Di balik gerbang bertuliskan “Passer Baroe”, toko-toko tua masih membuka pintunya setiap pagi. Pedagang tekstil menyusun gulungan kain. Penjual sepatu membersihkan etalase. Pemilik toko jam menunggu pembeli yang tak lagi seramai masa lalu.
Mereka bertahan melewati perubahan zaman: dari kejayaan pusat belanja elite Batavia, tumbuhnya pusat perbelanjaan modern, perdagangan daring, hingga pandemi. Sebagian toko tetap hidup karena nama yang diwariskan lintas generasi. Sebagian lain sekadar menjaga pintu agar sejarah keluarga tidak berhenti.
Yang tidak banyak berubah adalah janji untuk menghidupkan kembali Pasar Baru.
Dari satu pemerintahan ke pemerintahan berikutnya, kawasan perdagangan yang tumbuh sejak 1820 itu selalu dibicarakan. Trotoar diperbaiki, halte dibenahi, festival digelar, kabel hendak ditertibkan, dan jembatan penyeberangan direncanakan ulang. Status cagar budaya juga telah disematkan.
Namun, semua itu belum menjelma menjadi revitalisasi yang menyatukan bangunan, pedagang, transportasi, ruang publik, sejarah, dan kegiatan ekonomi.
Pada 19 Juni 2025, Gubernur Jakarta Pramono Anung meninjau Pasar Baru. Setelah melihat kawasan itu mulai kehilangan pengunjung, ia menjanjikan penataan besar-besaran. Pasar Baru, katanya, akan menyusul Blok M yang lebih dahulu kembali ramai.
Pemerintah merancang penataan pedestrian, gedung parkir, ornamen kawasan, kebersihan kanal, jaringan transportasi, dan area perdagangan. Pasar Baru juga hendak diarahkan menjadi pusat oleh-oleh khas Jakarta sekaligus destinasi wisata belanja. Rute Transjakarta dari Blok M dan Tebet direncanakan untuk memperkuat akses. Pemprov Jakarta menyatakan penataan akan dilakukan secara serius dan berkelanjutan.
Sebulan kemudian, Pramono mengatakan dana renovasi telah tersedia melalui kerja sama dengan pihak swasta sehingga tidak membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.
“Dananya sudah ada,” katanya pada Juli 2025.
Pernyataan tersebut sempat menumbuhkan harapan bahwa pekerjaan bisa segera dimulai. Namun, penjelasan mengenai nilai pendanaan, identitas mitra, bentuk kerja sama, pembagian pekerjaan, dan jadwal pelaksanaan belum disampaikan secara terperinci kepada publik.
Pada awal Januari 2026, target kembali ditegaskan. Pemerintah Provinsi Jakarta menyebut penataan Pasar Baru, Glodok, Pecinan, dan Kota Tua akan dimulai pada pertengahan 2026.
Namun, pelaksanaannya belum berjalan karena pemerintah masih memusatkan perhatian pada proyek MRT di kawasan Duta Merlin. Revitalisasi Pasar Baru kembali diminta menunggu proyek lain.
Kini, pertengahan 2026 telah lewat. Dalam daftar prioritas pembangunan Jakarta Pusat, penataan Pasar Baru kembali ditempatkan sebagai program 2027.
Janji itu pun kembali berpindah kalender.
***
BUKAN BERARTI pemerintah sama sekali tidak bekerja.
Pada 2019, trotoar di Jalan Dr. Sutomo, Pasar Baru, pernah diperbaiki. Pada periode yang sama, Jembatan Penyeberangan Orang Pasar Baru masuk rencana revitalisasi 11 JPO di Jakarta. Halte Transjakarta Pasar Baru kemudian dibenahi dan kembali beroperasi pada awal 2021.
