Upaya memperluas pasar perumahan kembali terlihat dalam Danantara Housing Expo 2026 yang berlangsung pada 27–30 Agustus 2026. Pameran tersebut menawarkan lebih dari 360.000 unit rumah dari lebih 130 pengembang.
Ekosistem badan usaha milik negara (BUMN) turut membawa lebih dari 16.000 unit hunian yang tersebar di 98 proyek. Nilai proyek tersebut diperkirakan mencapai sekitar Rp9,79 triliun.
Ekspansi pasokan tersebut berjalan beriringan dengan kebijakan pemerintah memperbesar dukungan pembiayaan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Salah satu instrumen utamanya adalah Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP).
Pemerintah menetapkan kuota FLPP sebanyak 350.000 unit rumah. Jumlah itu menjadi salah satu instrumen untuk mendorong pencapaian agenda penyediaan tiga juta rumah sekaligus menjaga aktivitas industri properti dan sektor-sektor turunannya.
Namun, besarnya pasokan rumah tidak otomatis berujung pada kemampuan masyarakat membeli hunian. Persoalan utama pasar perumahan tetap berada pada jarak antara harga rumah dan kemampuan membayar masyarakat.
Karena itu, pemerintah membuka kemungkinan tenor pembiayaan hingga 40 tahun. Tenor yang lebih panjang memungkinkan cicilan bulanan ditekan sehingga rasio angsuran terhadap pendapatan calon debitur menjadi lebih rendah.
Skema tersebut berpotensi memperluas kelompok masyarakat yang sebelumnya sulit menjangkau KPR. Di sisi lain, tenor yang sangat panjang membawa konsekuensi terhadap lamanya kewajiban debitur dan profil risiko pembiayaan perumahan.
Cicilan Lebih Ringan
Perpanjangan tenor pada dasarnya bekerja dengan membagi kewajiban pembayaran dalam periode lebih lama. Dengan nilai pinjaman dan tingkat bunga yang sama, angsuran bulanan akan lebih rendah dibandingkan pembiayaan dengan tenor 15 atau 20 tahun.
Bagi pekerja muda dan kelompok berpendapatan terbatas, skema tersebut dapat membuka pintu masuk menuju kepemilikan rumah. Beban cicilan pada tahun-tahun awal menjadi lebih terjangkau.
Namun, cicilan bulanan yang lebih rendah tidak berarti harga rumah menjadi lebih murah. Perpanjangan tenor justru membuat debitur terikat pada kewajiban kredit dalam waktu jauh lebih panjang.
Karena itu, efektivitas tenor 40 tahun tidak cukup diukur dari penurunan cicilan bulanan. Pemerintah dan perbankan juga perlu memperhitungkan usia debitur, keberlanjutan pendapatan, kualitas pekerjaan, risiko kredit, serta kemampuan membayar dalam jangka panjang.
Persoalan tersebut semakin relevan karena sebagian kelompok sasaran perumahan bersubsidi bekerja di sektor informal atau memiliki pendapatan yang tidak selalu tetap.
Dalam kondisi seperti itu, harga rumah yang sesuai batas subsidi belum tentu identik dengan rumah yang benar-benar terjangkau.
Tantangan Bukan Hanya Pembiayaan
Persoalan perumahan Indonesia juga tidak berhenti pada akses kredit. Lokasi menjadi faktor penting yang menentukan nilai ekonomi sebuah hunian bagi masyarakat.
Rumah murah yang berada jauh dari pusat pekerjaan dapat memindahkan beban pengeluaran keluarga dari cicilan rumah ke biaya transportasi. Waktu perjalanan yang panjang juga menciptakan biaya ekonomi lain berupa kehilangan waktu produktif.
Karena itu, keberhasilan program perumahan tidak cukup dihitung berdasarkan jumlah rumah yang dibangun atau jumlah KPR yang disalurkan.
Ukuran lain perlu diperhatikan, mulai dari tingkat keterhunian, akses transportasi publik, ketersediaan sekolah dan fasilitas kesehatan, hingga jarak rumah terhadap pusat pekerjaan.
Persoalan ini penting terutama di kawasan metropolitan seperti Jabodetabek. Keterbatasan dan tingginya harga tanah mendorong pembangunan rumah terjangkau semakin jauh dari pusat aktivitas ekonomi.
Konsekuensinya, kebijakan perumahan semakin berkaitan dengan kebijakan transportasi.
Hunian murah tanpa konektivitas berpotensi menimbulkan biaya perjalanan tinggi. Sebaliknya, pembangunan transportasi massal tanpa kebijakan perumahan yang terintegrasi dapat mendorong kenaikan harga tanah di sekitar stasiun dan kembali menjauhkan kelompok berpenghasilan rendah.
Ujian Target 350.000 Rumah
Kuota FLPP sebanyak 350.000 unit menjadi ujian berikutnya. Angka tersebut tidak hanya menuntut ketersediaan anggaran pembiayaan, tetapi juga pasokan rumah yang sesuai kebutuhan masyarakat.
Kecepatan penyaluran FLPP perlu dibaca bersama sejumlah indikator lain, seperti jumlah permohonan KPR yang ditolak, profil pendapatan penerima, lokasi rumah, kualitas bangunan, serta tingkat keterhunian setelah rumah diserahterimakan.
Hal itu penting agar kebijakan perumahan tidak semata-mata mengejar angka penyaluran.
Pameran yang menawarkan ratusan ribu unit menunjukkan pasokan properti tersedia. Pertanyaan berikutnya adalah berapa banyak rumah tersebut yang sesuai dengan kemampuan ekonomi dan kebutuhan lokasi calon pembeli.
Di sisi lain, peningkatan penyaluran pembiayaan rumah dapat memberikan efek berganda terhadap perekonomian. Industri properti mempunyai keterkaitan panjang dengan sektor semen, baja, keramik, kaca, furnitur, sanitasi, jasa konstruksi, transportasi, hingga tenaga kerja.
Program perumahan dalam skala besar karena itu tidak hanya menjadi kebijakan sosial, tetapi juga instrumen penggerak ekonomi domestik.
Namun, manfaat tersebut akan lebih kuat apabila rumah yang dibangun benar-benar dihuni dan menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat.
Dari Jumlah Rumah ke Kualitas Akses
Kebijakan tenor hingga 40 tahun menunjukkan pemerintah mencoba mengatasi persoalan keterjangkauan melalui sisi pembiayaan. Strategi itu dapat memperbesar akses, terutama bagi masyarakat yang memiliki pendapatan cukup untuk mencicil tetapi terkendala besarnya angsuran bulanan.
Namun, pembiayaan hanyalah satu bagian dari persoalan.
Harga tanah, lokasi hunian, transportasi publik, kualitas bangunan, kepastian pendapatan pekerja, serta ketersediaan fasilitas dasar menentukan apakah sebuah rumah benar-benar terjangkau.
Karena itu, keberhasilan kebijakan perumahan pada akhirnya tidak cukup dinilai dari berapa panjang tenor KPR atau berapa ratus ribu unit rumah yang dibiayai.
Ukuran yang lebih mendasar adalah apakah masyarakat dapat memperoleh rumah yang layak, berada di lokasi yang memungkinkan mereka bekerja secara produktif, dan membayarnya tanpa membuat keuangan keluarga terbebani selama puluhan tahun.
Di titik itulah target besar pembangunan perumahan menghadapi ujian sesungguhnya: mengubah akses terhadap kredit menjadi akses terhadap hunian yang layak dan terjangkau.