Ketika Societeit de Harmonie diratakan demi jalan dan tempat parkir, Anhar Setjadibrata—menurut kesaksian keluarganya—berusaha membeli pintu dan bagian-bagian bangunan yang tersisa. Tindakannya menyelamatkan serpihan sejarah Jakarta, sekaligus meninggalkan pertanyaan: ketika ingatan kota masuk ke koleksi pribadi, siapakah yang menjamin asal-usul, perawatan, dan akses publiknya?
Dalam penuturan Lucienne Anhar, ayahnya tidak datang ke Societeit de Harmonie sebagai pejabat kebudayaan, arkeolog, atau kurator museum. Anhar Setjadibrata datang sebagai seorang pengumpul benda lama yang tahu betapa pentingnya nilai cerita dari sebuah bangunan bersejarah.
Ketika kabar pembongkaran beredar, Anhar disebut segera menyewa kantor di seberang gedung itu. Dari sana, ia menyaksikan orang-orang berdatangan: pengepul, pencari barang bekas, dan kolektor yang menginginkan apa pun yang masih dapat dilepaskan sebelum bangunan dihancurkan.
Anhar ikut berebut. Bukan untuk menghentikan buldoser—ia tidak memiliki kuasa sebesar itu—melainkan untuk membeli sebanyak mungkin bagian bangunan yang masih dapat diselamatkan.
“Jadi pintu-pintu ini semua asli dari gedung Societeit de Harmonie,” kata Lucienne dalam wawancara dengan Desi Anwar, seraya menunjuk pintu-pintu yang kini ditempatkan di Harmonie Hall, House of Tugu, Jakarta.
Kesaksian keluarga tersebut belum disertai arsip transaksi yang dapat diperiksa dalam bahan-bahan yang tersedia untuk tulisan ini. Namun, catatan sejarah mengonfirmasi bagian terbesar dari tragedinya: Societeit de Harmonie memang dibongkar pada Maret–April 1985. Pelebaran Jalan Majapahit dan penambahan lahan parkir kantor pemerintah menjadi alasan yang paling sering dicatat.
Sejarawan arsitektur Bambang Eryudhawan, dalam jurnalnya Urban Conservation in Jakarta since 1968, menulis bahwa pembongkaran pada April 1985 dilakukan atas saran para insinyur lalu lintas untuk memperlancar pergerakan dari Kota Tua menuju Jakarta Pusat. Ia menyebut Harmonie sebagai salah satu korban paling menonjol dari pembangunan atas nama kemajuan. Ia mencatat bahwa di lokasi bangunan itu kemudian tersisa jalan, parkir, dan bangunan pelayanan Sekretariat Negara.
Pada akhirnya, pemerintah mendapatkan ruang bagi kendaraan. Jakarta kehilangan sebuah penanda kota yang telah hidup selama 170 tahun.
Anhar mendapatkan pintu-pintunya.
Namun, ia tidak pernah dapat memperoleh kembali gedungnya.
Gedung megah dengan sejarah yang tidak indah
Societeit de Harmonie gedung perkumpulan elite dan tempat pesta dansa bergengsi milik kaum kolonial Eropa yang didirikan di Batavia pada awal abad ke-19
Societeit de Harmonie dibuka secara resmi pada 18 Januari 1815 di sudut jalan yang sekarang bernama Jalan Veteran dan Jalan Majapahit. Bangunan bergaya neoklasik itu dirancang pada masa Herman Willem Daendels dan diselesaikan ketika pemerintahan kolonial berada di bawah Inggris.
Di dalamnya terdapat aula pesta, ruang baca, meja biliar, lantai marmer, lampu kristal, cermin-cermin besar, serta teras yang dikelilingi pintu berkisi. Di sanalah pejabat, pengusaha, diplomat, dan elite Eropa menggelar jamuan, pesta dansa, pertunjukan, serta pertemuan sosial.
