INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA -- Wartawan dituntut lebih pintar dari teknologi artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan, karena lebih memiliki nurani dan etika jurnalistik.
Anthonius Jimmy Silalahi, Direktur Eksekutif LPDS, menilai wartawan harus mampu beradaptasi di tenah pesatnya penggunaan AI oleh masyarata dalam menggali informasi.
Adaptasi tersebut, katanya, bukan sekadar mengajarkan wartawan cara menggunakan teknologi AI untuk menulis atau memverifikasi fakta, tetapi juga membangun kesadaran kritis agar jurnalis tidak digantikan oleh mesin.
"AI bisa membantu kecepatan, tapi AI tidak punya nurani, tidak punya etika jurnalistik, dan tidak bisa turun ke lapangan untuk merasakan denyut nadi masyarakat. Itu yang harus terus kita tanamkan dalam setiap pelatihan di LPDS," katanya dalam acara serah terima jabatan dari Direktur Eksekutif sebelumnya, Kristanto Hartadi, di Jakarta, Rabu (21/10/2026).
Serah terima jabatan itu menandai babak baru kepemimpinan di lembaga pendidikan jurnalistik tertua di Indonesia–yang dibentuk oleh Dewan Pers melalui sidang pleno pada tahun 1987–setelah direktur eksekutif sebelumnya, Kristanto Hartadi, mengundurkan diri setelah menjabat selama tiga tahun sejak 2023.
Menurut Jimmy, situasi bangsa yang dihadapkan pada beragam problematika sosial, politik, dan ekonomi justru menuntut kehadiran pers yang semakin kuat dan berkualitas.
Ia menilai, publik membutuhkan berita-berita yang tidak hanya cepat, tetapi akurat, berimbang, dan mampu mengedukasi. Hal tersebut sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers yang menempatkan pers sebagai pilar demokrasi dan lembaga kontrol sosial.
Menjawab tantangan tersebut, Jimmy menegaskan komitmen LPDS untuk tetap berada di khittahnya sebagai lembaga pendidikan pers.
"LPDS lahir dari amanat Dewan Pers pada 1987 untuk mendidik pers. Komitmen itu tidak berubah: melatih wartawan agar menghasilkan berita berkualitas yang mengedukasi publik. Tantangannya hari ini adalah beradaptasi, termasuk menghadapi kecerdasan buatan," tegasnya.
Jimmy secara terbuka menyampaikan keprihatinan terhadap kondisi pers nasional saat ini. "Kita harus jujur mengakui, pers kita sekarang tidak sedang baik-baik saja. Di satu sisi kita dihadapkan pada disrupsi teknologi dan kecerdasan buatan yang mengubah total lanskap produksi dan distribusi berita, ujar Jimmy .
“Di sisi lain, kita masih bergulat dengan persoalan fundamental soal kualitas, independensi, dan kepercayaan publik," kata dia.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh jajaran dan berharap kepemimpinan baru dapat membawa LPDS semakin adaptif terhadap zaman. Prosesi serah terima tersebut menandai babak baru kepemimpinan di lembaga pendidikan jurnalistik tertua di Indonesia, yang dibentuk oleh Dewan Pers melalui sidang pleno pada tahun 1987.
Turut hadir dalam acara tersebut Wakil Ketua Dewan Pers, Totok Suryanto , Anggota Dewan Pers Maha Eka Swasta, Ketua Dewan Pengawas TVRI Agus Sudibyo, Dewan Pengawas RRI Sulaeman, Pembina Yayasan Multimedia Adinegoro Bambang Harymurti, Dewan Pengawas Priyambodo, Lahyanto Nadie, dan Maria D. Andriana, Sekjen PWI Pusat Marthen Slamet Susanto dan sejumlah tokoj pers nasional .
Totok dalam sambutannya menyoroti kondisi pers digital saat ini yang tumbuh sangat pesat namun dihadapkan pada tantangan serius.
"Sekarang ini pers digital tumbuh luar biasa, tetapi juga menghadapi tantangan berat. Banjir informasi, disrupsi algoritma, dan kehadiran AI membuat batas antara berita berkualitas dan sekadar konten menjadi kabur,” ujar Totok.
Dia menilai di sinilah peran LPDS menjadi sangat vital untuk menjaga marwah jurnalistik. Ia menegaskan Dewan Pers sebagai lembaga yang melahirkan LPDS akan terus mendukung program pendidikan pers untuk memastikan wartawan Indonesia memiliki kompetensi dan menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik di era digital.
Lebih jauh, Jimmy mengajak seluruh pemangku kepentingan, baik dari kalangan swasta, pemerintah, maupun industri media sendiri, untuk berkolaborasi membangun ekosistem pers yang sehat.
"Oleh sebab itu, LPDS mengajak semua pihak, baik swasta maupun pemerintah, untuk berkolaborasi menyiapkan pers yang berkualitas dengan melakukan berbagai inovasi program pelatihan kejurnalistikan di seluruh penjuru tanah air," ujarnya.
Ia menutup sambutannya dengan sebuah penegasan tentang korelasi antara kemajuan bangsa dan kemajuan pers. "Untuk menjadi bangsa yang maju, harus memiliki pers yang maju. Mari mewujudkannya bersama LPDS," pungkas toto .
Selama hampir empat dekade, LPDS telah melatih ribuan wartawan dari berbagai daerah di Indonesia dan dikenal konsisten menjaga standar profesionalisme serta etika jurnalistik.