• Tue, Aug 2026

Avtur Belum Berdampak Pada Laporan Keuangan Kuartal I, Ujian Garuda Indonesia Dimulai pada Kuartal II 2026

Avtur Belum Berdampak Pada Laporan Keuangan Kuartal I, Ujian Garuda Indonesia Dimulai pada Kuartal II 2026

Biaya bahan bakar Garuda Indonesia justru turun pada tiga bulan pertama 2026. Dampak konflik Timur Tengah dan pelemahan rupiah diperkirakan baru terlihat dalam laporan kuartal II, ketika ruang perseroan menyerap kenaikan biaya masih terbatas.

INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: Laporan keuangan kuartal I 2026 menunjukkan tanda-tanda pemulihan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Pendapatan meningkat, beban usaha menurun, jumlah penumpang bertambah, dan kerugian menyusut.

Namun, laporan tersebut belum sepenuhnya menangkap tekanan terbaru dari kenaikan harga avtur, konflik geopolitik di Timur Tengah, dan pelemahan nilai tukar rupiah. Ujian sesungguhnya terhadap daya tahan pemulihan Garuda diperkirakan baru terlihat dalam laporan kuartal II atau semester I 2026.

Pada kuartal I 2026, biaya bahan bakar Garuda justru turun menjadi sekitar US$224,74 juta dari US$233,42 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunannya mencapai US$8,68 juta atau sekitar 3,7%.

Angka itu menunjukkan lonjakan harga energi akibat perkembangan terbaru konflik Timur Tengah belum tercermin secara penuh dalam laporan tiga bulan pertama 2026.

Hingga 9 Agustus 2026, laporan keuangan semester I Garuda disebut masih dalam proses audit. Karena itu, belum tersedia angka resmi yang dapat menunjukkan seberapa besar kenaikan harga avtur dan volatilitas rupiah menekan biaya serta arus kas perseroan sepanjang kuartal II.

Managing Director Finance Danantara Asset Management Sahala Situmorang sebelumnya menyebut konflik Amerika Serikat-Iran dan pelemahan rupiah sebagai dua faktor yang menekan arus kas Garuda.

“Namun yang pasti, kami ada di sana untuk mendukung Garuda,” ujar Sahala di Jakarta, Kamis, 23 April 2026.

Danantara juga melakukan stress test untuk mengukur kemampuan BUMN menghadapi skenario terburuk dari kenaikan harga energi, gejolak nilai tukar, gangguan rantai pasok, dan penurunan permintaan.

Bahan bakar mencapai 31,5% beban usaha

Biaya bahan bakar memiliki pengaruh besar terhadap kinerja Garuda. Pada kuartal I 2026, beban bahan bakar sekitar US$224,74 juta setara 31,5% dari total beban usaha perseroan yang mencapai US$713,22 juta.

Besarnya porsi tersebut membuat perubahan harga avtur dapat langsung memengaruhi margin penerbangan.

Sebagai ilustrasi aritmetis, kenaikan biaya bahan bakar sebesar 10% dari posisi kuartal I dapat menambah beban sekitar US$22,47 juta per kuartal apabila konsumsi, kapasitas, dan faktor lainnya tetap. Perhitungan sederhana ini bukan proyeksi resmi dan belum memperhitungkan lindung nilai, perubahan volume penerbangan, maupun negosiasi harga pasokan.

Namun, ilustrasi tersebut memperlihatkan tipisnya ruang Garuda dalam menyerap gejolak avtur. Pada kuartal I 2026, selisih antara pendapatan dan beban usaha perseroan hanya sekitar US$49,13 juta.

Kenaikan biaya bahan bakar US$22,47 juta berpotensi menghabiskan hampir separuh ruang tersebut jika tidak diimbangi kenaikan pendapatan atau efisiensi pada pos lain.

Pada saat yang sama, Garuda masih menanggung beban keuangan sekitar US$104 juta. Nilainya lebih dari dua kali selisih pendapatan dan beban usaha.