Masyarakat pribumi menyebutnya “Rumah Bola” karena gedung megah tersebut memiliki ruangan besar untuk berdansa (ballroom) serta fasilitas utama berupa meja biliar (bola sodok) yang menjadi tempat rekreasi elit Belanda
Tetapi kemegahan Harmonie berdiri di atas batas sosial yang tegas. Pada masa kolonial, tidak semua orang dapat melewati pintunya. Keanggotaan klub terutama diperuntukkan bagi elite Eropa, pejabat, pengusaha, dan sebagian kecil priyayi. Sebagian besar penduduk pribumi hanya dapat melihat bangunan itu dari luar.
Harmonie, dengan demikian, bukan sekadar monumen arsitektur. Ia juga merupakan panggung tempat kelas dan ras menentukan siapa yang boleh duduk di bawah lampu kristal, serta siapa yang harus tetap berada di jalan.
Sesudah kemerdekaan, fungsi sosialnya berubah. Warga Indonesia mulai menggunakan gedung tersebut untuk pesta pernikahan, konser, dan resepsi. Pada 1954, namanya diubah menjadi Djakarta Club—usaha simbolis untuk menjauhkan bangunan itu dari identitas kolonialnya.
Di sinilah pelestarian bangunan kolonial kerap disalahpahami. Menjaga Harmonie tidak berarti merindukan kekuasaan kolonial. Sebuah bangunan dapat dipertahankan justru agar masyarakat melihat ketidakadilan yang pernah berlangsung di dalamnya.
Jika gedung itu masih berdiri, pintu-pintunya dapat digunakan untuk menjelaskan segregasi. Aula pestanya dapat menjadi ruang untuk membicarakan bagaimana elite kolonial membangun kehidupan eksklusif di tengah kemiskinan penduduk. Perubahannya setelah kemerdekaan pun dapat memperlihatkan bagaimana masyarakat Indonesia mengambil alih dan memberikan arti baru kepada ruang warisan penjajah.
Ketika sebuah bangunan dihancurkan, yang hilang bukan hanya keindahannya. Masyarakat juga kehilangan tempat untuk berdebat dengan masa lalu.
Mahasiswa kedokteran, kolektor benda antik
Jauh sebelum peristiwa Harmonie, kebiasaan mengumpulkan benda telah tumbuh dalam diri Anhar.
Pada 1970-an, ketika masih menempuh pendidikan kedokteran, ia bekerja sebagai tenaga pemasaran obat untuk membantu membiayai hidup dan kuliahnya. Pekerjaan itu membawanya berkeliling Jawa dan sejumlah pulau lain. Ia mendatangi dokter-dokter, kota-kota kecil, serta daerah yang jauh dari pusat perdagangan benda seni.
Dalam perjalanan tersebut, menurut cerita keluarga, Anhar melihat perkakas rumah, patung, perabot, tekstil, dan benda ritual lama mulai disingkirkan. Sebagian pemilik menganggapnya usang, tidak praktis, atau tidak lagi cocok bagi kehidupan sebuah negara yang ingin tampil modern.
Anhar mulai mengumpulkan barang antik Indonesia pada 1970-an ketika bekerja sebagai medical representative. Benda-benda yang dipandang ketinggalan zaman itu justru menarik perhatiannya.
Namun, Lucienne mengatakan daya tarik utamanya bukan harga.
“Kita mengoleksi barang antik itu bukan karena value-nya, tapi karena the stories,” ujarnya.
Lucienne Anhar anak dari Anhar Setjadibrata
Dalam perjalanan ke Sumba, Flores, Nias, dan tempat-tempat lain, Anhar mendengarkan cerita dari pemilik benda, tetua kampung, dan orang-orang yang mengetahui penggunaannya. Sebuah benda, dalam pandangannya, tidak berhenti sebagai kayu, logam, atau kain. Ia merupakan pintu menuju kehidupan seseorang, keluarga, komunitas, bahkan suatu zaman.
