• Mon, Aug 2026

House of Tugu: Penantian Dua Dekade "The Forbidden House of Batavia" (Bagian 1)

House of Tugu: Penantian Dua Dekade "The Forbidden House of Batavia" (Bagian 1)

Di tepi Kali Besar, sebuah kompleks tua yang pernah menyerupai hutan belantara perlahan diubah menjadi hotel dan ruang sejarah. House of Tugu memperlihatkan bahwa bangunan lama dapat diselamatkan melalui fungsi baru. Namun, keberhasilannya juga melahirkan pertanyaan: mengapa ingatan kota harus menunggu ketekunan seorang kolektor?

Pintu kayu itu tidak langsung mengantarkan tamu menuju meja penerima. Begitu daun pintunya terbuka, House of Tugu lebih dahulu mempertemukan pengunjung dengan air.

Sebuah kolam memanjang di ruang depan. Di sekelilingnya berdiri patung, relief, pintu berukir, lukisan Batavia, serta perabot yang tampak telah melewati beberapa generasi. Suara kendaraan dari Jalan Kali Besar Barat perlahan tertinggal di belakang.

Beberapa langkah kemudian, pengunjung berhadapan dengan sebuah perahu kayu berkepala macan. Ukurannya besar, beratnya menurut pengelola mencapai lebih dari satu ton. Label dan penuturan pihak hotel menyebut perahu itu dibuat pada 1648 untuk sebuah upacara pembukaan kanal yang menghubungkan Ciliwung dan Kali Macan atau Tijgersgracht.

Perahu itu tidak diletakkan sekadar untuk memperindah lobi. Ia menjadi pernyataan pertama tentang cara House of Tugu bekerja: benda-benda lama tidak ditempatkan sebagai latar, melainkan sebagai pembawa cerita.

Di tempat ini, orang dapat menginap, makan, mengadakan rapat, atau sekadar datang melihat-lihat. Namun, di balik fungsi komersialnya, House of Tugu ingin membuat pengunjung merasa sedang memasuki lapisan-lapisan sejarah Jakarta.

Hotel ini berdiri di Jalan Kali Besar Barat Nomor 26, Roa Malaka, Tambora, Jakarta Barat. Dari balkon kamar-kamarnya, pengunjung dapat melihat Kali Besar, deretan bangunan lama, serta denyut kawasan yang dahulu menjadi pusat perdagangan Batavia.

Hari ini, pintu rumah itu terbuka. Padahal, selama bertahun-tahun, tempat ini dikenal melalui sebuah julukan yang justru menandakan ketertutupan: The Forbidden House of Batavia*—Rumah Terlarang Batavia.

 

Rumah yang Dikelilingi Tembok

Menurut cerita yang diwariskan pengelola, kompleks ini pernah dimiliki seorang saudagar Tionghoa yang kaya tetapi sangat tertutup. Rumahnya dikelilingi tembok dan tidak sembarang orang boleh masuk. Dari situlah sebutan rumah terlarang muncul.

Sejarah kompleks ini tidak sederhana. Pemprov DKI Jakarta, ketika menjadikan House of Tugu sebagai titik awal napak tilas menuju lima abad Jakarta pada 31 Desember 2024, menyebut bangunan tersebut berasal dari 1740.

Namun, situs resmi Tugu menjelaskan bahwa banyak cerita keluarga dan artefak di dalamnya berkaitan dengan pertengahan abad ke-19. Kompleks yang terlihat hari ini pun merupakan gabungan beberapa bangunan, unsur arsitektur lama, ruang rekonstruksi, benda yang dipindahkan dari tempat lain, serta fasilitas modern.

Karena itu, menyebut seluruh House of Tugu sebagai satu bangunan utuh dari 1740 dapat menyederhanakan sejarahnya. Usia setiap struktur, perubahan bentuk, dan perjalanan kepemilikannya perlu dibaca melalui penelitian arsitektur, peta lama, akta tanah, foto, serta arsip pemugaran.

Yang lebih jelas adalah kondisi bangunan ketika Anhar Setjadibrata menemukannya.

Dalam wawancara bersama Desi Anwar, putrinya, Lucienne Anhar, menggambarkan tempat itu seperti hutan belantara. Atapnya telah rusak. Pohon-pohon tua tumbuh menembus ruang dan menyatu dengan bagian bangunan.