Artinya, sebelum menghadapi kenaikan avtur sekalipun, hasil operasional Garuda belum cukup untuk menutup biaya pembiayaan. Tambahan tekanan bahan bakar berpotensi memperlambat penurunan kerugian yang mulai terjadi pada awal tahun.

Pemulihan awal masih rapuh

Pendapatan Garuda pada kuartal I 2026 naik 5,36% menjadi US$762,35 juta dari US$723,56 juta. Sementara itu, beban usaha turun tipis dari US$718,36 juta menjadi US$713,22 juta.

Perbaikan tersebut membuat selisih pendapatan dan beban usaha meningkat dari US$5,20 juta menjadi US$49,13 juta.

Kerugian yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk menyusut menjadi US$41,62 juta dari sekitar US$75,93 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Adapun rugi konsolidasian periode berjalan tercatat sekitar US$46,48 juta.

Kinerja operasional juga menunjukkan pemulihan. Garuda Group melayani sekitar 5,42 juta penumpang, naik 6,76% secara tahunan. Frekuensi penerbangan bertambah 5,87% menjadi 19.337 penerbangan.

Tingkat ketepatan waktu membaik dari 87,93% menjadi 91,01%. Jumlah pesawat siap operasi di tingkat grup juga dilaporkan meningkat menjadi 102 unit.

Perbaikan tersebut menjadi modal awal menghadapi kuartal berikutnya. Namun, bertambahnya jumlah pesawat dan frekuensi juga berarti kebutuhan bahan bakar akan meningkat jika seluruh kapasitas tambahan benar-benar dioperasikan.

Karena itu, Garuda harus memastikan kenaikan kapasitas diikuti tingkat keterisian kursi dan pendapatan per penumpang yang memadai. Menambah penerbangan ketika avtur mahal tanpa disiplin profitabilitas rute justru berisiko memperbesar konsumsi kas.

Rupiah memperbesar tekanan

Selain harga avtur, Garuda menghadapi ketidaksesuaian mata uang antara pendapatan dan biaya. Sebagian besar pendapatan penerbangan domestik diterima dalam rupiah, sedangkan bahan bakar, sewa pesawat, pemeliharaan, suku cadang, dan kewajiban pembiayaan banyak menggunakan dolar AS.

Pelemahan rupiah dapat meningkatkan nilai biaya dalam laporan keuangan, sekalipun harga barang atau jasa dalam dolar AS tidak berubah.

Dampak kurs juga tidak hanya terlihat dalam pos keuntungan atau kerugian selisih kurs. Pengaruh tidak langsung dapat muncul melalui kenaikan biaya bahan bakar, pemeliharaan, sewa, dan pembayaran kewajiban dalam valuta asing.

Dalam laporan keuangan 2025, dampak langsung selisih kurs memang relatif lebih kecil dibandingkan penurunan pendapatan dan beban keuangan. Garuda mencatat rugi selisih kurs sekitar US$1,2 juta, setelah pada 2024 memperoleh keuntungan kurs sekitar US$18 juta.

Namun, laporan tersebut belum menjelaskan secara sederhana kepada publik seberapa besar tambahan biaya yang harus ditanggung Garuda untuk setiap pelemahan rupiah sebesar 1%.

Pengungkapan sensitivitas tersebut penting agar investor dapat membedakan dampak langsung kurs dalam laporan laba-rugi dan dampak tidak langsung terhadap biaya operasional.

Tarif tidak mudah dinaikkan

Kemampuan Garuda meneruskan kenaikan biaya kepada penumpang relatif terbatas, terutama untuk penerbangan domestik. Harga tiket masih harus mengikuti tarif batas atas yang ditetapkan pemerintah.

Penerapan fuel surcharge juga tidak dapat dilakukan secara sepihak. Maskapai harus mengikuti ketentuan dan persetujuan regulator.

Kebijakan tarif tersebut penting untuk menjaga keterjangkauan harga tiket bagi masyarakat. Namun, dari sisi maskapai, pembatasan tarif mengurangi fleksibilitas dalam merespons kenaikan avtur dan pelemahan rupiah.