Koleksi itu semakin besar. Rumah keluarga tidak lagi mampu menampung semuanya. Menurut Lucienne, keadaan tersebut menjadi salah satu awal kelahiran Tugu Malang sekitar 1990. Rencana semula hanyalah membuat penginapan kecil agar benda-benda itu memiliki tempat. Rencana tersebut kemudian berkembang menjadi jaringan hotel yang menjadikan koleksi sejarah sebagai pusat narasi.
“Barang antiknya ini adalah the main storyteller,” kata Lucienne. “Mereka bukan hanya dekorasi.”
Di situlah Anhar berbeda dari pengusaha hotel yang membeli barang lama setelah bangunannya selesai. Dalam proyek-proyek Tugu, benda koleksi justru menentukan ruang yang harus dibangun di sekelilingnya.
Tetapi kecintaan kepada cerita juga membawa tanggung jawab: cerita yang baik harus dapat dibedakan dari legenda, klaim pemasaran, dan fakta yang telah diuji.
Pintu asli, aula baru
Harmonie Hall di House of Tugu bukan Societeit de Harmonie yang dipindahkan secara utuh dari Jalan Majapahit. Gedung aslinya telah hilang.
Ruang tersebut lebih tepat dipahami sebagai interpretasi baru atas Harmonie: sebuah aula yang dibangun pada tempat dan masa berbeda, kemudian diisi dengan bagian-bagian yang, menurut kesaksian keluarga Anhar, berasal dari gedung lama.
Perbedaan itu penting.
Jika tidak dijelaskan, pengunjung dapat mengira sedang berdiri di dalam bangunan asli. Padahal, yang mereka masuki adalah sebuah panggung ingatan—campuran antara komponen lama, ruang baru, dokumentasi, penuturan keluarga, dan imajinasi kuratorial.
Di salah satu bagian ruang itu terdapat sejumlah kunci berukuran besar. Lucienne menceritakan sebuah kisah keluarga: ketika Harmonie diresmikan, Thomas Stamford Raffles disebut membawa sekitar 80 kunci, lalu membuangnya ke Sungai Ciliwung sebagai lambang bahwa pintu gedung tersebut tidak akan pernah ditutup. Keluarga Tugu mengaku mengumpulkan lebih dari 60 kunci itu selama bertahun-tahun.
Kisah tersebut memikat. Kunci-kunci yang dibuang ke sungai, lalu muncul kembali hampir dua abad kemudian, memiliki kekuatan sebuah legenda.
Namun, sejauh bahan yang tersedia untuk tulisan ini, belum ditemukan arsip independen yang membuktikan peristiwa pembuangan maupun perjalanan setiap kunci hingga masuk ke koleksi. Karena itu, ia lebih bertanggung jawab disebut sebagai sejarah lisan atau cerita keluarga—bukan fakta final.
Kehati-hatian semacam ini bukan untuk menghilangkan pesonanya. Sebaliknya, label yang jujur membuat pengunjung memahami lapisan pengetahuan yang sedang mereka hadapi:
* Mana yang merupakan komponen asli? * Mana yang merupakan rekonstruksi? * Mana yang didukung dokumen? * Mana yang berasal dari ingatan keluarga? * Mana yang masih berupa legenda dan memerlukan penelitian?
Museum yang matang tidak takut mengatakan, “Kami belum tahu.” Ketidakpastian pun dapat menjadi pintu masuk bagi penelitian baru.
Kisah Anhar mudah dibaca sebagai cerita kepahlawanan: ketika pemerintah menghancurkan bangunan, seorang warga menyelamatkan bagian-bagiannya.
Pembacaan itu tidak sepenuhnya salah. Tanpa seseorang yang bersedia mengeluarkan uang, waktu, tenaga, dan ruang penyimpanan, pintu-pintu Harmonie mungkin berakhir sebagai kayu bekas atau hilang sama sekali.
