INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: PT United Tractors Tbk menghadapi tekanan berat pada awal 2026. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk pada kuartal I-2026 merosot 79,8 persen menjadi Rp642,76 miliar, dibandingkan Rp3,19 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Penurunan laba berlangsung jauh lebih dalam daripada kontraksi pendapatan. Sepanjang Januari–Maret 2026, emiten berkode saham UNTR itu membukukan pendapatan Rp28,55 triliun, turun 16,7 persen dari Rp34,26 triliun pada kuartal I-2025.
Laba per saham dasar ikut menyusut dari Rp878 menjadi Rp181 per saham. Laporan keuangan kuartal pertama tersebut merupakan laporan interim yang belum diaudit.
Tekanan laba mulai terlihat pada tingkat laba bruto. Beban pokok pendapatan mencapai Rp23,73 triliun, sehingga laba bruto turun 31,7 persen dari Rp7,07 triliun menjadi Rp4,83 triliun.
Akibatnya, margin laba bruto menyempit dari sekitar 20,6 persen menjadi 16,9 persen. Dengan kata lain, setiap Rp100 pendapatan pada kuartal I-2026 hanya menghasilkan laba bruto sekitar Rp16,90, dibandingkan Rp20,60 pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Penjualan emas dan RKAB batu bara menjadi tekanan utama
Dalam rilis resmi kinerja semester pertama yang diterbitkan pada 29 Juli 2026, United Tractors menjelaskan bahwa pelemahan kinerja terutama dipengaruhi oleh penjualan emas yang lebih rendah dari PT Agincourt Resources, pengelola Tambang Emas Martabe.
Penjualan emas turun karena operasional Tambang Emas Martabe sempat dihentikan sementara. Perseroan menyatakan tambang tersebut telah kembali beroperasi pada periode pelaporan kuartal kedua.
Meski operasi telah dilanjutkan, dampak penghentian sementara masih terlihat pada kinerja enam bulan pertama. Total penjualan setara emas dari PT Agincourt Resources dan PT Sumbawa Jutaraya hanya mencapai 23.000 ons, turun tajam dibandingkan 125.000 ons pada semester I-2025.
Pendapatan segmen pertambangan emas dan mineral lainnya pun merosot 66 persen menjadi Rp2,4 triliun. Penurunan itu terutama disebabkan oleh anjloknya penjualan emas sebesar 82 persen.
Tekanan lain datang dari penurunan alokasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya atau RKAB batu bara nasional pada 2026. Kebijakan tersebut memengaruhi target produksi perusahaan-perusahaan tambang, yang selanjutnya menekan permintaan alat berat, aktivitas kontraktor pertambangan, dan volume penjualan batu bara United Tractors.
Pada semester I-2026, penjualan alat berat Komatsu turun 27 persen menjadi 1.994 unit. Penjualan mesin berukuran besar untuk sektor pertambangan bahkan merosot 55 persen menjadi 325 unit.
Kondisi itu membuat pendapatan bersih segmen alat berat turun 28 persen menjadi Rp15 triliun. Penurunan dapat sedikit ditahan oleh pendapatan penjualan suku cadang dan jasa pemeliharaan yang naik tipis dari Rp5,4 triliun menjadi Rp5,5 triliun.
Biaya administrasi melonjak
Selain penurunan pendapatan, laba kuartal pertama tertekan oleh kenaikan biaya usaha. Beban umum dan administrasi melonjak sekitar 65,4 persen, dari Rp1,41 triliun menjadi Rp2,34 triliun.
Beban penjualan juga meningkat 23,2 persen menjadi Rp285,13 miliar. Kenaikan biaya tersebut terjadi ketika pendapatan perseroan sedang menurun.
Setelah memperhitungkan beban penjualan dan administrasi, laba operasional indikatif menyusut menjadi sekitar Rp2,21 triliun, dibandingkan Rp5,43 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kinerja juga terbebani oleh bagian kerugian dari ventura bersama sebesar Rp445,33 miliar, hampir lima kali lipat dibandingkan Rp90,54 miliar pada kuartal I-2025.