“Sudah benar-benar seperti hutan belantara. Atapnya sudah hancur dan seluruh bangunannya ditumbuhi pohon-pohon,” tutur Lucienne.

Anhar tidak memilih membersihkan semuanya. Beberapa batang dan akar yang telah menyatu dengan bangunan justru dipertahankan. Struktur baru menyesuaikan diri dengan keberadaan pohon-pohon tersebut. Sebagian batang yang telah mati diawetkan dan menjadi elemen ruang.

Di salah satu restoran, batang-batang besar tampak menjalar menuju langit-langit. Bangunan seolah tumbuh mengelilinginya.

Keputusan itu memperlihatkan cara Anhar memandang pemugaran. Baginya, kerusakan dan perubahan yang telah terjadi bukan semuanya gangguan yang harus dihapus. Sebagian telah menjadi lapisan perjalanan bangunan.

Pembangunan yang Menolak Tergesa-gesa

Berapa lama House of Tugu dikerjakan? Jawabannya berbeda, tergantung titik awal yang digunakan.

Situs resmi Tugu menyebut proses penciptaannya berlangsung sekitar 15 tahun. Lucienne dalam wawancara mengatakan ayahnya mengerjakan kompleks ini selama lebih dari 20 tahun. Dokumentasi internasional juga menggunakan rentang sekitar dua dekade.

Perbedaan tersebut kemungkinan muncul karena proses memperoleh bangunan, mengumpulkan material, merancang, memugar, dan menyiapkan operasional tidak dimulai pada waktu yang sama. Namun, seluruh keterangan itu bertemu pada satu kesimpulan: House of Tugu bukan proyek yang diselesaikan dalam satu atau dua tahun.

Dalam bisnis perhotelan, waktu adalah biaya. Semakin lama pembangunan, semakin lama pula modal tidak menghasilkan pendapatan. Hotel biasanya dirancang dengan proyeksi keterisian kamar, tarif, masa pengembalian investasi, dan tenggat konstruksi.

Keluarga Tugu mengaku tidak menempatkan perhitungan itu sebagai tujuan pertama.

Menurut Lucienne, Anhar bahkan pernah mengatakan bahwa kompleks tersebut tidak akan dibuka sebelum setiap bagian dianggap selesai. Pengerjaan berjalan perlahan, mengikuti ketersediaan benda, material, tenaga, dan gagasan.

“Kalau orang usaha perhotelan, biasanya pembangunan harus selesai dalam setahun dan investasi segera kembali,” katanya. “Itu tidak pernah menjadi misi utama kami.”

Sikap seperti itu terdengar romantis. Namun, ia juga hanya mungkin dilakukan ketika pemilik mempunyai modal, aset, dan kemampuan menunggu. Ketekunan pribadi dapat menyelamatkan bangunan, tetapi model semacam ini sulit direplikasi oleh pemilik bangunan tua yang sumber dayanya terbatas.

Di sinilah House of Tugu memberikan pelajaran sekaligus memperlihatkan keterbatasan. Pelestarian membutuhkan kesabaran, tetapi kesabaran tanpa dukungan pembiayaan, insentif, dan kepastian izin akan menjadi kemewahan yang hanya dimiliki segelintir orang.

Kolektor yang Lebih Tertarik pada Cerita

Kisah House of Tugu tidak dapat dipisahkan dari perjalanan Anhar Setjadibrata sebagai kolektor.

Ketika masih muda, ia pernah bersekolah kedokteran dan bekerja menjual obat. Pekerjaan itu membawanya bepergian ke berbagai daerah. Dalam perjalanan tersebut, ia melihat benda-benda lama dibuang, dijual, atau dianggap tidak lagi berguna.

Ia kemudian mengumpulkannya.

Perjalanan itu berlangsung puluhan tahun. Koleksinya datang dari rumah keluarga, kampung, toko barang antik, gudang, peninggalan kerabat, hingga benda yang disebut ditemukan dari kapal karam. Sebagian diperoleh dari keluarga sendiri, termasuk cerita mengenai Oei Tiong Ham dan Raden Ajeng Kasinem.

