SURAT TERBUKA: TUTUP DAPUR MBG JAGAKARSA 008 CEMARI LINGKUNGAN & BAHAYAKAN KESEHATAN
TUTUP SEGERA SPPG 008 Jagakarsa sesuai pernyataan Badan Gizi Nasional tentang sanksi tegas bagi pelanggar sanitasi.
Hasan sendiri menilai "paling tidak Destry lebih dewasa dan berpengalaman". Di kalangan pasar, sinyal "menginginkan Destry" memang muncul karena pasar menginginkan kontinuitas.
INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: Perdebatan seputar independensi Bank Indonesia kembali menghangat. Ekonom Hasan Zein Mahmud baru-baru ini melontarkan pandangan yang menggelitik: mengurangi independensi BI, bahkan mengembalikannya ke bawah komando pemerintah, "bukan soal besar". Sepanjang kebijakan fiskal dan moneter seirama untuk kesejahteraan rakyat.
Ia menunjuk contoh China. PBOC berada di bawah kendali pemerintah, namun terbukti sukses mengerek pertumbuhan ekonomi, memacu inovasi teknologi, dan meningkatkan kesejahteraan. Dari kacamata ini, masalahnya bukan pada struktur, melainkan pada koordinasi.
Argumen Hasan ada benarnya. Dilema antara pertumbuhan dan stabilitas memang akan selalu ada, baik bank sentral independen maupun tidak. Menurunkan suku bunga misalnya, bukan obat ajaib. Jika kebijakan fiskal berantakan, bunga rendah justru bisa melemahkan rupiah, memicu inflasi, dan memicu capital outflow.
Karena itu kritiknya layak direnungkan: "Perbaiki apa yang perlu diperbaiki". Ia menyorot efisiensi program MBG dan Koperasi Desa Merah Putih. Jika akar masalah ada di fiskal, tidak adil jika moneter terus jadi kambing hitam. "Jadikan satu kewenangan, biar lebih kelihatan mana yang berbulu hitam," ujarnya.
Namun di sisi lain, independensi BI lahir dari pelajaran mahal krisis 1998. Ketika moneter dijadikan alat politik fiskal, hasilnya adalah inflasi tinggi dan runtuhnya kepercayaan. Independensi bukan untuk "melawan" pemerintah, melainkan untuk menjaga kredibilitas. Pasar butuh kepastian bahwa keputusan suku bunga dan nilai tukar tidak didikte kepentingan jangka pendek.
Tiga Nama, Satu Tantangan
Di tengah tarik-menarik ini, Presiden Prabowo belum memutuskan nama calon Gubernur BI definitif pengganti Perry Warjiyo. Mensesneg Prasetyo Hadi menegaskan hal itu pada 30 Juli 2026. Sementara posisi Pj saat ini dipegang Destry Damayanti selaku Deputi Senior.
Beredar 3 nama kuat: Destry Damayanti, Muliaman D. Hadad, dan Aida S. Budiman. Ketiganya punya DNA BI yang kuat.
Destry dikenal sebagai komunikator pasar yang tenang. Pengalaman di LPS, Mandiri, dan 2 periode sebagai Deputi Senior membuatnya paham betul ritme kebijakan. Muliaman punya rekam jejak sebagai arsitek OJK pertama dan Deputi Gubernur BI. Aida adalah teknokrat moneter tulen dengan jam terbang di IMF dan Departemen Kebijakan Ekonomi BI.
Hasan sendiri menilai "paling tidak Destry lebih dewasa dan berpengalaman". Di kalangan pasar, sinyal "menginginkan Destry" memang muncul karena pasar menginginkan kontinuitas.
Yang Dibutuhkan: Sinergi, Bukan Dominasi.
Pada akhirnya, debat "independen vs di bawah pemerintah" bisa jadi debat semu. Yang pasar dan rakyat butuh bukan struktur, tapi hasil: inflasi terkendali, rupiah stabil, pertumbuhan berkualitas.
Model China berhasil karena ada koordinasi fiskal-moneter yang sangat disiplin. Model independen juga berhasil di banyak negara karena ada kepercayaan.
Pelajaran untuk Indonesia: apapun struktur yang dipilih dan siapapun gubernurnya nanti, kuncinya satu. Hentikan saling lempar tanggung jawab. Jika program fiskal seperti MBG dan KDMP memang inefisien, ya perbaiki. Jangan bebani BI dengan target pertumbuhan yang tidak realistis.
Gubernur BI ke depan harus jadi "jembatan", bukan "tembok". Menjaga independensi untuk kredibilitas, sekaligus membangun sinergi erat dengan pemerintah untuk Asta Cita.
Karena pada akhirnya rakyat tidak peduli siapa yang tanda tangan. Rakyat hanya mau tanya: harga beras stabil tidak? Lapangan kerja ada tidak? Rupiah aman tidak?
Itu ujian sesungguhnya bagi Gubernur BI definitif yang akan dipilih.
TUTUP SEGERA SPPG 008 Jagakarsa sesuai pernyataan Badan Gizi Nasional tentang sanksi tegas bagi pelanggar sanitasi.
Semua kegagahan itu runtuh seketika saat foto beredar: Ketum PWI berjabat tangan, tersenyum, berdamai dengan Hotman Paris Hutapea di depan "Godfather politik" Sufmi Dasco Ahmad.
Ini tantangan kita. Di era bunga 6%, siapa yang mau naruh duit di "tabungan emas" yang bunganya 0%? Beranikah bullion bank memberikan bunga pada tabungan emas? Misal 2-3% per tahun.