LPDS: Wartawan harus lebih Pintar dari AI
Wartawan dituntut lebih pintar dari teknologi artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan, karena lebih memiliki nurani dan etika jurnalistik.
Chairil Gibran Ramadhan dan karya antologi tunggalnya Sebelas Colen di MALAM LEBARAN
Betawi Institute mencanangkan gerakan atau aksi Bela Betawi Liwat Literasi untuk menyambut Bulan Bahasa dan Sastra 2026 pada Oktober tahun ini.
Betawi Institute mencanangkan gerakan atau aksi Bela Betawi Liwat Literasi untuk menyambut Bulan Bahasa dan Sastra 2026 pada Oktober tahun ini.
Bulan Bahasa dan Sastra merupakan agenda tahunan untuk menyambut Sumpah Pemuda yang digelar oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Momentum tersebut dimanfaatkan oleh warga Betawi melalui Betawi Institute untuk menggelar aksi atau gerakan bertajuk Bela Betawi Liwat Literasi.
Chairil Gibran Ramadhan, pendiri Betawi Institute dan Poestaka Betawi, mengatakan ungkapan “Bela Betawi” mengandung makna membela harkat dan martabat Betawi melalui literasi.
Hal itu, katanya, terkait dengan pendokumentasian dalam bentuk buku yang dia nilai sangat penting.
“Literasi jangan diartikan dangkal sebatas baca puisi di panggung keriaan. Kenali sejarah dan budaya Betawi, Batavia, Jakarta melalui tulisan. Pendokumentasinya dalam bentuk buku adalah hal yang sangat penting. Buku menguasai ruang dan waktu,” ujar tokoh Betawi yang akrab disapa dengan inisial CGR tersebut.
Dia menambahkan institusinya juga akan merealisasikan gerakan literasi itu dengan menerbitkan lima buku dari tiga penulis, yaitu Aba Mardjani, Misbach Yusa Biran, dan Chairil Gibran Ramadhan.
Adapun rincian kelima buku itu adalah sebagai berikut
- Karya Aba Mardjani: Seribu Tokoh Betawi: Jakarta dan Sekenanya , Hikayat Pesastra: Jakarta dan Sekenanya , serta Bang Jali Kondangan: Setangkle Sketsa Humor Betawi
- Karya Misbach Yusa Biran: Keadjaiban di Pasar Senen: Sekumpulan Ceritera di Jakarta 1950-1960
- Karya Chairil Gibran Ramadhan: Dajoeng Sampan Dibawah Boelan
Menurut rencana, lima buku itu akan diterbitakan pada 2027 dalam rangka peringatan Lima Abad Jakarta.
CGR menegaskan penerbitan lima buku itu menjadi langkah nyata dalam membela literasi Betawi karena selama ini kaum Betawi ditakar jauh dari dunia literasi.
Dia berharap kelima buku itu bisa menjadi koleksi kampus, instansi pemerintah, perkumpulan baca, hingga kedutaan besar di wilayah Tanah Betawi.
Dia mengakui selama 500 tahun perjalanan Kota Jakarta, belum pernah ada satu pun tokoh Betawi yang menyatakan diri dan memiliki perhatian terhadap sejarah dan budaya Betawi-Jakarta. Apalagi, tokoh yang memelopori gerakan literasi dan membawa citra baru atas Betawi agar menjadi intelek dan elegan.
"Kebanyakan dari mereka tujuannya adalah menjadi ketua ormas dan terjun ke politik. Tidak ada yang concern dan menjadi fasilitator gerakan literasi." tambah CGR.
Padahal dia berharap, ada tokoh Betawi yang bergerak seperti Richard Oh sang pelopor Khatulistiwa Literary Award.
Begitu juga dengan Denny JA yang memfasilitasi penerbitan buku, penyelenggaraan sayembara menulis, hingga memberi penghargaan bagi para penulis.
Namun, harapan itu rupanya hanya khayalan belaka karena para orang kaya Betawi dan para tokoh politik, tidak ada yang menanggapi ajakan menjalankan gerakan Bela Betawi Liwat Literasi. 
Wartawan dituntut lebih pintar dari teknologi artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan, karena lebih memiliki nurani dan etika jurnalistik.
Dimas Agung, sutradara film dokumenter, mendapat darah Betawi dari garis ayah yang bernama Danu Wijaya. Kakeknya H. Abdul Karim bin Napis, Betawi asli Kampung Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan.
Sebanyak 227.365 satuan pendidikan di Indonesia membutuhkan sambungan baru atau penambahan daya listrik untuk mendukung program digitalisasi pembelajaran.