Akan tetapi, penyelamatan benda budaya tidak berakhir pada tindakan membawa benda keluar dari puing. Ia harus dilanjutkan dengan pencatatan.
Dalam dunia museum, istilah pentingnya adalah provenans: riwayat asal-usul dan perpindahan kepemilikan sebuah benda. Provenans menjawab dari mana benda berasal, siapa yang pernah memilikinya, bagaimana benda itu diperoleh, dan apakah pemindahannya dilakukan secara sah.
Pedoman etika International Council of Museums menempatkan asal-usul, uji kelayakan, dokumentasi, keamanan, konservasi, serta keabsahan perolehan sebagai bagian dari standar minimum pengelolaan koleksi. Sementara itu, Konvensi UNESCO 1970 menekankan pentingnya inventaris, pencatatan asal benda, dan pencegahan perdagangan ilegal benda budaya.
House of Tugu adalah hotel dengan koleksi pribadi—bukan otomatis museum dalam pengertian kelembagaan dan hukum. Meski demikian, ketika sebuah tempat menampilkan benda sebagai sumber pengetahuan sejarah, standar museum tetap relevan sebagai tolok ukur etis.
Untuk pintu-pintu Harmonie, misalnya, dokumentasi ideal sekurang-kurangnya memuat foto ketika masih terpasang, lokasi pintu pada bangunan asal, catatan pembongkaran, bukti transaksi, kondisi saat ditemukan, bahan, ukuran, riwayat restorasi, dan hasil pemeriksaan ahli.
Untuk benda-benda lain, pertanyaannya bisa lebih rumit. Apakah benda itu dibeli dari pemilik yang sah? Apakah pernah menjadi bagian dari tempat ibadah atau komunitas adat? Apakah ada ahli independen yang memeriksa usia dan keasliannya? Apakah keluarga atau masyarakat asal mengetahui bahwa benda tersebut kini dipamerkan?
Tulisan ini tidak memiliki cukup data untuk menilai satu per satu koleksi House of Tugu. Ketiadaan katalog lengkap dalam sumber yang kami telusuri juga tidak membuktikan bahwa pengelola tidak mempunyai dokumentasi internal.
Justru karena koleksinya penting, membuka katalog secara bertahap akan memperkuat kerja Anhar. Basis data digital, audit provenans, laporan konservasi, akses bagi peneliti, serta label yang membedakan benda asli, reproduksi, rekonstruksi, dan sejarah lisan akan mengubah kekaguman menjadi pengetahuan yang dapat diuji.
Transparansi bukan ancaman bagi kolektor. Transparansi adalah cara membuat penyelamatan bertahan lebih lama daripada usia penyelamatnya.
Sejarah masuk di ruang privat
Pembongkaran Harmonie memperlihatkan ironi kebijakan Jakarta.
Program konservasi perkotaan telah dirintis sejak 1968 pada masa Gubernur Ali Sadikin. Kawasan Kota Tua mulai diperhatikan dan sejumlah bangunan dialihfungsikan menjadi museum. Namun, kurang dari dua dekade kemudian, salah satu gedung bersejarah paling penting di pusat kota tetap dapat dikalahkan oleh kepentingan lalu lintas dan parkir.
Melangkah ke masa lalu di House of Tugu Jakarta, tempat di mana setiap sudut menyimpan cerita dan seni jiwa Indonesia.
Negara sebenarnya telah mengetahui nilai sejarah kota. Yang gagal adalah konsistensi untuk mempertahankannya ketika berhadapan dengan tuntutan pembangunan.
Dalam wawancara, Lucienne menyebut pemerintah daerah dan kementerian kini memberikan dukungan kepada House of Tugu. Fakta itu perlu dicatat agar kritik tidak berubah menjadi tuduhan bahwa tidak pernah ada kerja sama pemerintah.
Masalahnya lebih mendasar: dukungan yang datang sekarang tidak dapat membangun kembali Harmonie yang telah hilang pada 1985.