Pada 2022, langkah penting lain diambil. Pemerintah Jakarta menetapkan ruas Jalan Pasar Baru dan Kanal Ciliwung di sekitarnya sebagai struktur cagar budaya. Sejumlah bangunan, seperti bekas Toko Tio Tek Hong, Toko Kompak, dan Vihara Sin Tek Bio, juga memperoleh perlindungan.
Kompleks Jalan Pasar Baru ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya setelah melalui kajian Tim Ahli Cagar Budaya. Pemerintah menilai kawasan tersebut menyimpan informasi penting mengenai kegiatan manusia, perdagangan, permukiman, dan perkembangan Jakarta pada masa lalu.
Langkah itu memberi landasan hukum bagi pelestarian Pasar Baru. Namun, status cagar budaya tidak otomatis menyelesaikan persoalan.
Pembenahan tetap berjalan sebagai proyek yang terpencar. Trotoar dikerjakan sendiri. Halte ditangani sendiri. Parkir, pedagang kaki lima, kanal, taman, bangunan, promosi wisata, dan kegiatan ekonomi berada di tangan instansi berbeda.
Belum ada satu orkestrasi yang membuat seluruh pekerjaan bergerak dalam arah, jadwal, dan desain kawasan yang sama.
Bambang Eryudhawan, ahli cagar budaya, mengatakan Pasar Baru tidak kekurangan kajian. Kawasan itu justru terlalu lama menunggu pelaksanaan.
“Masalah Pasar Baru ada pada tingkat eksekusi,” katanya dalam wawancara mengenai cagar budaya dan perkembangan Jakarta.
Menurut Bambang, pemerintah tidak harus menunggu rencana induk berskala besar untuk memulai pekerjaan yang kebutuhannya sudah jelas. Trotoar dapat ditertibkan. Fasad lama yang tertutup aluminium bisa dibuka. Kabel dapat dipindahkan. Jembatan dan jalur pejalan kaki dapat diperbaiki.
“Membersihkan trotoar dan membuka fasad bangunan lama tidak membutuhkan rencana induk berskala besar,” ujarnya.
Rencana induk tetap diperlukan untuk menjaga kesatuan pembangunan. Namun, dokumen perencanaan tidak boleh menjadi alasan untuk menunda pekerjaan yang dapat segera dilakukan.
***
BABAK TERBARU perencanaan Pasar Baru dapat ditelusuri dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan Jakarta Pusat pada 21 Maret 2025.
Ketika itu, Wali Kota Jakarta Pusat Arifin menyampaikan bahwa pemerintah akan menyusun kajian pengembangan Pasar Baru, Pecenongan, dan Juanda sepanjang 2025.
Ketiga kawasan dipandang memiliki potensi sebagai destinasi wisata perkotaan. Pasar Baru mempunyai sejarah perdagangan, tekstil, dan keragaman etnis. Pecenongan dikenal dengan kegiatan kulinernya. Juanda menjadi simpul transportasi sekaligus pintu menuju Masjid Istiqlal, Gereja Katedral, Lapangan Banteng, dan Gedung Kesenian Jakarta.
Gagasannya tidak lagi sekadar memperbaiki satu koridor perdagangan. Pemerintah ingin menempatkan Pasar Baru, Pecenongan, dan Juanda sebagai satu kesatuan destinasi.
Rencana itu memperoleh dorongan politik setelah kunjungan Pramono pada Juni 2025. Sebulan kemudian, Dinas Cipta Karya, Tata Ruang, dan Pertanahan Jakarta membahas transformasi Pasar Baru melalui forum “Bicara Kota” pada 29 Juli 2025.
Pendekatan yang dikembangkan bertumpu pada masyarakat, ruang, dan identitas. Revitalisasi tidak hanya dimaknai sebagai perbaikan jalan atau bangunan. Kawasan harus kembali mempunyai kegiatan ekonomi, kehidupan sosial, dan daya tarik bagi generasi baru tanpa kehilangan nilai sejarahnya.
Perencanaan mulai bergerak. Namun, tahapannya masih berada di ruang diskusi. (Bersambung….)