• Tue, Feb 2026

Kerupuk dan Rantai Nilai

Kerupuk dan Rantai Nilai

Kemarin saya bertemu dengan pedagang kerupuk. Sebut saja namanya Ujang. Asalnya dari Tasikmalaya. Dia berdagang sudah puluhan tahun. Mulanya dari ikut orang, kemudian bikin usaha sendiri. Dia bilang, “Lumayan saya bisa ambil untung, modal 40 persen, saya 30 persen, dan warung 30 persen, karena saya ngider sendiri.”
Saya bertanya, “Pak kok semua dikerjain sendiri?” Dia jawab “Ya enggak atuh, kerupuknya saya ambil dari kampung saya, temen sendiri.” Lalu dia melanjutkan, “Kalau goreng dan jual ya saya masih sanggup, sambil dibantu keluarga juga, lumayan hasilnya.”
Dalam benak saya, pedagang kecil seperti itu ternyata sudah kenal konsep multisourcing dan cross sourcing dalam menerapkan rantai pasok. Dia paham kalau semua dikerjakan dia tidak bisa fokus. Dampaknya, bisnis tidak bisa berkembang.
Belum lama ini, saya ke pabrikasi Komatsu Indonesia. Di sana saya melihat konsep rantai pasok diterapkan dalam bentuk yang sama. Hanya bedanya karena perusahaan ini sudah established, ada kualifikasi yang jelas.
Dalam skala apapun, akan selalu ada ekosistem yang terkait. Ternyata berbisnis adalah soal koneksi rantai nilai. Bisa saja itu datang dari keluargamu sendiri.