INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: PT Bach Multi Global Tbk (BACH) berpotensi mendapatkan dorongan dari ekspansi infrastruktur telekomunikasi nasional. Salah satu katalis utamanya datang dari kinerja PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), yang menjadi pelanggan terbesar BACH.
Dalam laporan pembaruan perusahaan, TOWR mencatat pertumbuhan pendapatan 12,7 persen secara tahunan menjadi Rp7,2 triliun pada semester I 2026. Laba bersih TOWR juga naik 12,1 persen menjadi Rp1,85 triliun. Kinerja tersebut mencerminkan permintaan yang masih sehat terhadap pengembangan dan pemeliharaan infrastruktur telekomunikasi.
Bagi BACH, ekspansi TOWR penting karena perseroan menyediakan sejumlah layanan pendukung infrastruktur telekomunikasi. Layanan tersebut meliputi site acquisition atau SITAC, civil mechanical & electrical works, konstruksi fiber optik, pemeliharaan menara, preventive dan corrective maintenance, serta mobile backup power solutions.
Basis Klien Beragam
Selain TOWR, BACH juga memiliki portofolio pelanggan dari sejumlah perusahaan besar dan BUMN. Daftar kliennya mencakup BRI, Bank Mandiri, Indosat Ooredoo Hutchison, XLSMART, Huawei, Kereta Api Indonesia, Centratama Group, Protelindo Group, Waskita Karya, Mora Telematika, dan Sumberdaya Sewatama.
Portofolio tersebut menunjukkan BACH tidak hanya bergerak di penjualan genset, tetapi juga masuk ke rantai pasok infrastruktur telekomunikasi. Perseroan menyediakan layanan end-to-end mulai dari SITAC, CME, BTS colocation, pembangunan dan ekspansi jaringan fiber optik, relokasi dan pembongkaran menara, hingga layanan FTTH project management office.
Kombinasi basis klien yang luas dan layanan komprehensif dipandang dapat memperkuat pendapatan berulang, meningkatkan retensi pelanggan, serta memosisikan BACH untuk ikut menikmati ekspansi konektivitas digital Indonesia.
Genset dan Backup Power Tetap Relevan
Di tengah pertumbuhan kebutuhan jaringan digital, layanan daya cadangan menjadi semakin penting. Infrastruktur telekomunikasi membutuhkan pasokan listrik yang stabil agar BTS, jaringan fiber, dan layanan digital dapat beroperasi tanpa gangguan.
BACH memasarkan berbagai jenis genset berbahan bakar diesel, bensin, dan gas dengan kapasitas 7 kVA hingga 3.000 kVA. Perseroan juga menyediakan layanan rental genset untuk kebutuhan PLTD maupun komersial, termasuk instalasi, operasi, dan pemeliharaan selama masa sewa.
Dengan posisi tersebut, BACH berada di persimpangan dua tren: kebutuhan energi cadangan dan ekspansi infrastruktur telekomunikasi. Keduanya berpotensi menjaga permintaan terhadap produk serta layanan perseroan.
Namun, tantangan tetap perlu dicermati. Pertumbuhan bisnis yang cepat perlu diimbangi pengelolaan modal kerja, efisiensi biaya, dan kualitas kontrak. Jika BACH mampu menjaga utilisasi aset dan memperluas basis pelanggan, perseroan berpeluang mempertahankan pertumbuhan kinerja dalam jangka menengah.