“Kami mengoleksi barang antik bukan karena nilainya, tetapi karena ceritanya,” ujar Lucienne.

Pada 1990-an, koleksi Anhar telah memenuhi rumah. Dari persoalan ruang itulah Hotel Tugu Malang bermula. Rencana awalnya sederhana: membuat tempat kecil agar koleksi dapat dipajang dan ia mempunyai ruang untuk mengumpulkan benda lain.

Rencana itu berkembang menjadi jaringan hotel dan restoran di Malang, Blitar, Bali, Lombok, dan Jakarta. Setiap tempat tidak dibuat seragam. Masing-masing dirancang untuk menceritakan bab berbeda dari sejarah Indonesia.

Di House of Tugu Jakarta, benda-benda tersebut memenuhi lorong, ruang makan, kamar, dan ruang pertemuan. Ada ruangan untuk Kapitan Nie Hoe Kong, Raden Saleh, Soekarno, Charlie Chaplin, Oei Tiong Ham, dan Raden Ajeng Kasinem.

Sebuah kamar menampilkan perabot dan perlengkapan yang dikaitkan dengan Oei Tiong Ham, saudagar yang dikenal sebagai “raja gula” Asia. Ruang Soekarno berisi foto, buku, pakaian, dan memorabilia presiden pertama Indonesia. Di ruang Raden Saleh terdapat meja yang disebut pernah digunakan sang pelukis serta sebuah koper yang dikaitkan dengan pengasingan Pangeran Diponegoro.

Semakin besar klaim sejarah sebuah benda, semakin besar pula kebutuhan untuk membuktikannya.

Di sinilah pengalaman visual harus bertemu disiplin museum: siapa pemilik terdahulu, kapan benda diperoleh, melalui transaksi atau warisan apa, siapa yang mengautentikasi, bagaimana umurnya ditentukan, serta bagaimana benda itu dirawat.

Tanpa katalog ilmiah dan dokumen asal-usul yang dapat diperiksa, cerita mudah berubah menjadi legenda. Legenda dapat memikat pengunjung, tetapi pelestarian sejarah membutuhkan lapisan pembuktian yang lebih kuat.

Karena itu, pekerjaan House of Tugu sesungguhnya belum berakhir ketika pintu hotel dibuka. Tantangan berikutnya adalah mengubah koleksi keluarga menjadi pengetahuan yang dapat diuji, dipelajari, dan diwariskan.

Bukan Pemugaran Murni

House of Tugu bukan mesin waktu yang mempertahankan seluruh bangunan dalam keadaan asli. Tempat ini lebih tepat dilihat sebagai montase sejarah.

Ada struktur lama yang dipertahankan. Ada bagian yang dipulihkan. Ada ruang yang dibangun kembali berdasarkan inspirasi bangunan lain. Ada pula unsur arsitektur yang diselamatkan dari tempat berbeda lalu dipasang di kompleks ini.

Salah satu contohnya adalah ruang Societeit de Harmonie. Gedung aslinya pernah berdiri di kawasan yang kini masih disebut Harmoni, Jakarta Pusat. Pemerintah membongkarnya pada 1985 untuk pelebaran Jalan Majapahit dan penambahan area parkir.

House of Tugu3


Menurut Lucienne, ketika kabar pembongkaran muncul, Anhar menyewa tempat di seberang gedung. Ia berusaha memperoleh pintu, kunci, dan benda lain sebelum semuanya hilang bersama puing.

Di House of Tugu, ingatan tentang Societeit de Harmonie kemudian dibangun kembali. Ruang itu bukan gedung Harmonie asli, melainkan interpretasi baru yang memanfaatkan sebagian benda dan unsur arsitektur yang dikaitkan dengan bangunan lama.

Perbedaan tersebut penting. Dalam konservasi, kejujuran mengenai bagian asli, hasil pemugaran, rekonstruksi, dan penambahan baru menentukan kualitas pemahaman publik.

ICOMOS menempatkan dokumentasi, analisis struktur, perlindungan material asli, dan kehati-hatian terhadap perubahan sebagai prinsip penting konservasi arsitektur. Sementara itu, UNESCO memandang penggunaan kembali bangunan lama sebagai alternatif terhadap pembongkaran, sekaligus cara mengurangi kebutuhan energi dan material baru.

