Isardas melewati hampir satu abad perdagangan di Pasar Baru. Ia tumbuh dari jaringan saudagar Sindhi, menjual pakaian sebelum menjahit jas, lalu diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Api pernah menghanguskan tokonya. Sejarahnya tidak ikut terbakar.
Api keluar dari lantai dua sebuah toko di Pasar Baru, Jakarta Pusat, menjelang petang, 27 Februari 2018.
Orang-orang berlarian. Asap mengepul di antara bangunan yang berhimpitan. Mobil pemadam datang silih berganti. Sebanyak 27 unit dikerahkan. Sekitar pukul 17.30, api berhasil dikuasai.
Tidak ada korban jiwa. Namun bangunan dua lantai itu hangus.
Namanya Isardas.
Sehari kemudian, orang masih berdatangan. Mereka tidak hendak membeli kain. Sebagian hanya berdiri di depan puing, melihat sesuatu yang pernah menjadi bagian dari hidup mereka.
The Jakarta Post ketika itu menemui Juliana, seorang nenek dengan empat cucu. Ia mengenang jas yang dibelinya di Isardas untuk suaminya setelah lelaki itu mendapat pekerjaan pada 1961.
Sebuah jas rupanya dapat menyimpan lebih dari kain dan benang.
Ia menandai pekerjaan baru. Ia menemani perkawinan. Ia merekam kenaikan kelas sosial. Pada masa ketika pakaian resmi mempunyai bobot lebih besar dalam kehidupan kota, sepotong jas ikut membangun rasa percaya diri seorang lelaki.
Surat kabar itu menyebut Isardas telah berdiri sejak 1929.
TIm penulis buku sejarah pasar baru dan Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Pusat sedang mewawancarai Haresh Hiro Isardas
Delapan tahun setelah kebakaran, pada 24 Agustus 2026, tim penulis buku sejarah pasar baru dari Yayasan Jakarta Weltevreden, serta didampingi oleh Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Pusat, Haresh Isardas duduk menceritakan kembali sejarah keluarganya.
Ia tidak membawa katalog perusahaan yang tersusun rapi.
Tidak ada buku besar yang mencatat silsilah keluarga sejak halaman pertama. Cerita keluar melalui ingatan: nama kakek, ayah, pakaian lama, cangkir, gelas, surat, foto, sampai benda yang masih ia cari.
“Sebelum 1929 saya terus terang tidak tahu,” katanya.
Kalimat itu justru penting. Haresh tahu batas ingatan. Ia mewarisi toko. Ia juga menerima cerita keluarga. Keduanya tidak selalu sama.
Datang Membawa Kain
Ketika Isardas muncul di Pasar Baru pada 1929, kawasan itu telah berumur lebih dari satu abad.
Passer Baroe tumbuh setelah pusat Batavia bergerak ke selatan. Weltevreden berkembang menjadi kawasan pemerintahan, permukiman, tempat hiburan, dan kehidupan masyarakat Eropa. Pasar Baru kemudian menjadi salah satu pusat perdagangan penting di wilayah tersebut.
Pedagang Tionghoa telah lebih dahulu mengisi kawasan. Kemudian datang pedagang India. Namun menyebut mereka hanya sebagai “orang India” terlalu sederhana.
Achmad Sunjayadi, dosen sejarah Universitas Indonesia, menunjukkan bahwa masyarakat India di Hindia Belanda datang dari latar yang beragam. Arsip kolonial mengenal istilah Sikh, Tamil, Klingalese, sampai British Indisch. Mereka bekerja sebagai buruh, petani, penjaga, pedagang, penghibur, sampai penjahit.
Sebagian Tamil bekerja di perkebunan Sumatera. Orang Sikh bergerak melalui jaringan Asia Tenggara. Sebagian datang ke Batavia melalui negeri-negeri Melayu. Ada yang bekerja sebagai penjaga perusahaan Inggris atau menjaga toko milik sesama orang India.
Kelompok Sindhi dan Punjabi mengambil jalur berbeda. Mereka banyak bergerak dalam perdagangan.