Garuda harus mencari keseimbangan antara menjaga keterjangkauan tiket dan mempertahankan kelayakan ekonomi setiap penerbangan. Perseroan tidak dapat hanya mengandalkan kenaikan tarif sebagai jalan keluar.

Pendapatan dari layanan tambahan menjadi semakin penting. Bagasi tambahan, pemilihan kursi, makanan, layanan prioritas, kerja sama perjalanan, kargo, dan pendapatan non-tiket dapat membantu meningkatkan pendapatan per penumpang.

Garuda juga perlu mengevaluasi rute yang memiliki tingkat keterisian tinggi tetapi menghasilkan margin rendah akibat tarif murah dan biaya operasional besar.

Garuda siapkan mitigasi

Manajemen Garuda menyatakan telah menyiapkan beberapa langkah untuk menghadapi volatilitas avtur dan nilai tukar.

Langkah itu meliputi penyesuaian jaringan dan kapasitas berdasarkan profitabilitas rute, peningkatan utilisasi pesawat, penerapan profil penerbangan yang lebih hemat bahan bakar, pengendalian biaya, serta peningkatan pendapatan tambahan.

Efisiensi profil penerbangan dapat dilakukan melalui pengaturan kecepatan, ketinggian, bobot, rute, dan waktu penggunaan mesin di darat. Meski terlihat kecil pada setiap penerbangan, penghematan tersebut dapat menjadi signifikan ketika diterapkan pada ribuan penerbangan.

Manajemen juga harus menjaga produktivitas armada. Pesawat yang telah selesai menjalani perawatan perlu segera ditempatkan pada rute yang mampu menghasilkan arus kas.

Garuda Group menargetkan memiliki 118 pesawat siap operasi pada akhir 2026, terdiri atas 68 pesawat Garuda dan 50 pesawat Citilink. Dibandingkan posisi kuartal I sebanyak 102 pesawat, terdapat target penambahan sedikitnya 16 pesawat.

Target tersebut dapat memperkuat kapasitas dan pendapatan. Namun, di tengah harga avtur yang bergejolak, keberhasilannya harus diukur dari laba dan arus kas setiap pesawat, bukan hanya jumlah armada yang kembali terbang.

Laporan kuartal II menjadi pembuktian

Laporan kuartal II atau semester I 2026 akan menjadi pembuktian pertama terhadap efektivitas stress test Danantara dan strategi mitigasi Garuda.

Setidaknya terdapat tujuh indikator yang perlu dicermati, yakni biaya bahan bakar, biaya per kursi, pendapatan per penumpang, tingkat keterisian, beban keuangan, arus kas operasi, dan jumlah pesawat siap operasi.

Investor juga perlu memperhatikan apakah pertumbuhan pendapatan masih mampu melampaui kenaikan beban usaha. Jika pendapatan tumbuh tetapi biaya bahan bakar naik lebih cepat, perbaikan margin kuartal I dapat berbalik.

Posisi modal Garuda juga relatif tipis. Ekuitas perseroan turun dari US$91,91 juta pada akhir Desember 2025 menjadi US$68,25 juta pada akhir Maret 2026.

Dengan liabilitas sekitar US$7,43 miliar dan aset US$7,5 miliar, Garuda memiliki ruang terbatas untuk menanggung kerugian besar secara terus-menerus meski telah menerima tambahan modal Rp23,67 triliun.

Konflik dan pelemahan rupiah bukan penyebab utama kerugian Garuda sepanjang 2025 karena eskalasinya terjadi setelah periode pelaporan. Namun, keduanya dapat menjadi faktor yang menentukan apakah pemulihan awal 2026 mampu dipertahankan.

Kuartal I menunjukkan Garuda mulai bergerak ke arah yang lebih baik. Kuartal II akan menunjukkan apakah perbaikan itu cukup kuat menghadapi harga avtur yang lebih tinggi, rupiah yang melemah, dan beban keuangan yang belum ringan.