Sementara itu, bagian kerugian dari entitas asosiasi berkurang dari Rp411,20 miliar menjadi Rp100,23 miliar. Secara gabungan, investasi pada entitas asosiasi dan ventura bersama masih mengurangi laba perseroan sekitar Rp545,56 miliar.
Laba sebelum pajak akhirnya turun 70,6 persen menjadi Rp1,31 triliun. Setelah dikurangi beban pajak Rp629,75 miliar, laba bersih konsolidasian tersisa sekitar Rp685 miliar, turun 79,2 persen secara tahunan.
Margin laba bersih pun menyusut dari sekitar 9,6 persen menjadi 2,4 persen.
Arus kas operasi berbalik negatif
Tekanan keuangan United Tractors tidak hanya terlihat dalam laporan laba rugi. Arus kas bersih dari aktivitas operasi pada kuartal I-2026 berbalik negatif sebesar Rp821,65 miliar. Setahun sebelumnya, perseroan masih membukukan arus kas operasi positif Rp7,50 triliun.
Penerimaan dari pelanggan turun dari Rp32,50 triliun menjadi Rp28,35 triliun. Sebaliknya, pembayaran kepada pemasok atas barang dan jasa meningkat dari Rp19,93 triliun menjadi Rp24,10 triliun.
Pembayaran gaji dan tunjangan juga naik dari Rp3,20 triliun menjadi Rp3,45 triliun. Akibatnya, kas yang dihasilkan dari kegiatan operasi sebelum bunga dan pajak merosot dari Rp9,38 triliun menjadi hanya Rp800,22 miliar.
Setelah pembayaran bunga dan pajak diperhitungkan, arus kas operasi menjadi negatif.
Perbedaan antara laba dan arus kas menjadi salah satu catatan penting. Secara akuntansi, United Tractors masih mencetak laba bersih, tetapi kegiatan operasionalnya belum menghasilkan kas bersih selama tiga bulan pertama 2026.
Kas dan setara kas pun turun dari Rp26,57 triliun pada akhir Desember 2025 menjadi Rp20,56 triliun pada akhir Maret 2026.
Pendapatan semester pertama turun 15 persen
Tekanan kinerja berlanjut hingga semester pertama. Berdasarkan rilis resmi perseroan, pendapatan bersih United Tractors pada Januari–Juni 2026 mencapai Rp58,3 triliun, turun 15 persen dari Rp68,5 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Perseroan melaporkan laba bersih di luar pos nonberulang atau *non-recurring items* sebesar Rp4,3 triliun, turun 48 persen secara tahunan.
Angka laba bersih yang disesuaikan tersebut tidak dapat dibandingkan secara langsung dengan laba kuartal I-2026 yang turun hampir 80 persen. Laba semester pertama Rp4,3 triliun telah mengecualikan pos nonberulang, sedangkan angka kuartal pertama merupakan laba bersih yang dilaporkan dalam laporan keuangan.
Sepanjang semester I-2026, United Tractors membukukan pos nonberulang sebesar Rp3,3 triliun. Pos tersebut terutama berasal dari penurunan nilai investasi pada Supreme Geothermal Energy serta pembayaran terkait kegiatan sebelumnya di kawasan hutan sehubungan dengan Persetujuan Pemanfaatan Kawasan Hutan di Tambang Nikel Stargate.
Penurunan nilai menunjukkan nilai tercatat investasi atau aset panas bumi harus disesuaikan karena estimasi manfaat ekonominya lebih rendah. Sementara pembayaran terkait kawasan hutan menjadi beban yang berhubungan dengan aktivitas masa lalu di tambang nikel.
Kedua pos tersebut memperbesar perbedaan antara laba operasional yang disesuaikan dan laba bersih yang dilaporkan perseroan.
Kontraktor pertambangan menjadi penahan
Di tengah penurunan sebagian besar segmen, bisnis kontraktor pertambangan menjadi penahan kinerja United Tractors.
Pendapatan segmen yang dioperasikan PT Pamapersada Nusantara dan PT Kalimantan Prima Persada itu naik 4 persen menjadi Rp27,2 triliun. Peningkatan terutama ditopang penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat.