Hira Jhamtani, sebagaimana dikutip Sunjayadi, mencatat Sindhi dan Punjabi menempati kawasan perdagangan Pasar Baru. Mereka berbagi ruang niaga dengan masyarakat Tionghoa yang lebih dahulu berada di sana.
Di dalam arus itulah nama Isardas muncul.
Sunjayadi menyebut Isardas sebagai salah satu toko tekstil dan penjahit terkenal di Pasar Baru yang berdiri sejak 1929. Ia juga mencatat nama Manuma Isardas, leluhur keluarga yang berasal dari komunitas Sindhi dan merantau ke Indonesia. Pada kawasan yang sama terdapat toko India lain seperti Hariom, Gehimal, Bombay, dan Lilaram.
Informasi itu membuat sejarah Isardas menjadi lebih terang. Toko tersebut bukan usaha yang muncul sendirian. Ia tumbuh dalam ekosistem diaspora.
Para pendatang membawa keluarga. Mereka membawa modal. Mereka juga membawa pengetahuan mengenai kain, harga, ukuran, pemasok, mutu barang, dan cara membaca pembeli.
Pasar Baru mempertemukan semua unsur itu. Barang berpindah. Bahasa bercampur. Reputasi tumbuh dari mulut ke mulut.
Haresh menyebut keluarganya mempunyai hubungan dengan Hyderabad dan Bombay, kini Mumbai. Ingatan keluarga juga mengarah ke Singapura dan tempat-tempat lain. Sebagian cerita belum mempunyai dokumen.
Namun satu nama masih ia ingat dengan jelas: Bombay M. Isardas.
“Dulu sebenarnya bukan hanya Isardas. Ada Bombay Isardas,” katanya.
Haresh pernah melihat dokumentasi lama yang menampilkan nama Bombay M. Isardas beserta nomor toko. Nama itu penting.
Bombay pada masa itu bukan sekadar alamat geografis. Ia membawa citra perdagangan India. Ia juga menandai sebuah jaringan.
Di kawasan seperti Pasar Baru, identitas asal dapat berubah menjadi modal dagang. Nama India di papan toko memberi petunjuk tentang barang, jaringan pemasok, bahkan keahlian tertentu.
Identitas kemudian diterjemahkan ke dalam etalase. Pasar Baru menjadi tempat manusia menjadikan asal-usul sebagai bagian dari perdagangan.
Sebelum Ada Meteran Penjahit
Hari ini, orang mudah menghubungkan Isardas dengan tailor. Haresh justru mengingat permulaan yang berbeda.
“Pertama itu bukan tailor,” katanya. Keluarga menjual pakaian jadi dan perlengkapan sandang.
Ada kaus kaki tebal. Ada sarung tangan. Ada kaca mata baca dan kaca pembesar. Barang-barang tertentu datang melalui Singapura.
Pakaian pria mendominasi.
Haresh masih melihat beberapa model lama ketika kecil pada 1980-an. Salah satunya berupa pakaian luar panjang yang menyerupai mantel, tetapi lebih tipis.
Ia mengingat pakaian itu pernah dipajang pada manekin di bagian belakang toko.
Bagian dalam memakai katun hitam polos dengan kerah Shanghai. Lapisan luarnya menyerupai *overcoat*. Warnanya gelap: hitam, abu-abu, hijau tua.
Pada 1980-an, barang itu hampir kehilangan pembeli. Isardas kemudian bergerak ke jasa jahit.
Menurut sejarah keluarga yang disampaikan Haresh, usaha tailor mulai berkembang sekitar 1938–1940 dan semakin ramai sesudah 1940-an.
Keluarga Isardas ternyata masuk ke sebuah profesi yang mempunyai jejak panjang dalam diaspora India.
Sunjayadi menemukan sejumlah foto kolonial penjahit India dari akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Ada penjahit di Boyan, Batam, lalu Padang, dan Medan.
Potret pria Keliling pembuat pakaian di Bojan Batam abad 20 (Dok: Kompas.id Jejak Masyarakat India di Hindia Belanda)
Salah satu foto memperlihatkan seorang lelaki berjanggut memegang kain. Sebuah meteran menggantung di lehernya.
