tio Tek Hong mulai goyah. Dalam bukunya, Keadaan Jakarta Tempo Doeloe: Sebuah Kenangan 1882–1959, Tio Tek Hong menulis bahwa usahanya tertekan akibat utang kepada Escompto Bank. Sejumlah lahan miliknya kemudian dilelang pada 1925. Setelah itu, NV Tio Tek Hong berakhir, sementara keluarga Tio membuka usaha yang lebih khusus, antara lain toko senjata api dan toko alat musik.
Pada fase berikutnya, Toko Populer dimiliki oleh Yo Kim Tjan. Di sinilah sejarah ekonomi bertemu dengan sejarah kebangsaan. Yo Kim Tjan membentuk Orkes Musik Populer, yang kemudian menjadi pengiring WR Supratman ketika merekam “Indonesia Raya” untuk pertama kali. Selain versi orkes, WR Supratman juga merekam lagu itu dalam permainan biola tunggal.
WR Supratman saat itu adalah wartawan muda sekaligus musisi. Ia bekerja di Sin Po, surat kabar Melayu-Tionghoa yang turut memberi ruang bagi gagasan kebangsaan Indonesia. Pada masa itu, pers Melayu-Tionghoa memainkan peran penting dalam peredaran gagasan modern, solidaritas Asia, dan penggunaan istilah “Indonesia” sebagai identitas politik baru.
Menurut cerita Kartika Yo, putri Yo Kim Tjan, dikutip dari Kompas.id, WR Supratman semula mendatangi Toko Odeon milik seorang Belanda untuk merekam lagu “Indonesia Raya”. Permintaan itu ditolak. Ia kemudian mendatangi Tio Tek Hong, tetapi juga belum berhasil. Akhirnya, WR Supratman bertemu Yo Kim Tjan dan keduanya sepakat merekam lagu tersebut di Toko Populer.
Situasi politik ketika itu tidak mudah. Pemerintah kolonial Hindia Belanda baru saja menumpas pemberontakan komunis pada akhir 1926. Pengawasan terhadap aktivitas politik dan kebangsaan sangat ketat. Karena itu, rekaman “Indonesia Raya” dilakukan dengan penuh kehati-hatian.

Untuk menghindari razia kolonial, piringan hitam rekaman “Indonesia Raya” sengaja tidak diberi label. Sepintas, piringan itu terlihat seperti rekaman kosong. Lagu tersebut disisipkan dalam kompilasi rekaman keroncong dengan iringan Orkes Populer dan rekaman solo biola WR Supratman.
Kartika Yo kemudian menyelamatkan piringan hitam rekaman itu saat mengungsi ke Garut, Jawa Barat, pada masa Agresi Militer Belanda I dan II. Ia mengingat pesan ayahnya agar rekaman itu dijaga segenap jiwa raga dan kelak dikembalikan kepada negara ketika Indonesia sepenuhnya merdeka dari Belanda.
Pada 1950-an, Menteri Penerangan Republik Indonesia memberikan surat penghargaan kepada Yo Kim Tjan dan keluarganya. Penghargaan itu menjadi pengakuan atas peran mereka dalam menjaga salah satu dokumen penting kelahiran simbol kebangsaan Indonesia.
Toko Populer juga menjadi bagian dari kehidupan sosial dan politik Jakarta pada dekade berikutnya. Menurut Ayung, dikutip dari Kompas.id, sekitar kawasan itu pernah menjadi tempat singgah sejumlah tokoh nasional. Perdana Menteri Djuanda dan Wakil Presiden Mohammad Hatta disebut biasa membeli atau memperbaiki kacamata di optik dekat Toko Populer. Sultan Hamengkubuwono juga pernah singgah di kawasan tersebut.
Ayung sendiri membeli Toko Populer pada akhir 1970-an setelah kebakaran menghancurkan bangunan asli tempat rekaman “Indonesia Raya”. Setelah itu, toko tersebut dibagi menjadi 17 kapling. Kini, jejak masa lalu toko itu tidak lagi tampak utuh. Bangunan kolonialnya hilang, tetapi memori sejarahnya tetap melekat.
Dalam perspektif ekonomi kota, Toko Populer memperlihatkan bagaimana ruang niaga bisa menjadi ruang kebudayaan dan politik. Ia bukan hanya tempat jual beli barang, melainkan juga titik temu teknologi rekaman, pers, musik, jaringan komunitas, dan gagasan kebangsaan.
Pasar Baru sendiri menjadi contoh bagaimana kawasan perdagangan memiliki lapisan sejarah yang panjang. Ia pernah menjadi pusat ritel modern, pintu masuk barang-barang global, pusat alat musik dan piringan hitam, sekaligus saksi lahirnya rekaman awal lagu kebangsaan.
Namun, hingga kini belum ada penanda sejarah yang memadai di Toko Populer. Padahal, di banyak negara, lokasi penting dalam sejarah nasional lazim diberi history marker agar publik mengetahui nilai sejarah tempat tersebut. Ketiadaan penanda membuat kisah besar itu berisiko tenggelam di tengah rutinitas perdagangan harian.
Menjelang peringatan kemerdekaan, sejarah Toko Populer layak dibaca kembali. Bukan hanya sebagai nostalgia, melainkan sebagai pengingat bahwa nasionalisme Indonesia juga tumbuh dari ruang-ruang ekonomi kota: toko, percetakan, surat kabar, studio rekaman, dan pasar.
Di Pasar Baru, sebuah toko pernah menjadi tempat bertemunya bisnis modern dan cita-cita kemerdekaan. Dari piringan hitam tanpa label itulah “Indonesia Raya” pertama kali direkam, disembunyikan, lalu diwariskan sebagai suara