Fungsi baru memang dapat menyelamatkan bangunan tua. Hotel, restoran, kantor, atau ruang budaya memberi pemasukan untuk perawatan. Bangunan yang digunakan setiap hari juga lebih mudah diawasi dibandingkan bangunan kosong.

Namun, fungsi baru tidak boleh menghapus nilai penting bangunan. Keindahan visual bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Pertanyaan utamanya adalah: bagian apa yang dipertahankan, bagian apa yang berubah, dan apakah perubahan tersebut menghormati sejarah tempatnya?

Sejarah di Balik Pintu Komersial

House of Tugu menyebut dirinya bukan semata-mata hotel, melainkan ruang untuk menghidupkan sejarah, seni, dan budaya Indonesia. Restorannya terbuka untuk umum. Sejumlah ruang dapat digunakan untuk makan, rapat, pameran, atau acara budaya.

Tetapi sebagian besar pengalaman tetap berada di dalam properti komersial. Kamar-kamarnya dipasarkan sebagai penginapan kelas atas. Beberapa ruang hanya dapat dimasuki tamu atau peserta kegiatan tertentu.

Dari sinilah muncul pertanyaan tentang akses.

Jika koleksinya memiliki arti penting bagi sejarah Jakarta dan Indonesia, seberapa luas masyarakat dapat melihatnya? Apakah pelajar dapat berkunjung tanpa harus makan atau menginap? Apakah peneliti bisa memeriksa koleksi dan dokumennya? Apakah tersedia katalog, kurator profesional, program pendidikan, serta penjelasan yang membedakan fakta, interpretasi, dan sejarah keluarga?

Pertanyaan itu tidak mengurangi jasa pemilik. Justru, semakin besar peran House of Tugu dalam pelestarian, semakin besar pula tanggung jawabnya kepada publik.

Bangunan tua membutuhkan uang agar tetap berdiri. Di sisi lain, sejarah tidak boleh berhenti sebagai kemewahan yang hanya dapat dinikmati oleh mereka yang mampu membayar.

House of Tugu berdiri di antara dua kepentingan tersebut. Ia menunjukkan bahwa usaha komersial dapat menjadi kendaraan pelestarian. Namun, ia juga mengingatkan bahwa ketika sejarah masuk ke dalam hotel, batas antara ruang publik dan ruang privat menjadi semakin tipis.

Ketika Sebuah Rumah Kembali Bernapas

Menjelang sore, cahaya dari Kali Besar masuk melalui pintu dan jendela. Ukiran kayu memantulkan warna keemasan. Air di kolam kembali tenang setelah rombongan pengunjung berlalu.

Sulit membayangkan bahwa ruang-ruang itu pernah kehilangan atap dan dipenuhi pohon liar.

House of Tugu dapat berdiri hari ini karena seseorang bersedia menunggu belasan hingga puluhan tahun. Anhar tidak hanya memperbaiki dinding. Ia mengisi bangunan dengan benda, cerita, dan tafsir atas Indonesia yang ingin ia wariskan.

Namun, sebuah kota tidak dapat menggantungkan penyelamatan sejarahnya pada kebetulan hadirnya seorang kolektor yang cukup tekun dan cukup mampu.

Di luar pintu House of Tugu, masih terdapat bangunan tua yang gelap, kosong, dan menunggu fungsi. Sebagian mungkin tidak memiliki pemilik dengan modal besar. Sebagian lain terhambat sengketa, biaya pemugaran, perizinan, atau ketidakjelasan insentif.

House of Tugu telah kembali bernapas. Pertanyaan yang tertinggal adalah berapa banyak rumah sejarah lain yang masih harus menunggu.

Di ruang depan, plakat Kapitan Nie Hoe Kong menggantung dengan berat hampir seratus kilogram. Dari benda itu, cerita House of Tugu bergerak menuju bab yang lebih kelam—ketika harga gula jatuh, ketegangan meningkat, dan darah ribuan orang Tionghoa mengalir di Batavia.

Sejarah rumah ini ternyata tidak bermula dari kamar-kamar mewah. Ia bermula dari gula dan luka sebuah kota. (Bersambung…..)