Foto itu dibuat beberapa dasawarsa sebelum Isardas mulai menjahit di Pasar Baru. Artinya, profesi tailor bukan barang baru yang tiba bersama keluarga Isardas.
Keahlian itu sudah bergerak bersama sebagian diaspora India. Isardas kemudian mengembangkannya di tempat yang tepat.
Pasar Baru dikelilingi pusat pemerintahan, lingkungan permukiman Eropa, gedung pertunjukan, gereja, kantor, dan kegiatan kota. Orang membutuhkan pakaian. Pedagang menyediakan kain. Penjahit mengubahnya menjadi busana.
Isardas berdiri di antara kebutuhan itu. Perubahan dari pedagang pakaian menjadi tailor kelak menentukan umur usaha.
Kain dapat dibeli di banyak tempat. Namun bahu seseorang tidak sama dengan bahu orang lain. Panjang lengan berbeda. Lingkar pinggang berubah. Cara jas jatuh di badan bergantung pada tangan yang mengukurnya.
Pelanggan membeli kepercayaan. Hubungan itu bisa bertahan lebih lama daripada kain.
Empat Generasi, Satu Nama
Haresh menyebut dirinya generasi keempat. Ia menyusun nama keluarga dari ingatan. Ada pendahulu keluarga, M. Isardas, ayahnya Hiro, lalu dirinya.
“Saya generasi keempat, sudah menurunkan kepada anak saya generasi keempat” katanya.
Tulisan Achmad Sunjayadi menyebut Manuma Isardas sebagai leluhur keluarga Sindhi yang merantau ke Indonesia.
Bisnis keluarga mempunyai persoalan yang berbeda dari perusahaan biasa. Ia bukan hanya harus mendapat untung, tapi juga menemukan penerus.
Setiap generasi harus mempunyai seseorang yang bersedia membuka toko pada pagi hari, memeriksa stok, menghadapi pelanggan, dan menerima nama keluarga sebagai tanggung jawab usaha.
Banyak toko tidak lolos dari ujian itu. Bangunan tetap berdiri, tetapi pemilik berganti. Nama tetap dipasang, tetapi keluarganya pergi. Usaha hilang karena anak-anak memilih kehidupan lain.
Isardas bertahan.
Haresh sendiri membedakan empat hal ketika membicarakan toko lama di Pasar Baru: usia merek, lama usaha berada di kawasan, umur bangunan, dan kesinambungan keluarga.
Keempatnya tidak sama. Bangunan tua belum tentu menyimpan usaha tua. Merek lama belum tentu lama berada di Pasar Baru. Sebuah keluarga juga bisa bertahan sambil mengganti bidang usaha. Sejarah membutuhkan silsilah, bukan sekadar fasad yang tampak tua.
Arsip di Dalam Lemari
Haresh mempunyai arsip yang tidak seluruhnya berupa kertas. Ada gelas, cangkir, satu set peralatan makan.
Beberapa memakai merek Isardas. Sebagian dibuat di Jepang. Haresh menduga beberapa berasal dari 1930-an sampai 1950-an.
Ia menyimpannya di rumah.
“Saya masih ada gelas-gelas yang dari tahun 30-an,” katanya. “Cangkir merek Isardas, gelas merek Isardas, dish set ada.”
Ada pula surat-surat lama. Sebagian berasal dari sekitar 1940-an atau setelah kemerdekaan. Beberapa memiliki cap administrasi.
Ada foto dan tas milik kakeknya yang belum berhasil ia temukan. Kebakaran 2018 menunjukkan betapa mudah seluruh bukti itu hilang.
Haresh pernah mendengar kisah mengenai kakeknya dan Sukarno. Ia mengingat adanya foto, tetapi belum berhasil menemukannya.
Ada pula cerita keluarga yang menyeret leluhur sampai Titanic. Haresh menghentikannya sendiri.
“Ini kita nggak bisa cerita yang dimasukin publikasi. Karena buktinya nggak ada,” katanya.
Kalimat itu lebih penting daripada legenda Titanic. Ia menunjukkan cara Haresh memandang sejarah keluarganya.