Namun, kenaikan pendapatan tidak sepenuhnya mencerminkan pertumbuhan aktivitas operasional. Volume pemindahan tanah turun 10 persen menjadi 481 juta bank cubic meter, sedangkan produksi batu bara untuk klien turun 3 persen menjadi 67 juta ton.
Rata-rata rasio pengupasan atau *stripping ratio* tercatat 7,2 kali. Penurunan volume mengikuti penyesuaian target produksi klien berdasarkan RKAB yang disetujui pemerintah.
Di bisnis pertambangan batu bara termal dan metalurgi, volume penjualan turun 10 persen menjadi 6 juta ton, termasuk 1,6 juta ton batu bara metalurgi. Pendapatan segmen tersebut turun 4 persen menjadi Rp12,9 triliun.
Beralih dari kas bersih menjadi utang bersih
Perubahan penting juga terjadi pada struktur pendanaan. Per 30 Juni 2026, United Tractors mencatat utang bersih sebesar Rp9,4 triliun dengan rasio gearing 8,5 persen.
Posisi tersebut berbalik dibandingkan akhir 2025, ketika perseroan masih memiliki kas bersih sebesar Rp7,7 triliun. Dengan demikian, terjadi perubahan posisi keuangan sekitar Rp17,1 triliun dalam enam bulan.
Menurut perseroan, perubahan tersebut terutama mencerminkan pengeluaran untuk mengakuisisi perusahaan pertambangan emas dan pelaksanaan program pembelian kembali saham.
Pada kuartal pertama saja, laporan arus kas menunjukkan pembayaran untuk memperoleh entitas anak mencapai sekitar Rp8,73 triliun. Ekspansi melalui akuisisi tersebut menjadi pengeluaran investasi terbesar perseroan dalam periode tersebut.
Buyback terus berlanjut
Pada saat laba dan arus kas mengalami tekanan, United Tractors tetap melanjutkan program pembelian kembali saham atau buyback.
Perseroan menyelesaikan program buyback tahap ketiga pada 30 Juni 2026 dengan membeli kembali 33,8 juta saham. United Tractors kemudian mengumumkan tahap keempat dengan nilai maksimal Rp2 triliun untuk periode 1 Juli hingga 30 September 2026.
Secara akumulatif, perseroan telah membeli kembali sekitar 237 juta saham dengan nilai mencapai Rp7,1 triliun sejak program pertama pada Juli 2022 hingga Januari 2023 dan kelanjutan tiga tahap program pada 2026.
Manajemen menyebut kebijakan tersebut mencerminkan keyakinan terhadap prospek perusahaan dan kemampuan menghasilkan arus kas berkelanjutan. Program itu juga disebut sebagai bagian dari dukungan terhadap stabilitas pasar modal.
Namun, berlanjutnya buyback bersamaan dengan peningkatan utang bersih membuat kebijakan alokasi modal United Tractors menjadi perhatian. Pasar akan mencermati keseimbangan antara kebutuhan membiayai akuisisi, menjaga likuiditas, melanjutkan buyback, dan memulihkan kinerja operasional.
Martabe mulai beroperasi kembali
Beroperasinya kembali Tambang Emas Martabe pada kuartal kedua membuka peluang pemulihan produksi dan penjualan emas pada paruh kedua 2026.
Meski demikian, tingkat pemulihan masih bergantung pada kecepatan normalisasi operasi, volume produksi, kadar bijih, realisasi penjualan, serta perkembangan harga emas.
Pada bisnis batu bara dan alat berat, prospek United Tractors akan banyak dipengaruhi realisasi RKAB nasional dan kemungkinan penyesuaian target produksi para pelanggan tambang.
Kinerja semester pertama memperlihatkan bahwa diversifikasi bisnis belum sepenuhnya mampu menutup tekanan yang terjadi secara bersamaan pada emas, alat berat, dan pertambangan batu bara. Penguatan dolar Amerika Serikat memang membantu pendapatan kontraktor pertambangan, tetapi belum cukup untuk mengimbangi penurunan pada segmen lainnya.