Ketika lembaga publik terlambat, warga dan pelaku swasta mengambil peran. Mereka membeli rumah tua, memulihkan bangunan, mengumpulkan artefak, membiayai perawatan, lalu membukanya melalui hotel, restoran, galeri, atau museum pribadi.
Tanpa modal swasta, banyak benda mungkin lenyap.
Namun, ketika memori publik bergantung kepada kepemilikan privat, muncul persoalan baru. Akses dapat mengikuti jam operasional dan kepentingan bisnis. Penelitian bergantung pada izin pemilik. Arah penafsiran ditentukan oleh kurator internal. Kelangsungan koleksi bergantung kepada pewarisan, kondisi keuangan, dan keputusan generasi berikutnya.
Karena itu, pilihan yang tersedia bukan negara atau swasta.
Keduanya harus bekerja bersama, dengan pembagian tanggung jawab yang jelas. Pemerintah dapat membantu registrasi, penelitian, konservasi, dan digitalisasi. Perguruan tinggi dapat menguji klaim sejarah. Komunitas asal dapat dilibatkan untuk menjelaskan makna benda. Pemilik menyediakan akses dan dokumentasi. Museum publik dapat membuat pameran bersama atau menerima pinjaman jangka panjang.
Peran swasta tidak seharusnya menjadi alasan bagi negara untuk mundur. Sebaliknya, kerja swasta harus menjadi pengingat tentang ruang kosong yang belum diisi negara.
Kini, pintu-pintu yang disebut berasal dari Harmonie kembali membuka sebuah ruangan.
Tamu melewatinya untuk menghadiri makan malam, pertunjukan, resepsi, atau sekadar melihat masa lalu yang disusun di dalam House of Tugu. Tidak semua dari mereka mengetahui bahwa pintu tersebut pernah menjadi bagian dari bangunan yang bahkan namanya kini lebih dikenal sebagai halte dan persimpangan.
Ada sesuatu yang mengharukan sekaligus ganjil di sana.
Pintunya selamat, tetapi ruang asalnya hilang. Kayunya dapat dipindahkan, tetapi konteks kotanya tidak. Ia menjadi saksi yang kehilangan tempat kejadian.
Tindakan Anhar mungkin telah menyelamatkan serpihan sejarah. Namun, kisah tersebut bukan kemenangan penuh. Ia adalah peringatan mengenai harga yang harus dibayar ketika sebuah kota baru menyadari nilai warisannya setelah buldoser bekerja.
Jakarta tidak seharusnya menggantungkan ingatannya kepada keberuntungan bahwa, pada saat sebuah bangunan dihancurkan, kebetulan ada seorang kolektor berdiri di seberang jalan.
Pertanyaan untuk masa depan bukan hanya benda apa yang berhasil diselamatkan Anhar.
Pertanyaan yang lebih mendesak adalah: mengapa keselamatan sejarah sebuah kota pernah harus bergantung kepada satu orang? (Bersambung…)
Celoteh ini panjang. Ajakannya satu: mari perbaiki disiplin fiskal. Sekarang. Jika tidak, kita akan bernasib seperti Jepang. Terjebak antara menaikkan bunga dan membunuh pertumbuhan, atau membiarkan mata uang melemah dan mengimpor inflasi.
Di tepi Kali Besar, sebuah kompleks tua yang pernah menyerupai hutan belantara perlahan diubah menjadi hotel dan ruang sejarah. House of Tugu memperlihatkan bahwa bangunan lama dapat diselamatkan melalui fungsi baru. Namun, keberhasilannya juga melahirkan pertanyaan: mengapa ingatan kota harus menunggu ketekunan seorang kolektor?
Di salah satu ruangan House of Tugu, nama Kapitan Nie Hoe Kong diabadikan pada sebuah plakat besar. Di balik benda itu tersimpan sejarah tentang kemakmuran gula, pembantaian ribuan orang Tionghoa pada 1740, dan identitas Peranakan yang berulang kali dipaksa bersembunyi.