Isardas menarik bukan karena ia harus dinobatkan sebagai toko paling tua. Nilainya terletak pada kemampuan sebuah usaha keluarga merekam perubahan kota.
Ketika toko itu berdiri pada 1929, masyarakat India hidup di bawah struktur kolonial yang menempatkan mereka sebagai vreemde oosterlingen, atau Timur Asing.
Kategori hukum itu membedakan mereka dari orang Eropa dan bumiputra. Namun kehidupan sehari-hari jauh lebih cair daripada klasifikasi pemerintah.
Di Pasar Baru, orang bertemu karena urusan yang sangat praktis. Pedagang Tionghoa, India, Eropa, dan penduduk lokal akhirnya berbagi ruang ekonomi.
Sindhi dan Punjabi memperkuat perdagangan tekstil. Pedagang Tionghoa sudah mempunyai jaringan panjang. Pembeli Eropa membawa selera sendiri. Penduduk lokal memilih, mengubah, dan memakai semua pengaruh itu sesuai kebutuhan.
Barang menjadi perantara. Pasar Baru bekerja seperti pelabuhan tanpa laut.
Kapal berlabuh di tempat lain. Namun barang dari Bombay, Singapura, Jepang, Eropa, atau kota-kota Asia lain menemukan pembelinya di etalase Pasar Baru.
Kebakaran 2018 memutus hubungan Isardas dengan sebagian benda fisiknya.
Bangunan dua lantai hangus. Sebagian arsip dan barang hilang. Orang-orang datang melihat puing karena mereka mengenali toko itu sebagai bagian dari kehidupan sendiri.
Namun Isardas kembali.
Pada Agustus 2026, Haresh masih berbicara tentang kain, pelanggan, pemasok, tailor, dan Pasar Baru.
Ia masih mengingat pakaian hitam yang tergantung ketika ia kecil, menyimpan cangkir, dan mencari tas kakeknya.
Ia juga masih mencoba mengurutkan siapa datang lebih dulu dalam keluarganya. Nama Manuma muncul dari sumber sejarah. Nama Bombay M. Isardas muncul dalam ingatannya.
Hitungan generasi bahkan belum sepenuhnya bertemu. Sejarah keluarga memang jarang hadir dalam satu bundel dokumen yang sudah selesai. Ia harus dirakit.
Isardas telah melewati pemerintahan kolonial, pendudukan Jepang, revolusi, republik, perubahan rezim, krisis ekonomi, kebakaran, dan kemudian perdagangan digital.
Semua bermula dari tindakan yang jauh lebih sederhana. Sebuah keluarga datang. Mereka membuka toko. Mereka menjual pakaian dan kain.
Lalu mereka belajar mengukur tubuh orang Jakarta. Pasar Baru berubah.
Model pakaian berganti. Nama Bombay menghilang dari papan toko. Generasi lama menyerahkan kunci kepada penerusnya. Nama Isardas tetap ada.
Di sebuah kota yang cepat membongkar gedung dan lebih cepat lagi melupakan penghuninya, umur toko tidak lagi sekadar soal berapa lama pintunya terbuka.
Ia menunjukkan siapa yang datang. Siapa yang bertahan. Dan bagaimana para pendatang akhirnya ikut menjahit sejarah Jakarta.
Di pasar reguler, saham GOTO hari ini diperdagangkan di Rp50. Di pasar nego, bisik-bisiknya sudah tembus Rp20. Angka itu bukan sekadar angka. Itu cerminan luka, harapan, dan ketakutan investor terhadap "anak emas" ekosistem digital Indonesia.
Nabilah Aboebakar Alhabsyi meluncurkan SahabatIn. Ia membawa isu inklusi keluar dari acara seremoni. Pesannya lugas: penyandang disabilitas dan kelompok rentan tidak cukup dibantu. Mereka harus didengar, dilibatkan, dan punya akses untuk berdaya.
House of Tugu dipulihkan melalui perjalanan panjang. Ia menjadi simbol kebangkitan Kota Tua. Pemerintah hadir melalui regulasi, pengawasan, promosi, dan insentif. Namun, mengapa penyelamatan bangunan bersejarah masih lebih dahulu dipikul pemilik swasta?